January 22, 2021
Kreasi

Julie Taymore: Kultur Bali Jangan Berubah

Bali yang masih kental dengan adat dan budayanya masih sangat menarik dijadikan inspirasi dalam menciptakan karya seni. Seluruh elemen kehidupan di Pulau Sorga ini masih berjalan seimbang. Konsep hidup harmoni antara manusia dengan alamnya, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya masih terasa kental. “Saya berharap kultur Bali tidak berubah dari segala sisi,” kata Julie Taymore, seniman kelas dunia saat memberi kuliah umum kepada para dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kamis 2 Januari 2020.

Sutradara teater dan film kenamaan dari New York, Amerika Serikat ini berharap kultur Bali tetap bisa bertahan karena sangat unik. Ia kemudian menceritakan, perjalannya kemarin dikawasan Ubud. “Saya sebenarnya takut dan khawatir melihat perubahan sentuhan modern yang terjadi setelah lama tidak ke Bali. Tetapi, saya bersyukur, kekhawatiran itu tidak terbukti. Bali masih seimbang, masyarakatnya tetap ramah, kulturnya terjaga di tengah gempuran modernisasi,” ucap pelaku seni yang puluhan tahun mengenal Bali itu.

Lalu, terkait dengan kuliah umum, wanita yang namanya melejit lewat karya ‘Lion King’ itu menolak jika kegiatannya itu disebut sebagai kuliah umum. Kedatangannya hanya berbagi pengalaman dengan seluruh Civitas ISI Denpasar. “Saya hanya berbagi pengalaman. Tidak lucu jika saya disebut memberi kuliah yang materinya juga budaya Indonesia,” celetuknya.

Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S. Kar., M.Hum disela-sela kegiatan tersebut mengatakan, selain sebagai sarana ‘sharing knowledge’, kegiatan ini juga sebagai upaya mempersiapkan akreditasi internasional institusi. Pengalaman Julie-sapaan akrab Julie Traymore-sebagai seniman kelas dunia diharapkan memacu kreativitas dan inovasi Civitas ISI Denpasar dalam berkarya. Dengan demikian, atmosfer akademik bernuansa international tumbuh di kampus seni itu.

Kehadiran Julie yang berbagi pengalaman di ISI Denpasar sebagai kado istimewa mengawali tahun 2020. “Kami mengawali tahun 2020 dengan kegiatan international. Poin pentingnya, sebagai langkah kami menuju akreditasi internasional. Apalagi yang datang adalah Julie. Tak ada yang meragukan kemampuannya. Julie, pada 20 tajhun silam pernah berkunjung ke ISI Denpasar yang ketika itu bernama ASTI,” paparnya.

Prof. Dr. I Wayan Dibia, ST., MA, yang mendampingi Julie menyebutkan, Julie ditemani partnernya Elliot Goldental, seorang komposer ternama, datang ke ISI Denpasar berbagi pengalaman dengan warga kampus. Julie secara kreatif menggunakan unsur-unsur budaya Indonesia, terutama Jawa dan Bali, ke dalam karya-karyanya. “Julie adalah seorang seniman multitalenta. Seniman yang sudah menghasilkan sederetan karya-karya monumental, seperti Lion King, Tempest, Midnight Summer Dream, dan masih banyak lainnya,” beber Prof. Dibia.

Selain sebagai seorang sutradara teater dan film, Julie juga pembuat topeng dan wayang, seorang pematung, seorang perancang kostum, seorang seniman animator, dan sebagainya. Julie berbagi pengalaman terkait dengan kreatifnya menggunakan unsur budaya Indonesia. Hal itu untuk mengingatkan warga kampus ISI Denpasar akan betapa pentingnya para kreator seni untuk membekali diri dengan unsur-unsur budaya tradisional yang ada di sekitarnya. “Dengan keberanian kreatif serta kecerdasan estetik yang tinggi, Julie Taymor mampu mengolah unsur-unsur budaya tradisional dari manapun asalnya, untuk melahirkan karya-karya baru berkelas dunia,” pungkasnya. (AD/Ar)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *