October 29, 2020
Ulasan

Mengolah Wabah Corona jadi Tembang Bali Pelipur Sepi

Salah satu pencegahan yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 adalah social distancing atau psyhical distancing yang keduanya mengharuskan setiap orang saling menjaga jarak. Segala aktivitas yang melibatkan orang banyak dihindari atau tidak dibolehkan. Kita di Indonesia dianjurkan berdiam di rumah. Di tengah ketercenungan pengisolasian diri ini, selain kita kembali tertegun mendengar kicauan burung liar, desah semilir angin menerpa dedauanan, dan ringkik jangrik di sela semak, beruntung kita masih dapat mendengar lantunan tembang.

Beragam jenis pupuh dapat kita simak keindahannya. Ada kumandang pupuh durma yang bernuasa menegangkan. Merintih tembang pilu dari pupuh semarandana. Mengalun pula elusan lembut watak kasih sayang pupuh ginanti. Seperti dikomando, kumandang beragam temang sekar alit itu semuanya bertutur tentang wabah penyakit pandemi corona. Selain itu, pun tidak hanya dengan olah vokal tradisional tembang saja, tema Covid-19 juga diekspresikan dengan ungkapan seni modern seperti lagu pop, dangdut, lawak, dan ada pula dalam pangejawantahan seni animasi.

Untuk menyimak semua itu, kita tinggal buka situs web berbagi video You Tube di telepon pintar atau di media internet digital laptop, tablet, dan PC (Personal Computer). Dalam situs web yang memungkinkan penggunanya mengunggah, menonton, dan berbagi video itu, belakangan, kalau kita berselancar mencari topik Covid-19 yang sedang menguncang dunia ini, akan banyak dipergoki kreativitas seni unggahan semeton Bali. Kelengkapan aplikasi video yang ditanamkan pada HP pintar yang intim berada dalam genggaman masyarakat pada umumnya ini, memberikan peluang mudah dan gampang memediasosialkan segala sesuatu dan segala tetek bengek, dari yang fakta hingga hoak.

Akan tetapi, sejauh ini, bunga rampai ekspresi seni, khususnya seni olah vokal tembang yang diunggah di You Tube tersebut, tampaknya merupakan bentuk kepedulian, simpati dan empati atas keperihatinan yang sedang dihadapi masyarakat Bali. Simaklah video berdurasi enam menit yang berjudul “Merana Karena Corona”. Karya seni yang diunggah tanggal 10 April ini dibawakan oleh sepasang muda-muda lewat pupuh durma dalam sajian pesatian berpasangan. “Gumi gering antuk merana corona”, lantun si perempuan dengan bait pembukanya. Ditimpali elaborasi kontektual oleh si pria dalam bahasa Indonesia, “Dunia sedang berduka, dicengkeram wabah penyakit virus corona yang mematikan. Masyarakat Jawa menyebut malapetaka ini pageblug, sedangkan di Bali dikenal dengan istilah grubug. Sejarah mencatat, kehidupan manusia di bumi, sejak lampau telah berkali-kali diluluhlantakkan oleh teror penyakit mengerikan.”

Sementara itu pengunggah video sepasang ibu dan bapak yang berasal dari Jembrana tampil dengan gaya rumahan, santai sembari majejahitan sarana bebantenan. “Gering agung manibenin, akeh panjak sane pejah”, buka dua bait lantunan si ibu menggunakan pupuh semarandana yang berwatak nelangsa. Si bapak memberikan pemaparan dalam bahasa Bali yang pada intinya sangat merasa takut dengan prahara yang sedang mewabah dan bersedih atas begitu banyaknya manusia menemui ajal dalam waktu singkat. Pupuh semarandana cilinaya yang memiliki cengkok nestapa khas Bali Barat ini, bila videonya diikuti sampai usai, sungguh menyentuh relung kalbu, mengiris kepedihan sanubari.

Empati dan kegundahan hati atas wabah corona ini juga diungkapkan dalam video seorang dara belia Desa Mundeh Kangin, Tabanan, melalui tembang pupuh pucung. “Keneh inguh ngenehang gumine ratu,” tutur sang dara mengawali lantunannya dengan liukan nyanyian yang sederhana dan polos. Menembang secara tunggal menggunakan kebaya kuning, disampaikan kegelisahannya terhadap ancaman virus corona. Pesan moral tembang ini mengharap corona segera berlalu dan ketenteraman dapat direguk kembali. Dalam teater Arja yang berkisah dengan sekar alit, pupuh pucung memang biasanya digunakan untuk berdiolog atau bernarasi sebagai ilustrasi suasana kejiwaan yang damai.

Masih ramai dijumpai sejumlah video di You Tube dengan topik corona melalui ungkapan tembang. Ada yang hadir dalam kemampuan menembang yang bersahaja dan terdapat pula penembang sekar alit yang piawai. Demikian pula pengambilan dan kualitas visualnya, ada yang apik dan banyak yang ala kadarnya. Hal ini juga tampak pada video dalam ungkapan lagu modern pop dan dangdut. Namun demikian, semua ungguhan video itu mengundang haru dan rasa kebersamaan, senasib dalam melawan wabah Covid-19. Bahkan dalam kesedihan ini, kita diajak melipur lara, agar tak larut digerogoti paranoid akut yang menggerus ketenteraman hati. [B]

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, staf pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tinggal di Sukawati, Gianyar.
E-mail: ksuartaya@gmail.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *