November 26, 2021
Ulasan

I Nyoman Hartanegara Lanjutkan Profesi Sang Kakek

Masih ingat ketenaran I Nyoman Rajeg, dalang wayang kulit asal Desa Tunjuk? Kini, cucunya yang bernama I Nyoman Hartanegara melanjutkan profesi kakeknya sebagai dalang wayang kulit. Walau masih muda, tetapi ia mampu memainkan seni dua dimensi itu. “Saya tidak pernah menyangka akan menjadi seorang dalang (orang yang memainkan wayang). Walau kakek dan ayah juga seorang dalang, tetapi saya tidak dapat belajar memainkan wayang secara serius pada mereka,” kata Hartanegara.

Pria kelahiran, Denpasar 27 Mei 1972 itu mengaku, ia mulai menjadi dalang ketika pertama kali pentas pada hari Tumpek Wayang tahun 2000 silam. Saat itu, ia melakukan pawintenan wayang yang disaksikan oleh orang banyak. Selain karena didapuk kakek yang saat itu sedang sakit, pentas pada saat itu juga sebagai pembayar kaul, karena anaknya yang pertama lahir laki-laki. “Saya tidak pernah menyangka akan menjadi seorang dalang. Kecil dulu, saya biasa menari, memainkan gamelan juga mesanti (melantunkan ayat-ayat suci),” ungkapnya.

Pegawai Negeri Sipil ini mengatakan, dirinya tidak berani menolak permintaan kakeknya. Disamping itu, ia juga tidak memiliki kepercayaan untuk mengatakan ya. Sang kakek, seolah menyerahkan kebisan (mandat), tongkat estafetnya pada dirinya. Ia merasa tidak enak, karena saudara-saudaranya yang lain banyak yang lebih pantas. “Mungkin karena memiliki kelebihan bisa membaca lontar itu menjadi pertimbangan beliau. Saya memang banyak menterjemahkan karya-karya beliau, kemudian mensosialisasikan lewat seni pewayangan. Lontar itu merupakan sumber dari segalanya,” jelasnya.

Pada saat sakit itu, kakeknya sempat mengujinya. Jika ingin menjadi dalang seken (sungguh-sungguh), kakeknya tidak mau mengajarnya. Maksudnya, sang kakek berharap agar menjadi dalang dengan menggali sendiri lewat lontar. “Saat mengadakan upacara pawintenan, saya mengajukan usul agar pentas perdana itu dilakukan di rumah saja. Tetapi, kakek menolak. Beliau tetap menyuruh pentas di wantilan dan disaksikan oleh masyarakat banyak. Saya mengikuti saran kakek. Jujur, saya merasa grogi dan sempat tak percaya diri. Maklum, saya tak sempat belajar memainkan wayang pada siapapun, termasuk kakek juga ayah yang juga seniman dalang,” tambahnya.

Suami Ni Putu Sulasih itu kemudian menyimpulkan, apa yang dikatakan kakeknya ternyata ada hikmahnya. Selain mendapat masukan, tontonan itu juga menjadi tuntunan sebagai bekal penerus seni pewayangan milik leluhurnya. Setelah itu, kakeknya akhirnya meninggal. Ia kemudian melanjutkan jadwal pentas kakeknya yang tersisa. Pertama kali pentas di Desa Batuengsel, Tabanan yang merupakan daerah pentas kakek. Ia tetap saja merasa rendah diri karena memainkan wayang secara otodidak.

Untuk mengisi diri, ayah empat putra ini kemudian banyak belajar lewat lontar-lontar dan menyaksikan hasil rekaman kakek yang sedang ngewayang. Ia mendapat rekaman itu dari Mr. Larry Reed, seorang seniman asing mantan didikan kakeknya yang juga murid ayahnya. Dari sana, ia banyak mendapat teknik serta tetekes, sehingga dalam pentas banyak orang yang mengatakan, kalau permainan wayangnya tidak jauh beda dengan Sang Kakek. Selain itu, ia juga benyak menggali ilmu dari dari jero gender, penabuh gender dari kakeknya. Banyak hal yang bisa ditanyakan dari penabuh gender kakeknya. Ia juga harus banyak menggali sendiri. “Kalau saja mau belajar lebih awal dari sang kakek atau ayah, mungkin saja beda hasilnya,” sesalnya.

Dalam pentasnya, seniman dalang yang tinggal di Banjar Tunjuk Kelod, Desa Tunjuk, Tabanan
itu lebih sering mementaskan Wayang Parwa dengan gamelan gender 4 buah. Walau demikian, ia juga bisa memainkan wayang batel yang mengisahkan cerita Ramayana. “Dalam cerita Mahaberata itu sangat komplek, gambarannya ada di masyarakat kini. Saya lebih menekankan pada cerita yang lebih banyak memaparkan isi lontar yang disesuaikan jaman sekarang,” ujarnya.

Untuk kisahnya, ia banyak menggali dari lontar sebagai sumber tertulis. Ada cerita carangan ada cerita sempalan yang jauh dari cerita induk. Hanya saja, ia jarang memakai cerita sempalan. Selain wayang peteng (wayang yang dipentaskan pada malam hari), ia juga sering memainkan wayang lemah (wayang siang). Ia lebih banyak pentas di daerah Tabanan, seperti daerah Desa Samsam, Lumajang, Batuengsel, Marga, Tunjuk dan daerah lainnya. “Kalau pentas, saya berpedoman pada tatwa cerita, dan untuk humor sedikit. Saya lebih menekanan pada cerita tradisional,” akunya polos.

Menurutnya, kunci menjadi seorang dalang itu belajar ngewayang harus mengetahui
gender wayang yang terkait dengan laras, suara, dan tandak. Misal tandak selendro, kuping itu harus cepeng, kuat dan tepat. Selain itu, juga harus mengetahui tetekes wayang. Kaki wayang jangan terlalu tinggi, sehingga tangan dalang kelihatan, juga jangan terlalu rendah, sehingga wayang itu tampak berjalan di tanah. (B/AD)

Related Posts