Pesta Kesenian Bali ke-47: Libatkan 20 Ribu Seniman, Digelar 21 Juni hingga 19 Juli 2025
Duta Kota Denpasar tampilkan Tari Kreasi Ratu Anom pada PKB 2024/Foto: doc
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-47 kembali digelar pada 21 Juni hingga 19 Juli 2025. Ajang pesta seni kali ini mengangkat tema “Jagat Kerthi: Loka Hita Samadaya, Harmoni Semesta Raya” melibatkan lebih dari 20.000 seniman, serta peningkatan fasilitas untuk kenyamanan penonton pawai.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, menegaskan bahwa PKB bukan sekadar seremoni, melainkan “pesta rakyat” yang diharapkan mampu menginspirasi dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Bali.
“Persiapan sudah mencapai 90 persen. Pemasangan baliho dan penyebaran jadwal telah dimulai,” ujar Prof. Arya Sugiartha, belum lama ini.
Salah satu inovasi penting tahun ini adalah penyediaan tribun khusus untuk penonton di lokasi pawai. Ini merupakan langkah signifikan untuk memastikan masyarakat dapat menikmati jalannya pawai dengan lebih nyaman, tertib, dan rapi.
Penataan lokasi pawai tetap seperti tahun-tahun sebelumnya, namun dengan tambahan tribun ini, pengalaman menonton akan jauh lebih optimal. Waktu pertunjukan pawai akan disesuaikan, terutama jika Presiden RI turut hadir untuk membuka PKB.
PKB XLVII akan memberikan sorotan khusus pada desa-desa adat kuno di Bali, seperti Pedawa (Buleleng), Pendem (Jembrana), Sukawana (Bangli), serta desa-desa adat lainnya dari Klungkung, Tabanan, Singaraja, Denpasar, dan Badung (Kiadan dan Plaga).
Mereka akan menampilkan garapan khusus yang mencerminkan tradisi unik masing-masing desa.
Selain itu, pawai juga tetap menampilkan kesenian yang masuk dalam sembilan tari warisan tak benda UNESCO, seperti tarian yang terinspirasi dari Sanghyang, meskipun beberapa tari seperti Rejang dan Baris Gede tidak ditampilkan secara penuh karena alasan teknis.
Kesenian klasik yang hampir punah juga akan dihidupkan kembali dalam bentuk seni rekonstruksi. Parade gong kebyar, lomba beleganjur, serta pertunjukan arja modern akan menambah kemeriahan acara.
Tahun ini, PKB mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah komunitas kesenian, dari 285 menjadi 517. Peningkatan ini berdampak langsung pada jumlah seniman yang terlibat, mencapai lebih dari 20.000 orang, meningkat dari 19.000 seniman pada tahun sebelumnya.
“Ini menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang semakin besar dari pegiat seni di Bali,” sebutnya.
PKB ke-47 juga akan menyelenggarakan sarasehan budaya dengan mengangkat tema-tema tradisi lokal, seperti membaca tanda-tanda alam, dilengkapi dengan lokakarya dan diskusi mendalam.
Partisipasi internasional turut memeriahkan acara, dengan kehadiran delegasi dari India, Kanada, dan Prancis dalam bentuk simposium budaya dan pertunjukan seni. Pameran seni rupa dan kuliner tradisional juga akan menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda ini.
Dalam komitmen terhadap lingkungan, Prof. Arya Sugiartha menekankan larangan penggunaan plastik kemasan sesuai edaran Gubernur.
“Tentunya dengan penerapan zero plastic policy—tidak ada sedotan dan botol plastik di area PKB, terutama aturan larangan penggunaan kemasan botol plastik di bawah 1 liter agar dipatuhi,” tegasnya.
Petugas akan ditempatkan di empat pintu masuk area Taman Budaya untuk mengawasi dan mencegah masuknya sampah dari luar.
PKB ke-47 bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan seni serta budaya Bali, menampilkan beragam materi seperti Peed Aya (Pawai), Rekasadana (Pergelaran), Utsawa (Parade), Wimbakara (Lomba).
Bali World Culture Celebration (Perayaan Budaya Dunia), Kandarupa (Pameran), Kriyaloka (Lokakarya), Widyatula (Sarasehan), Adi Sewaka Nugraha (Penghargaan Pengabdi Seni), dan Jantra Tradisi Bali (Pekan Kebudayaan Daerah). [B/darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali