Prof. Dr. I Made Bandem di Seminar Budaya Bulfest 2025: Topeng Buleleng Memiliki Karakter Lebih Tegas
Seminar Budaya “Perkembangan Topeng Bali Dewasa Ini: Dari Hulu ke Hilir” dalam Bulfest VIII/Foto: surya darma
PERJALANAN topeng Bali berlangsung sejak masa prasejarah hingga era kontemporer. Perkembangan topeng itu, dimulai dari fungsinya dalam ritual animisme dan dinamisme pada zaman prasejarah (2000 SM – 800 M), transformasinya menjadi seni pertunjukan istana, hiburan rakyat, hingga media kritik sosial di era modern.
Itulah pemaparan Prof. Dr. I Made Bandem, MA saat menjadi narasumber pada Seminar Budaya bertajuk “Perkembangan Topeng Bali Dewasa Ini: Dari Hulu ke Hilir” dalam rangkaian Buleleng Festival (Bulfest) VIII Tahun 2025 di Gedung Wanita Laksmi Graha, Singaraja, pada Sabtu 23 Agustus 2025.
Seminar yang mengusung tema besar Bulfest 2025 “The Mask History of Buleleng; Topeng Leluhur Jiwa Buleleng” untuk memperkaya pemahaman serta merumuskan strategi pelestarian seni topeng di tengah arus globalisasi. Seminar ini juga memperkenalkan buku terbaru karya Prof. I Made Bandem bersama penulis dan sejarawan seni Bruce W. Carpenter, berjudul “Masks of Bali: Between Heaven and Hell”.
Buku tersebut mengupas secara mendalam sejarah, fungsi, serta kekayaan estetika topeng Bali, sekaligus menegaskan posisinya sebagai warisan budaya dunia yang masih hidup dan relevan hingga kini. Seminar ini dipandu oleh I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn. yang hadir sebagai moderator turut memberi warna tersendiri dalam jalannya seminar.
Seminar ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng, Drs. I Nyoman Wisandika, didampingi I Made Tegeh Okta Maheri, S.Sn., Kepala Bidang Kesenian Buleleng, selaku penanggung jawab kegiatan. Bahkan, Bidang Kesenian Disbud Buleleng menjadi penggerak utama pelaksanaan seminar ini.
Prof. Bandem memaparkan, Topeng Bali Utara yang banyak dipengaruhi aliran bairawa. Hal itu terkait dengan pertanyaan Putu Satria, sutradara film Jaya Prana yang menanyakan perbedaan karakter topeng Bali Utara dengan daerah lain.
Pengaruh itu tampak pada karya-karya Singa Ambara Raja khas Singaraja yang sarat dengan karakter bairawa. Tradisi pembuatan topeng di Tejakula, misalnya, berawal dari pemberian beberapa topeng dari Kerajaan Bangli yang kemudian dikembangkan dengan karakteristik khas, salah satunya menurut keterangan seniman Bapak Made Gelgel.

Tari Topeng dikatakan berkembang sebagai seni pertunjukan sejak abad ke-14. Tonggak penting terjadi pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel (abad ke-15–16), dimulai dari upacara di Pura Besakih yang dipimpin Sangkul Putih, ketika tari topeng ditetapkan sebagai tari wali (sakral). Hal itu disampaikan Prof. Bandem untuk menjawab pertanyaan Anggara Rismandika.
Ketika menjawab pertanyaan Dian Suryantini, yang menanyakan karakter topeng perempuan Buleleng, dan beda dengan topeng lain, termasuk kegunaan topeng jaman dulu, Prof. Bandem mengatakan, Topeng Buleleng memiliki karakter lebih tegas. Topeng perempuan yang ditemukan memiliki alis agak tebal, mata besar dan cerdas dengan ujung mata tipis, telinga lebar, serta garis bibir tegas.
Topeng ini kemungkinan merepresentasikan wajah perempuan masa lampau, sekaligus menunjukkan pengaruh luar karena Buleleng merupakan wilayah pertama yang dituju ketika sampai Bali, mengingat pintu masuk utama dulu ada di Pelabuhan Julah. Topeng tersebut diduga digunakan dalam persembahan untuk menghormati perempuan, terlihat dari aksesoris seperti anting (subang) pada telinganya.
Pada sesi berikutnya, I Gede Made Surya Darma menanyakan, pada masa kehadiran J.H.C. van der Tuuk di Bali tahun 1870–1880-an banyak mengoleksi lukisan Bali termasuk karya seniman Bali Utara. Surya Darma lalu memastikan, apa J.H.C. van der Tuuk juga meneliti topeng, dan bagaimana pameran besar di Paris pada 1931 dan 1937, dan seniman topeng Bali Utara yang terlibat
Prof. Bandem dengan santai mengatakan, hingga kini belum ditemukan catatan Van der Tuuk mengenai penelitian topeng. Namun, salah satu pelukis Bali Utara, I Ketut Gede, dikatakan pernah melukis barong dan rangda dengan bentuk menyerupai Barong Bangkal, meskipun topeng yang digambarkan adalah barong ket.
Lalu, terkait catatan keterlibatan seniman topeng Bali Utara dalam pameran internasional Paris 1931 (Colonial Exhibition) dan 1937 (Exposition Internationale des Arts et Techniques dans la Vie Moderne) juga belum ditemukan sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut. Kedua pameran tersebut menjadi cikal bakal pariwisata Bali. Bahkan sejak 1924, Buleleng sudah dikunjungi wisatawan melalui agen perjalanan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dari Belanda.
Siapapun dapat menjadi penari topeng dengan latihan serius hingga professional, kata Prof. Bandem saat menjawa pertanyaan Ketut Suartana, yang menanyakan seorang penari topeng harus berasal dari keturunan atau klan tertentu.
Idealnya, lanjut Prof. Bandem, seorang penari juga mempelajari lontar Darma Pegambuhan, karena tari topeng merupakan penerjemahan Weda ke-5 yang sarat simbol gerakan mudra dalam puja. Penari juga dianjurkan memahami ajaran Dasa Bayu untuk meningkatkan taksu dan mendalami babad topeng, salah satunya Babad Sidakarya.
Pada sesi akhir, Prof. Bandem juga menyinggung keberadaan Barong Bangkal, barong khas Buleleng Barat dengan ciri topeng berukuran kecil.
Seminar kemudian diakhiri penyerahkan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui I Made Tegeh Okta Maheri, S.Sn. kepada Prof. Bandem atas dedikasinya dalam pengembangan seni tari dan topeng Bali. Penghargaan juga diberikan kepada I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn. selaku moderator, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kesuksesan acara.
Sebagai penutup, dilakukan penyerahan buku Jaya Prana karya Putu Satria kepada Prof. Bandem. Momen ini menjadi simbol kolaborasi lintas generasi antara seniman muda dan maestro tari Bali, sekaligus menegaskan pentingnya kesinambungan tradisi dalam menjaga kebudayaan.
Seminar ini tidak hanya menghadirkan diskusi akademis, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara generasi seniman, peneliti, dan komunitas seni. Kehadiran beragam peserta membuktikan bahwa seni topeng masih memiliki daya hidup kuat, bukan sekadar tontonan, tetapi juga identitas budaya sekaligus spiritual masyarakat Buleleng dan Bali. [B/ Surya Darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali