Akulturasi Budaya Bali dan China dalam Kisah Jaya Pangus dan Kang Cing Wie di Bali Safari Park

 Akulturasi Budaya Bali dan China dalam Kisah Jaya Pangus dan Kang Cing Wie di Bali Safari Park

Menyaksikan Kisah Jaya Pangus dan Kang Cing Wie dalam pementasan Teater Bali Agung di Bali Safari tak akan pernah bosan. Pasalnya, karya tari ini digarap dengan sangat apik juga memperhatikan pola-pola dalam seni pertunjukan. Kesan tradisional masih kental, namun unsur modern memberikan kesan baru, sehingga dapat diterima para penonon, baik itu masyarakat local ataupun wisatawan mancanegara. Kisah disajikan melalui Bahasa Kawi (Bali), dan Bahasa Inggris yang diramu dengan sangat baik.

Panggung sebagai tempat pentas bentuknya presenium, seakan tanpa batas. Para penari bisa datang dari berbagai sudut panggung, bahkan masuk dari bawah stage dengan menggunakan teknologi canggih. Beberapa penari menari-nari melayang diatas stage yang juga memanfaatkan alat canggih. Lebih menarik lagi, kisah itu digebar diatas panggung lewat gerak tari para penari, juga dalam kelir (layar) yang diperankan oleh wayang, boneka dua dimensi yang sangat kreatif. Semua itu menjadi satu kesatuan yang utuh, bukan seperti seni tempelan.

Kisah Jaya Pangus dan Kang Cing Wie

Penggambaran suasana, bukan hanya dalam bentuk gerak, adegan ataupun iringan yang memadukan berbagai jenis gamelan dan musik. Melainkan memasukan property, yang memang biasa dipergunakan dalam kehiduapan yang nyata. Sebut saja, kapal laut yang besar masuk ke dalam stage, walau itu hanya tampak sebagain. Pondok-pondok dan warung warga tempat mereka beraktivitas disajikan secara nyata. Petani yang sedang “nganggon bebek” memelihara itik dilakukan didalam stage. Memang, bagian depan dari stage itu adalah kolam sebagai pembatas tempat pentas dengan penonton.

Kisah Jaya Pangus dan Kang Cing Wie

Seni pertunjukan Bali Agung mengisahkan perkawinan Raja Bali Jaya Pangus dengan putri dari Negeri Tiongkok Kang Cing Wie. Legenda bertajuk Bali Agung ini memang syarat dengan makna. Khususnya kearifan lokal Bali. Paling kental disajikan, adalah perpaduan budaya antara Bali dengan Negeri Tiari Bambu. Berbagai akulturasi itu diungkap dalam seni berdurasi sekitar 1 jam itu. Mulai dari busana, uang kepeng, makanan dan lainnya yang semuanya digarap melalui seni yang fantastis. Maka tak heran, penonton pun berdecak kagum menyaksikan pertunjukkan itu.

Baca Juga:  Desa Pramana Swan 4th Anniversary “To Be Funtastic”

Sebelum pertunjukan dimulai, para penari melakukan “peed” fashion didepan penonton dengan menggunakan busa adat serta menjinjing berbagai perlengkapan upacara. Jaya Pangus yang ikut fashion berada diatas gajah besar juga para pendeta lainnya. Fashion ini menggambarkan aktivitas kehidupan masyarakat Bali dalam keseharian. Aktivitas penari berjalan depan penonton itu, seakan ajang untuk memperkenalkan para penari yang akan tampil diatas stage. Para penari melambai-lambaikan tangan sebagai bentuk salam selamat datang kepada para pengunjung Bali Agung, Bali Safari.

Lalu, kisah dimulai ketika pertemuan Raja Jaya Pangus dan Kang Cing Wie. Keduanya kemudian menikah, namun hingga bertahun-tahun tidak dikarunia keturunan. Raja memutuskan untuk meninggalkan istri yang pada akhirnya terdampar di sebuah pulau dengan berbagai satwa mengelilinginya. Di pulau inilah sang raja bertemu Dewi Danu, seorang dewi yang mendiami Danau Batur. Dewi Danu menggoda Jaya Pangus dan sang raja tergoda.

Beberapa tahun kemudian, Kang Ching Wie melakukan perjalanan untuk mencari suaminya. Ketika bertemu, ia merasa sedih karena suaminya telah menikah dengan Dewi Danu dan dikaruniai seorang putra. Kang Ching Wie dalam kekecewaannya mengerahkan para pengawalnya untuk melawan Jaya Pangus. Pada akhirnya kekecewaan Dewi Danu menyebabkan berubahnya Jaya Pangus dan Kang Cing Wie.

Made Sidia selaku Artistic Director mengkemas pertunjukan Bali Agung ini dengan melibatkan penari yang besar, seperti lebih dari 50 penari. Selain itu, pertunjukan juga dimeriahkan dengan satwa, seperti gajah, ayam, bebek, sapi, kambing, merpati, burung macaw, ular, elang, dan hornbills. Legenda ini terjadi di abad ke 12, dimana raja pada saat itu sudah terbuka dengan budaya asing, sehingga terjadi akulturasi budaya dengan masyarakat asing, seperti contohnya uang kepeng yang berlanjut hingga sekarang. [B/*]

Related post