Realita Tiga Masa, Tiga Generasi Penari Kebyar Duduk Peliatan Dipertemukan Dalam Satu Panggung

 Realita Tiga Masa, Tiga Generasi Penari Kebyar Duduk Peliatan Dipertemukan Dalam Satu Panggung

Berbicara tentang kesenian, Peliatan menjadi salah satu pusat kreativitas dan perkembangan seni pertunjukan Bali. Nama Peliatan sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta seni terutama seni tari dan karawitan. Terlebih ketika membahas tentang kesenian palegongan dan kekebyaran. Peliatan selain sebagai pusat akulturasi budaya, juga menjadi pusat kreativitas seni yang mempertemukan beragam ide serta kebudayaan menjadi sebuah karya seni yang menggugah jiwa.

Tari Kebyar Duduk merupakan salah satu kesenian yang menjadi ciri khas Peliatan. Sang maestro pencipta sekaligus penari pertama Kebyar Duduk yaitu Alm. I Ketut Mario telah sejak awal bergaul dan berkerabat dengan Alm. Anak Agung Gede Ngurah Mandera tokoh seniman Peliatan sebagai salah satu pendiri dari Sekehe Gong Gunung Sari Peliatan juga selaku pimpnan rombongan saat melakukan lawatan misi kesenian ke Paris tahun 1931.

Realita Tiga Masa

Kedekatan Alm. I Ketut Mario dengan Alm. Anak Agung Gede Ngurah Mandera telah melahirkan gagasan baru terkait karya tari Kebyar Duduk yang diinterpretasi kembali menjadi karakter khas Peliatan. Adalah Anak Agung Gde Bagus Mandera Erawan salah satu putra dari Alm. Anak Agung Gde Ngurah Mandera yang mendapat sentuhan dari Alm. I Ketut Mario setelah Alm. Sampih yang ditempa menjadi penari Kebyar Duduk yang berkarakter dan karismatik.

Seiring berjalannya waktu, tari Kebyar Duduk Peliatan diteruskan oleh Anak Agung Oka Dalem yang secara genetika naluri berkesenian diturunkan oleh ayah beliau yaitu Alm. Anak Agung Gde Ngurah Mandera juga selaku adik dari Anak Agung Gde Bagus Mandera Erawan yang memiliki kemahiran dalam menarikan tari Kebyar Duduk meski tidak secara langsung diajarkan oleh sang guru.

Realita Tiga Masa

Senin 30 Mei 2022, bertempat di Ancak Saji Puri Agung Peliatan telah berlangsung pementasan sekehe gong legendaris yang mempertemukan Sekehe Gong Gunung Sari Peliatan dengan Sekehe Gong Dharma Kesuma Banjar Pinda. Kedua sekehe ini sebagai mutiara seni dari Kabupaten Gianyar yang memiliki perjalanan panjang dalam menempa potensi seni, sehingga mampu melahirkan seniman-seniman besar dan mencapai masa gemilangnya pada awal abad ke 19 -an.

Baca Juga:  Festival Seni Bali Jani Ajang Berkembangnya Teater di Bali Ida Bagus Anom Ranuara : Teater Penting Dalam Dunia Pendidikan

Salah satu yang menarik dari pementasan itu ialah dipertemukannya tiga generasi penari Kebyar Duduk gaya Peliatan dalam satu panggung. Pertama adalah Anak Agung Oka Dalem menarikan Tari Kebyar Terompong yang masih serumpun dengan Tari Kebyar Duduk, dilanjutkan oleh Anak Agung Gde Bagus Mandera Erawan menarikan bagian awal dari Tari Kebyar Duduk yang kemudian diteruskan oleh I Made Putra Wijaya selaku generasi muda penerus yang menarikan Tari Kebyar Duduk sampai akhir.

Bagaikan sebuah konsep kehidupan yang selalu berbicara tentang masa lalu, masa kini, untuk kemudian mempersiapkan diri dalam menyongsong masa depan. Begitulah konsep regenerasi yang dilakukan oleh para seniman seni pertunjukan Peliatan, yang selalu bersinergi dalam menjaga warisan dari kecerdasan masa lampau para tokoh seniman pendahulu. [B]

I Wayan Sudiarsa
I Wayan Sudiarsa

I Wayan Sudiarsa yang akrab disapa Pacet, komposer asal Peliatan, Ubud, Gianyar, tamatan S2 ISI Solo, Penggagas Festival Rurung, Ketua Sanggar Gamelan Suling Gita Semara dan Dosen di UNHI Denpasar