November 26, 2021
Gagasan

“Megandu” di Areal Persawahan Museum Subak Tabanan

Ketika tali ditarik, anak-anak yang lain bersorak kemudian berlari mencuri telor-telor yang ada di bawah turus (kayu) tempat tali itu diikat. Anak si penarik tali, juga berlari berusaha mendekati dan menlilit anak si pencuri telor dengan talinya. Anak-anak si pencuri itu tentu tidak rela, mereka melakukan berbagai cara menghindar dengan cerdik. Walau terkadang jatuh di lumpur sawah, mereka tetap saja terhindar dari sentuhan tali si penarik. Telor pun habis dicuri. Si penarik tali pasrah, lalu jongkok menutupi mukanya. Anak-anak si pencuri telor lalu melemparinya dengan telor, seraya berseru, gandu….!

Itulah permainan tradisional “Megandu” yang dilakukan oleh anak-anak Sanggar Buratwangi Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan di areal persawahan milik Museum Subak Tabanan pada Rabu, 26 Agustus 2020 lalu. Kegiatan sebagai program belajar bersama di Museum Subak ini, disamping memperkenalkan permainan Megandu yang keberadaanya hampir punah, juga sebagai upaya Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) mengkomunikasikan benda-benda koleksi Museum Subak kepada generasi muda, khususnya. Maka, dalam permainan ini juga mengundang Sekaa Teruna Desa Sanggulan untuk ikut terlibat.


“Megandu” di Areal Persawahan Museum Subak Tabanan


Benar saja, ajang tersebut menjadi media pembelajaran khususnya dalam mengenal permainan tradisional serta mengetahui berbagai hal yang ada di subak. Setelah anak-anak Sanggar Buratwangi itu bermain dengan senang gembira, mereka lalu berbagai kegembiraan dengan mengajak para penonton, khususnya anak-anak dan sekaa teruna untuk ikut bermain bersama. Awalnya, sih malu-malu karena merasa belum mengerti, tetapi setelah dipandu dan dilatih dengan detail, mereka lalu beramai-ramai untuk bisa dilibatkan. Saking membludaknya peserta, Permainan Megandu kemudian dibagi menjadi dua grup.

Pemain pemula tidak langsung diajak bermain, melainkan diawali dengan proses membuat telor dengan bahan jerami. Pemain yang baru bergabung diajak mencari jerami, lalu membentuk seperti bola (telor) dan mengikat dengan tali tiing (bamboo) atau tali kupas (dahan pisang). Lalu mencari sebatang kayu yang ada di areal sawah, lalu ditancapkan di tengah-tengah sawah. Di ujung atas kayu diikatkan tali kupas (tali dari pelepah pisang). Masing-masing anak, lalu menyetor satu telor untuk ditaruh pada tiang. Setelah itu, baru menentukan satu anak sebagai si pencari dengan melakukan jamprit.

Anak yang bertugas mencari lalu mengencangkan tali selanjutnya berlari berputar mengeliling kayu itu dan berusaha melilitkan pada anak-anak lain. Anak-anak lain berusaha mengambil bola dan tak boleh terkena tali. Dua grup permaianan itu berlangsung seru, mereka bermain dengan akrab, walau sebelumnya tak saling kenal. Permaianan Megandu mengandung nilai pendidikan etika dan sopan santun. Dengan penuh semangat mereka bermain dengan saling menghormati teman sepermainnya. Mereka tidak arogan meski terbilang anak yang umurnya paling tua atau badannya lebih besar.


“Megandu” di Areal Persawahan Museum Subak Tabanan


Meski sianar matahari telah menunjukan waktu sore, namun pata peserta dalam dua grup ini tidak merasa capek ataupun lelah. Mereka terus saja bermain dengan mentaati aturan yang ada. walau dengan berat hati, panitia lalu menghentikan permainan itu, karena hari sudah mulai sore. Walau hanya berlangsung beberapa jam, proses belajar bersama yang digelar Museum Subak berlangsung dengan baik dan lancar. Anak-anak dapat bermain juga mengenal berbagai hal yang ada di alam agraris di daerah tempat mereka tinggal.

Kepala UPTD Museum Subak Ida Ayu Pawitrani mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk belajar bersama dengan cara menampilkan permainan tradisional Megandu. Permainan Megandu adalah permainan tradisi daerah agraris yang akan didaftarkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Sebelum didaftarkan, kini tengah dilakukan kajian dengan melibatkan berbagai unsur. “Kami melibatkan anak-anak Sanggar Buratwangi Banjar Ole, daerah asal permainan itu dan sekaa teruna dari Desa Sanggulan untuk mulai menyearluaskan permaianan itu. Dengan begitu, Megandu tidak hanya dikenal di Banjar Ole tetapi bisa menyebar ke daerah lain,” ucapnya.

Permainan Megandu yang dipentaskan dan dipilih didaftarkan ke WBTB karena permainan ini masuk dalam PPKD (Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah), dan salah satu permainan dalam tradisi agraris. Ke depan tidak hanya Megandu yang didokumentasikan, tetapi permainan anak yang berasal dari tradisi agraris juga ditampilkan. Makna atau pelajaran yang dapat dipetik dari permainan Megandu banyak sekali, diantaranya mengajarkan anak-anak tentang sportifitas, termasuk mengajarkan bahwa dalam hidup bermasyarakat tidak bisa hidup sendiri. “Kami pilih Megandu dulu, karena ini sudah sering dipentaskan dan disampaikan kepada masyarakat,” terangnya.


“Megandu” di Areal Persawahan Museum Subak Tabanan


Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan I Gusti Ngurah Supanji menjelaskan, dengan adanya UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Kemajuan Kebudayaan dan adanya Perda Provinsi Bali tentang Kemajuan Kebudayaan, di Tabanan menyusun PPKD. Ketika menyusun PKKD ternyata ada permainan tradisional. Di satu sisi permainan tradisional banyak tidak dikenal. Oleh karena itu, mulai tahun ini, memperkenalkan Megandu sembari menggali permainan tradisional yang lain. “Pada 2021 mendatang permainan Megandu akan didaftarkan menjadi WBTB. Saat ini tengah disusun kajian ilmiahnya. Selain permainan Megandu, di 2021 juga akan diusulkan Joged Mini dari Desa Buruan, Kecamatan Penebel dan kuliner yakni Jukut Gondo,” jelasnya.

Khusus untuk Permainan Megandu, Dinas Kebudayaan Tabanan di tahun 2021 akan diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Saat ini prosesnya tengah penyusunan kajian ilmiah atas permainan terinspirasi dari Burung Kerkuak itu. [B/*]

Related Posts