Ketika Sastra Suci Ditelanjangi dan Dipertaruhkan di Ruang Kalah-Menang
Kadek Wahyudita/Foto: ist
DI Bali, sastra agama sejatinya lahir dari keheningan, dari tapa brata, dari laku hidup yang panjang dan sunyi. Ia tidak diciptakan untuk diperdebatkan di tengah riuh, apalagi dijadikan senjata untuk menundukkan pihak lain.
Lontar-lontar suci disurat bukan untuk memenangkan argumen, melainkan untuk menuntun batin manusia menuju kebijaksanaan.
Namun hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang menggetarkan nurani: runtuhnya kemuliaan sastra agama di ruang publik. Para cendekiawan, pemuka wacana, bahkan mereka yang mengatasnamakan kebijaksanaan, terjebak dalam pertarungan kebenaran di media sosial.
Ruang yang seharusnya menjadi tempat berbagi pengetahuan berubah menjadi arena adu menang dan kalah. Kesantunan ditinggalkan, kerendahan hati dilupakan.
Setiap orang merasa paling benar.
Setiap tafsir ingin menjadi hakim.
Dan sastra suci—yang dahulu diperlakukan dengan sembah dan sunyi—kini dipreteli, dipelintir, bahkan dipolitisasi.
Lebih menyedihkan lagi, pertarungan ini sering kali diarahkan ke ruang politik. Sastra agama yang mestinya berdiri di atas zaman dan kekuasaan, ditarik paksa ke dalam kepentingan sesaat.
Kesucian tidak lagi dijaga, melainkan dipertaruhkan.
Dalam kegaduhan ini, kita seolah mengulang sebuah tragedi besar dalam wiracarita Mahabharata: kesucian Drupadi ditelanjangi di hadapan sidang agung, bukan oleh musuh, melainkan akibat perjudian yang dilakukan oleh mereka yang disebut bijaksana—Panca Pandawa.
Drupadi adalah simbol kesucian, kehormatan, dan dharma. Ia tidak kalah dalam perjudian, namun tubuh dan martabatnya dijadikan taruhannya. Yang dipertaruhkan bukan sekadar harta, melainkan nilai paling luhur.
Hari ini, sastra agama berada pada posisi yang serupa.
Ia tidak bersalah.
Ia tidak memilih berpihak.
Namun, ia dijadikan objek pertaruhan demi ego, kuasa, dan pengaruh.
Pertanyaannya kini menjadi renungan bersama:
Apakah runtuhnya kesucian sastra agama akan berakibat sebagaimana kesucian Drupadi yang dipertaruhkan oleh kebijaksanaan Panca Pandawa?
Apakah kita sedang mengulang kesalahan sejarah—di mana mereka yang merasa paling dharmika justru tanpa sadar merobek dharma itu sendiri?
Jika sastra suci terus diperdebatkan tanpa etika, jika lontar hanya dibaca untuk membenarkan diri sendiri, maka yang runtuh bukan hanya wibawa teks, melainkan martabat kebijaksanaan itu sendiri.
Bali tidak kekurangan orang pandai, tetapi mungkin sedang kekurangan kerendahan hati.
Pada akhirnya, sastra agama tidak menuntut untuk dimenangkan.
Ia menuntut untuk dipahami, dijaga, dan dihayati.
Sebab ketika kesucian dijadikan alat pertarungan, yang kalah bukan lawan debat kita—melainkan peradaban kita sendiri. [B]
Penulis : Kadek Wahyudita, seniman dan tokoh budaya

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali