November 27, 2021
Agenda

Bulan Bahasa Bali 2020 Diisi Alih Aksara, Pratek Usadha dan Tenung

Bulan Bahasa Bali akan dibuka Gubernur Bali pada, Sabtu 1 Februari 2020 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, pukul 09.00 Wita. Ajang itu akan diisi berbagai kegiatan menarik dibidang pelestarian dan pengembangan kesusastraan Bali. Agenda Bulan Bahasa Bali yang menarik, diantaranya melayani pengalihaksaraan hurup latin ke hurup Bali secara gratis, pengobatan atau usadha hingga tenung (meramal) berdasarkan sastra atau lontar yang dikoleksi.

Bidang Dokumentasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali yang bakal melayani secara cuma-cuma kepada semua pihak, terkait upaya pengalihaksaraan huruf latin ke huruf Bali. Baik itu nama kantor, nama toko, nama perusahaan dan lainnya. “Hal itu sesuai dengan edaran Pergub No. 80 Tahun 2018 menggunakan aksara Bali untuk mendampingi huruf latin. Kami dari Bidang Dokumentasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali akan memberikan pelayanan itu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. Wayan Kun Adnyana disela-sela persiapan pameran Bulan Bahasa Bali, di Denpasar, Rabu (29/1).

Sebenarnya, jelas Kadis Kun Adnyana, hal itu sudah dilakukan rutin dan sekarang mumpung ada Bulan Bahasa Bali maka melayani pula di dalam satu bulan di arena Bulan Bahasa Bali secara gratis. “Intinya, secara subtansi penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali itu dikaitkan dengan peringatan hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh pada, 21 Februari,” tegasnya.

Bulan Bahasa Bali, ini juga sebagai acuan fundamental aktivitas kebudayaan di Bali sepanjang satu tahun. Diawali dengan Bulan Bahasa Bali, artinya harus menunjuk dan berangkat dari hulunya yaitu, kesusastraan Bali, literasi-literasi yang adi luhung dari Pulau Dewata itu. “Kami memiliki 6000-an cakepan lontar yang bisa diakses masyarakat untuk dipelajari,” ujarnya.

Kadis Kun Adnyana menambahkan, untuk kegiatan Prasara (pameran) itu melibatkan 15 peserta bakal diisi dengan pelayanan, selain workshop, diantaranya yoga, pengobatan tradisional usada Bali, ada pratek ramal atau tenung. ” Masyarakat yang ingin mengetahui masa depan hidupnya bisa mendatangi stand Usadha Bali. Disamping juga pratik pengobatan tradisionjal, ada banyak produk-produk jamu yang ditampilkan. Begitu juga kreativitas yang berbasis aksara. Peramal itu dari asosiasi usada Bali. Itu akurat karena ada susastranya,” imbuhnya.

Sedangkan Utsawa (Festival) nyurat aksara Bali, jika tahun lalu diikuti 1000 peserta, kali ini diidentikan dengan angka tahun 2020 melibatkan 2020 peserta. Artinya ini sebuah gerakan menyemesta yang melibatkan berlapis dari berbagai komponen masyarakat baik penyuluh bahasa Bali, peserta didik, pendidik, dan masyarakat luas. Ini tidak saja sebuah perayaan, tetapi untuk memahami kembali betapa pentingnya kesatuan antara pemahaman bahasa, aksara dan sastra Bali. “Jadi akan ada bait yang dituliskan di daun lontar, sehingga masyarakat tahu apa itu pengrupak, jenis alat yang dipakai, apa itu daun lontar dengan kekeringannya seberapa, ” ungkapnya.

Kadis Kun Adnyana berharap, bahasa dan aksara Bali ini menjadi gaya hidup, tidak hanya dipakai pada hari-hari tertentu. “Karena, kalau kita tidak memahami sastra atau aksara maka banyak pustaka-pustaka penting Bali itu tidak bisa di akses, kalau hanya bisa bahasa tidak diimbangi pengetahuan yang cukup terkait bahasa Bali, maka sebenarnya kita belum cukup untuk menuturkan tentang Bali. Jadi kemampuan merunutkan keutuhan kebudayaan Bali itu, harus didahului menguasai aksara dan susastra Bali. Nah, itulah yang ingin digelorakan melaui pelaksanaan Bulan Bahasa ini,” pungkasnya. (*)

Related Posts