Wisdom dan Wisman Suka Berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran Bangli

 Wisdom dan Wisman Suka Berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran Bangli

Pesona Desa Wisata Penglipuran, Desa Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali memikat Wisatawan Mancanegara (Wisman). Maka jangan heran, setelah pemerintah membuta border internasional yang dibarengi dengan kebijakan Visa on Arrival (VoA) dan bebas karantina, barisan wisatawan mengalir berlibur ke desa sejuk itu. “Jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Penglipuran mencapai 1500 – 2000 orang perhari. Kunjungan didominasi wisman dari Australia dan Eropa,” kata Kepala lingkungan Penglipuran, I Wayan Agustina,S.Sn, Kamis 10 Agustus 2022.

Sebelumnya, kunjungan hanya mencapai 700 orang perhari. Namun, sekarang bisa mencarai 2.000 orang, khususnya pada saat hari libur nasional dan hari raya agama. Jumlah kunjungan tersebut didominasi oleh Wisatawan Domestik (Wisdom) dengan komposisi 75% wisdom dan 25% wisman. Kunjungan wisman mulai ramai setelah kegiatan Global Platform for Distarter Risk Rekduction (GPDRR) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei lalu, kunjungan kemudian didominasi oleh wisman. Disamping itu, masyarakat lokal juga memiliki minat tinggi berkunjung desa wisata unggulan di Bali itu. “Kalau wisdom, kunjungan didominasi dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogja, dan Jakarta,” imbuh seniman ini.

Harga tiket masuk memang mengalami peningkatan, yakni Rp 15.000, menjadi RP 25.000. Walau dengan peningkatan harga tiket itu, minat wisatawan untuk berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran tetap tinggi. Keunggulan Desa Penglipuran yang tidak dimiliki oleh desa lainnya, yaitu tiga bangunan yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat lokal (konservasi), seperti pintu masuk (angkul-angkul), dapur tradisional dan bale saka nem (6). Selain itu, Desa Penglipuran satu-satunya desa wisata di Bali, bahkan di Indonesia yang pernah dinobatkan sebagai 3 desa terbersih di Dunia.

Saat berkunjung ke desa itu, wisatawan akan disambut dengan deretan tanaman hijau. Semakin masuk ke area desa, udara dan pemandangan akan semakin terasa sejuk dan asri dengan pemandangan pagar tanaman yang menghiasi seluruh area desa. Saat mengelilingi desa, wisatawan harus berjalan kaki, tidak menggunakan kendaraan bermotor. Dengan begitu, lingkungan desa yang asri dan bebas dari polusi bisa terjaga. Setiap 30 meter terdapat tempat sampah, sehingga perngunjung tidak ada alasan untuk nggak tertib membuang sampah. [B/*]

Baca Juga:  Laporan Pentas “The Seen and Unseen” dari Australia [1] – Hari Pertama, Jalan-jalan di Taman