January 22, 2021
Pernik

“Bali Nyala Api Seni” dan “Kene Keto Musik Pop Bali” Ditimbang Dalam Ajang FSBJ II

Bagi penghobi sastra dan yang suka membaca buku pasti suka acara “Timbang Buku” rangkain dari ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II tahun 2020. Ya, itu pasti! Lihat saja acara timbang buku yang di lantai bawah Gedung Ksirarnawa, Jumat (6/11). Acara yang menghadirkan dua narasumber yakni Dr. I Kadek Suartaya, Dosen Institut Senin Indonesia (ISI) Denpasar yang menulis buku ‘’Bali Nyala Api Seni’’ dan Made Adnyana, penulis buku ‘’Kene Keto Musik Pop Bali’’ itu dihadiri penulis-penulis muda setingkat mahasiswa.

Suasana menjadi lebih atraktif, karena peserta yang hadir memberi respon dengan menggali lebih banyak karya kreatif dari dua penulis itu. Sementara masyarakat yang ada di rumah ataupun ditempat kerja, bertanya atau memberikan apresiasi melalui media social. Acara timbang buku yang dipandu oleh Kadek Wahyudita ini, kedua narasumber memaparkan isi dan maksud dari buku yang ditulisnya. Penulis ini juga menceritakan proses kreatifnya dalam menyusun buku yang sama-sama berawal dari kegemarannya membaca dan menulis.

Kadek Suartaya mengawali pemaparannya dengan buku “Bali Nyala Api Seni” yang merupakan kumpulan esai yang sebagian besar telah dipublikasikan melalui media masa. Buku setebal 266 halaman ini terbit pada bulan Agustus 2020. Dibagi menjadi lima BAB dengan topik sekitar seni pertunjukan. Bab I dengan judul Nyala Api Seni Kala Malapetaka berisi 11 esai dalam bentuk opini. Selanjutnya Bab II, III, IV, dan V yang setiap babnya terdiri dari 10 artikel mengulas dan atau kritik pementasan seni tari, karawitan, dan teater.

Seniman asal Sukawati, Gianyar ini menegasakan, benang merah dari isi keseluruhan esai dalam konpilasi buku ini adalah ulasan peristiwa seni pertunjukan dan opini fenomena seni pertunjukan di tengah dinamika masyarakat. Ulasan atau catatan yang diperbincangkan dalam sejumlah esai dari buku ini melingkupi peristiwa seni pertunjukan yang berlangsung di Bali, di forum nasional, dan termasuk di luar negeri. Sedangkan esai fenomena seni pertunjukan yang dijadikan titik diskursus adalah berkaitan dengan letupan-letupan kehidupan dan budaya yang berinterelasi, menyentuh hingga mengguncang kehidupan seni budaya kita, khususnya kesenian Bali.

Buku yang ditulisnya itu, memberikan aksentuasi pada dampak malapetaka yang merebak sejagat di tahun 2020 yaitu virus Corona (Covid-19), terhadap seni, seniman, dan prilaku berkesenian di tengah masyarakat. Topik ini sengaja di tempatkan pada bab awal sebagai sikap empati dan keperihatinan terhadap dunia seni, khususnya seni pertunjukan kita.

Melalui buku ini, berharap keperihatinan itu masih tetap menyalakan api seni masyarakat Bali. Sebagai masyarakat yang integral dengan keindahan seninya, di sini, di pulau ini, kesenian tentu tak akan lekang dan sebaliknya selalu berkiprah luwes beradaptasi dengan lika-liku kehidupan. Harapan yang mulia ini, semoga memperoleh dukungan yang tulus dari semua pihak, pegiat seni, budayawan, lembaga seni, dan pemerintah.

Tentu, antusiasisme memuliakan eksistensi seni pertunjukan melalui sejumput tulisan yang diramu dalam sebuah buku ini tak luput dari kekurangan, ketidakakuratan, bahkan mungkin juga ketidaknyaman bagi pihak tertentu. Untuk itu, penulis mohon maaf dan terbuka menerima saran, masukan dan kritik demi tetap teguhnya arti serta makna jagat seni pada kemanusiaan kita.

Sementara itu Made Adnyana memaparkan buku yang dilahirkan itu terinspirasi dari kegemarannya pada musik sejak kecil. Memiliki latar belakang jurnalis, ia menulis apa yang menarik dibalik fenomena. Jadi, tak sekadar memberitakan peristiwa atau fenomena. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *