January 22, 2021
Ulasan

“Land of Paradise” – Solo Project I Made Oka Astawa

I Made Oka Astawa menggelar pameran tunggal di Lv8 Resort Hotel Berawa (Lobby, Restoran, Koridor Lt. 1). Pameran berlangsung dari bulan Oktober 2019 – Maret 2020. Inilah catatan kuratorial dari I Wayan Seriyoga Parta & Made Susanta Dwitanaya.

Aktivitas manusia sejatinya tidak dapat dilepaskan dari nilai keindahan ini, contoh sederhananya kini manusia menggunakan pakaian tidak hanya untuk melindungi tubuh saja. Pakaian kini menjadi sebentuk seni menampilkan keindahan diri, sehingga lahir seni mode atau disebut fashion. Bahkan tubuh manusia pun kini tak lepas dari sentuhan seni, katakanlah seni rias wajah, seni tata rambut, hingga seni permak wajah dan tubuh (aesthetics beauty) yang melibatkan teknologi dan bedah plastik. Karena itu manusia adalah “homo aestheticus”.

Perupa yang menjali kehidupannya dijalan estetika tentu memiliki kepekaan tersendiri di dalam memaknai kehidupannya. Perupa memiliki cara tersendiri untuk mananggapi fenomena alam dan lingkungan melalui medium seni/seni rupa. Fenomena yang biasa bagi masyarakat umum, dapat menjadi hal yang spesial bagi perupa dan menggugah ide kreatif mereka untuk berkarya.

Seni khususnya seni rupa adalah sebuah pernyataan seniman melalui bahasa visual. Sebagai pernyataan, seni rupa ada dalam dua irisan antara pernyataan seniman pada aspek internal (kedirian) dan aspek eksternal (konteks, tematik, di luar diri seniman). Inilah kompleksitasdan karakteristik khjas karya seni rupa ia adalah persoalan antara apa yang dihadirkan dan bagaimana cara menghadirkan sebuah pernyataan. Dalam konteks seni sebagai pernyataan eksternal, sebuah karya seni berkaitan dengan aspek tematik di luar persoalan kesenirupaan yang diinterpretasi oleh sang seniman dengan bahasa dan cara ungkap visualnya. Dari yang bersifat reflektif hingga yang representatif.Dari yang naratif ,metaforik, hingga simbolik. Semuanya hadir dalam karakteristik visual personal dari abstraktif, dekoratif, realistik, dan lain sebagainya.

Alam hingga persoalan ekologis yang kini hadir dalam keseharian kita sebvagai bentuk hubungan relasional antara manusia dan alam lingkunganya adalah salah satu persoalan tematik yang selalu menarik perhatian seniman untuk dielaborasi dan diinterpretasi dalam karya visualnya. Melihat fenomena itu kuratorial pameran ini digulirkan untuk mengajak para seniman yang terlibat dalam pameran ini untuk merepresentasikan dan menginterpretasikan gagasan tematik karya-karya mereka pada persoalan tanah. Diharapkan yang hadir dalam karyakarya para seniman yang terkurasi dalam frame kuratorial ini adalah sebentuk pernyataan seniman tentang kondisi dan persoalan tanah hari ini. Tanah dalam perspektif kebudayaan Bali adalah elemen yang penting. Pertiwi yang dipersonifikasikan sebagai sosok Ibu yang berperan penting dalam melahirkan dan merawat Kahuripan (kehidupan) dari Sarwa Prani (mahkluk hidup).

Tanah dalam kebudayaan Bali menempati posisi yang sangat mulia terlebih akar peradaban Bali adalah kebudayaan agraris yang sangat bergantung pada tanah. Lahirnya aneka rupa kebudayaan dan peradaban Bali yang secara historis terhantarkan pada kmonstelasi kebudayaan dunia melalui gerbong pariwisata yang telah dirintis sejak era kolonial bermula dari julukan atau branding soal Bali sebagai tanah surga atau The Land Of Pradise. Julukan yang sedemikan seksi yang membuat Bali dan masyarakatnya bahkan juga masyarakat dari luar Bali mewarisi berkah pariwisata hingga kini.

Berkaca dari hal itulah tematik pameran Land Of Paradise ini digulirkan. Dalam frame kuratorial ini sesungguhnya tersajikan ruang ungkap yang sedemikian lapang bagi para seniman untuk memvisualkan pernyataanya. Boleh jadi sebagian seniman hanya akan memotret representasi objektif atas tanah dan alam Bali, sebagaian lagi boleh jadi akan menengok akar kultural dan nilai nilai falsafah soal bagaimana pemuliaan atas tanah atas Ibu Pertiwi dalam kebudayaan masyarakat Bali, atau boleh jadi juga aka nada para seniman yang berefleksi secara kritis melihat bagaimana kondisi tanah dan ekologi Bali kini di tengah konstelasi dinamika pergerakan kebudayaan masyarakat Bali yang beririsan dengan dinamika dunia pariwisata. Semuanya dapat saja hadir di atas frame kuratorial yang lapang ini. Selamat menanam gagasan, selamat menyuarakan pernyataan di ladang dan sawah kreativitas.

Karya-karya yang dipresentasikan dalam pameran ini diharapkan dapat memberikan ruang penghayatan yang lebih mendalam, merupakan persepsi visual yang diresapi oleh para perupa atas tanggapannya terhadap fenomena. Kreativitas dalam karya perupa diharapkan dapat menggugah pengalaman-pengalaman estetik yang menyentuh perasaan para penikmat. Lebih jauh diharapkan dapat menjadi sebuah ajakan untuk memberi ruang pada kesadaran merefleksi persoalan-persoalan yang tengah menyelimuti kehidupan ‘kita’ di bumi.
Wayan Seriyoga Parta, M.Sn.

Lahir di Tabanan 1980, pengelola program Komunitas Klinik Seni Taxu, redaksi Buletin Komunitas Seni Rupa Kitsch (2004-2005), staf pengajar seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo, Founder Gurat Institute. Founder & Kurator Arc of Bali Art Award.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *