November 26, 2021
Kreasi

Bulan Bahasa Bali, Gubernur Koster Nyurat Lontar Bersama 2020 Peserta

Gubernur Bali I Wayan Koster membuka Bulan Bahasa Bali 2020 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Provinsi Bali, Sabtu (1/2). Pembukaan yang ditandai dengan pemukulan kentongan itu dimeriahkan dengan sesolahan Sendratari berjudul Prabu Aji Saka persembahan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Sendratari ini memaparkan awal mula lahirnya aksara Bali. Usai pementasan itu, dilanjutkan dengan Utsawa (festival) nyurat aksara Bali yang diikuti 2020 peserta.

Pemandangan menjadi sangat menarik, ketika Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Gubernur (Wagub) Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan Ketua DPRD Bali I Nyoman Adi Wiryatama dengan didampingi istri masing-masing, ikut serta “nyurat”, menuliskan aksara Bali di atas daun lontar, berbaur dengan 2020 peserta, terdiri dari pelajar dan mahasiswa. Tak ketinggalan, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra dan anggota DPD RI Made Mangku Pastika juga turut “nyurat” lontar.

Gubernur Koster mengatakan, Bulan Bahasa Bali ini sebagai pelaksanan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No. 80 Tahun 2018 tentang pelindungan dan penggunaan bahasa, aksara dan sastra Bali serta penyelengaraan Bulan Bahasa Bali. “Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ini merupakan upaya kita bersama untuk menjaga, melestarikan, dan memajukan aksara, bahasa, dan sastra Bali,” kata Gubernur Koster.

Daslam “nyurat” itu, mengenai isi salah satu bait dalam Kekawin Nitisastra dengan menggunakan pengrupak (pisau khusus untuk menulis di atas daun lontar-red). “Kecintaan generasi muda terhadap aksara Bali semakin tinggi. Buktinya tahun ini jumlah pesertanya meningkat. Tahun lalu pesertanya 1.000 dan sekarang karena tahun 2020, ada 2.020 peserta yang ikut nyurat lontar,” ucapnya.

Pihaknya mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Festival Nyurat Lontar Massal serangkaian Bulan Bahasa Bali tersebut, karena menjadi salah satu upaya menarik minat generasi muda untuk menggeluti aksara Bali yang terkesan kian ditinggalkan. “Pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali menjadi kekuatan dari kebudayaan Bali yang kita sokong secara bersama-sama, agar Bali kuat menghadapi dunia yang semakin modern,” ujarnya.

Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng itupun mengajak masyarakat Pulau Dewata untuk tidak bosan-bosan berbahasa Bali, jangan lupa berbahasa Bali, dan terus berbahasa Bali. “Belajar bahasa Inggris perlu, belajar bahasa Jepang perlu, belajar bahasa China perlu, belajar bahasa Bali lebih penting lagi. Tidak boleh ikut arus zaman, tetapi dengan meninggalkan peradaban budaya Bali,” imbuhnya.

Dengan melestarikan, bahasa, aksara dan sastra Bali, dapat sebagai upaya untuk mengembalikan Bali sebagai Padma Buana atau pusat peradaban dunia.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan “Kun” Adnyana mengatakan kegiatan Bulan Bahasa Bali tahun ini dilaksanakan selama sebulan penuh yakni dari 1-27 Februari 2020. Sedangkan pada tahun sebelumnya hanya empat kali, saat itu dakan setiap pekan ada satu kegiatan.

“Kami memastikan semua kegiatan Bulan Bahasa Bali berhubungan dengan tema Atma Kertih, kalau tahun lalu masih belum dibingkai dengan tema. Sajian sendratari hingga isian lomba tahun ini juga terkait dengan tema. Yang masif juga dari sisi peserta nyurat lontar dari 1.000 menjadi 2.020, yakni identik dengan angka tahun,” ucapnya.

Penataan dekorasi dan suasana yang dibangun selama Bulan Bahasa Bali, lanjut Kun Adnyana, juga untuk memasyarakatkan bagaimana menjadikan bahasa, aksara dan sastra Bali sebagai gaya hidup. “Bisa trendi karena kita paham bahasa, juga menjadi populer karena kita memahami bahasa, aksara dan sastra Bali, termasuk punya kemampuan unggul di bidang itu,” ucapnya.

Kun Adnyana menambahkan, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali merupakan implementasi dari Pergub No 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Selain dimeriahkan dengan Festival Nyurat Lontar Massal, dalam sebulan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali juga diisi dengan 5 widyatula (seminar dan diskusi), 17 wimbakara (lomba), 14 sesolahan (pergelaran), 15 peserta prasara (pameran) dan 3 kriyaloka (workshop).

Di samping itu, lanjut Kun Adnyana, juga disiapkan pelayanan secara cuma-cuma pengalihaksaraan huruf latin ke aksara Bali bagi sebagai implementasi Pergub 80/2018, hingga pelayanan pengobatan berdasarkan usada Bali dan sebagainya. “Pada acara penutupan, Bapak Gubernur akan menyerahkan penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama kepada satu tokoh atau penggiat yang memang telah memiliki reputasi luar biasa di bidang pengembangan bahasa, aksara dan sastra Bali,” ucap Kun Adnyana yang juga akademisi ISI Denpasar itu. (B/*)

Related Posts