June 30, 2022
Ulasan

Kriyaloka Tembang Macapat PKB XLIII Ungkap Syarat Utama Sebagai Penari Dramatari Arja

Jika ingin menjadi seorang penari dramatari arja, maka pelajarilah pupuh atau tembang macepat terlebih dahulu. Tembang dengan berbagai jenis ini mutlak harus dikuasai, sehingga tidak menghilangkan kekhasan atau karakter dari pertunjukan seni itu sendiri. Tembang Macepat atau Pupuh menjadi salah satu komponen penting dalam dramatari arja. Pupuh sebagai media ungkap alur cerita dan menjadi jembatan komunikasi seperti prolog, monolog, dialog, hingga epilog setiap adegan. Jika ingin bermain arja, maka harus menguasai pupuh terlebih dulu.

Hal itu dikatakan Sang Ketut Pesan Sandiyasa dan Ni Wayan Ranten, dua seniman yang menjadi narasumber pada Kriyaloka Tembang Macapat dalam gelaran Pesta Kesenian Bali XLIII Tahun 2021 di Wantilan Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 13 Juni 2021. Kedua narasumber ini merupakan seniman alam yang sudah sangat mumpuni dibidang seni arja. Meski keduanya merupakan seniman alam, namun banyak pesan yang diberikan kepada para peserta yang jumlahnya terbatas, sebagai penerapan protokol kesehatan. Walau demikian, suasana acara sangat hidup karena peserta lebih banyak bertanya, dan dijawab tepat oleh para narasumber.

Ni Wayan Ranten mengatakan, pupuh dalam setiap adegan dramatari arja memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjalankan alur dari kisah tersebut. Pupuh yang memiliki karakter masing-masing itu, akan disesuaikan dengan kebutuhan suasana maupun adegan. Sebut saja dalam suasana marah, maka menggunakan Pupuh Durma, saat suasana sedih menggunakan Semarandana, bercinta menggunakan Pupuh Ginanti, dan sebagainya lainnya.

Pupuh itu bukan sekedar tempelan atau asal matembang, tetapi peran pupuh sangat mendalam dalam setiap pertunjukan dramatari arja. Maka pupuh wajib dikuasai oleh para seniman yang akan terjun ke dalam dramatari klasik ini. Ketika penari mengaplikasikan ke dalam seni pertunjukan dramatari arja, pupuh itu lebih fleksibel karena bisa diolah. “Maka itu, seorang penari arja harus lebih kreatif, sehingga mampu mengolah pupuh sesuai dengan kebutuhan dalam sebuah adegan,” ungkpnya.

Menurut Ranten, pupuh itu akan berbeda dengan yang ditembangkan saat pesantian. Teknik mengolah pupuh ini dinamakan teknik nyampong, yang berguna menjadi media pengantar, penyambung, bahkan pemutus adegan dan alur cerita. “Teknik nyampong mampu memberikan peluang kepada setiap pelantunnya dalam mengolah pupuh itu sendiri, baik dari segi padalingsa dan guru wilang. Namun untuk guru dingdong tidak dapat diolah karena menjadi identitas yang mendasar dalam setiap pupuh itu sendiri,” tegasnya.

Demikian pula diungapkan Sang Ketut Pesan Sandiyasa. Dramatari arja sebaiknya menggunakan iringan tabuh geguntangan. Sebab, iringan geguntangan akan mampu menyamaratakan tingkatan nada dari para seluruh pemain, dengan menggunakan patet suling yang berbeda-beda. Dengan demikian, nada pergina bisa seirama dengan iringan musiknya. “Inilah yang menyebabkan kriteria dramatari arja pada setiap ajang PKB diimbau untuk klasik, agar mampu mempondasikan para pregina dramatari arja khususnya para generasi anak muda untuk mempelajari kesenian secara struktural,” paparnya.

Sang Ketut Pesan Sandiyasa menegaskan, pada adegan papeson, bait pertama setiap pupuh preginanya berada di balik langse, sebagai tanda tokoh apa yang akan keluar. Inilah yang menyebabkan dengan mendengar baris pertama dari pupuh yang dilantunkan pregina itu, maka penonton atau pendengar sudah mampu menebak atau mengetahui tokoh apa yang akan keluar. “Fungsi pupuh sangat krusial. Nah, inilah yang menjadikan keberadaan pupuh dalam drama tari aja sangat erat dari pertama hingga akhir pertunjukan,” pungkasnya.

Drmatari arja memang sedikit memiliki generasi belakangan ini. Anak-anak muda, cendung menyukai kesenian modern yang serba cepat dan gampang. Padahal, kesenian arja itu memiliki manfaat yang sangat banyak. Disamping melestarikan kesenian tradisi yang diwarisi para leluhur, kesenian ini juga dapat memberikan rasa bahagia, serta sarat filsafat sebagai sesuluh hidup. [B/*]

Related Posts