Dorong Ekosistem Sirkular, Pekan CERIA Siapkan Generasi Penerus Bali yang Berkelanjutan
Anak-anak setingkat SD mengikuti lomba mengarang dp Jimbafest Presents: Pekan CERIA/Foto: dar
RATUSAN siswa Sekolah Dasar (SD) menggendong tas dan memegang meja lipat mungil bersiap menuangkan impian mereka tentang desa masa depan. Semangat polos inilah yang menjadi roh dibukanya “Jimbafest Presents: Pekan CERIA”, sebuah gerakan kultural bertema keberlanjutan lingkungan yang digagas Yayasan Jimbaran Hijau bersama para pemangku kepentingan setempat.
“Jimbafest Presents: Pekan CERIA (Children and Environment: Stories of Sustainability)”, yang digagas oleh Yayasan Jimbaran Hijau bersama UPT Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Badung serta Desa Adat Jimbaran. Pekan CERIA hadir sebagai gerakan kultural menuju gelaran besar Jimbafest 2027.
Pagi itu, anak-anak datang untuk menuliskan impian tentang desa yang lebih baik. Semua itu dituangkan ke dalam bentuk cerita. Rangkaian acara di pusat kegiatan kreatif, seni, budaya, dan gaya hidup (contemporary village center) yang terletak di kawasan hijau tersebut membuka ruang interaksi penuh warna, yang kemudian dilanjutkan dengan keseruan Jimbaran Weekend Market Special Edition pada 30–31 Oktober 2026.
Lewat lomba mengarang bertajuk “Impianku untuk Desa Jimbaran yang Terbaik”, siswa kelas 4 hingga 6 SD itu bersuara lantang tentang lingkungan dan masa depan desanya. Sepanjang hari pembukaan, Jimbaran Hub dimeriahkan oleh energi kreatif warga dan anak-anak—mulai dari lomba mengarang tersebut hingga alunan angklung dari SLB Negeri 1 Badung.
“Pekan CERIA menjadi momentum aksi nyata bersama yang puncaknya bakal dirayakan pada Jimbafest 2027. Ini adalah langkah lanjutan dengan harapan anak-anak Jimbaran tumbuh sebagai penjaga alam dan budayanya sendiri,” kata Dr. Putu Agung Prianta, B.Eng(Hons.), MA, MH, selaku CEO dan Founder Jimbaran Hijau.

Acara yang juga menyedot perhatian peserta adalah berbagai lokakarya interaktif, antara lain pengenalan Asta Kosala Kosali, Terra Cards, literasi finansial bersama blu by BCA Digital, hingga sesi Read Aloud. Pameran lembaga nirlaba di bidang lingkungan turut menyajikan berbagai karya kreatif yang menjadi pusat perhatian pengunjung saat itu.
Desa adat, instansi pemerintah, mitra nirlaba, hingga para keluarga hadir bersama. Bagi Jimbaran Hijau, acara ini sejalan dengan visinya sebagai kawasan yang memfasilitasi pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Selama 13 tahun, Jimbaran Hijau konsisten menanamkan kepedulian lingkungan dan pendidikan karakter hijau kepada anak-anak sejak dini.
“Jimbaran Hijau juga mengajak lembaga nirlaba, komunitas, dan pemerintah berkolaborasi membangun ekosistem kawasan yang sirkular dan berkelanjutan. Di tengah laju pembangunan, menjaga keotentikan Bali tetap menjadi pegangan. Pembangunan modern harus berjalan seimbang dengan akar budaya dan kelestarian alam, sesuai filosofi Tri Hita Karana,” ucap Agung Prianta.
Pengunjung dapat menikmati pasar lokal, mengikuti berbagai lokakarya seni seperti Cake Painting, Beading Party, dan pembuatan Halloween Bandana, serta menikmati sajian musik dan penampilan DJ yang menemani akhir pekan di ruang terbuka.
Semangat tersebut sejalan dengan visi besar kawasan Jimbaran Hub yang menekankan pentingnya keotentikan dalam membangun ruang hidup. “Kami membangun Jimbaran Hijau dengan visi keotentikan sebagai kawasan live and learn yang berakar kuat pada ide keberlanjutan. Pekan CERIA adalah wujud nyata bagaimana ruang publik dapat menjadi wahana belajar yang hidup bagi generasi penerus,” tuturnya.
Tidak hanya merayakan kreativitas anak, Pekan CERIA juga menghadirkan ruang dialog kritis dan solutif melalui serangkaian talkshow inspiratif dan NGO Showcase. Acara ini mempertemukan publik dengan berbagai gerakan nirlaba seperti Five Pillar Initiative, Bersama Adya, Terratide, Maha Bhoga Marga, Rotary Club District 3420, Yayasan Penyu Indonesia, Umah Pupa, Suaka dari Youth Urban Participation, hingga Green Books.
Berbagai topik mulai dari konservasi ekologi, restorasi lingkungan, hingga gagasan kota sirkular dibedah bersama para ahli dan pegiat. Melihat antusiasme dan dampak positif yang dihadirkan, perwakilan UPT Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Badung menyampaikan apresiasinya.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan positif ini. Ajang seperti ini sangat krusial dalam menumbuhkan kepekaan terhadap isu-isu lingkungan pada anak-anak di Bali sejak dini, sekaligus mengasah ruang ekspresi mereka,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Jimbaran Hijau, Yusea Eka Prasetya mengungkapkan, langkah ini berakar dari napas komunitas yang selalu melibatkan anak-anak dalam pendidikan lingkungan.
“Jimbafest memiliki sejarah yang tidak pernah lepas dari bagaimana kita merangkul anak-anak untuk belajar mencintai alam. Melalui Pekan CERIA, kami ingin memperkuat kembali fondasi tersebut agar nilai-nilai keberlanjutan tumbuh alami dalam keseharian mereka,” ujarnya.
Dari sudut pandang sastra dan dunia anak, Ketua Dewan Juri Lomba Mengarang,Yudha Bantono, turut terpesona dengan kejujuran gagasan yang dituangkan para peserta cilik. Karya anak-anak yang keluar sebagai pemenang rencananya akan dibukukan dan disebarkan ke seluruh SD di Jimbaran serta sekolah-sekolah di Bali.
“Karya-karya anak-anak dalam lomba ini memperlihatkan imajinasi yang luar biasa murni. Melalui tulisan mereka, kita bisa melihat betapa besarnya kepedulian dan harapan mereka untuk masa depan Desa Jimbaran,” akunya.
Keseruan Pekan CERIA tidak berhenti di hari Kamis. Memasuki akhir pekan (30–31 Oktober 2026), suasana akan bergeser menjadi pasar kreatif yang meriah lewat Jimbaran Weekend Market Special Edition. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali