January 22, 2022
Kreasi

Garap Sendratari Rajapala, Alumni Kokar Angkatan 1986-1990 Reuni, Ngayah dan Bernostalgia

Jika sebagian orang melakukan reuni, dengan melakukan kumpul-kumpul, ngorte (ngobrol) lalu makan-makan. Atau reuni dengan menggelar arisan, tour dan tirtayatra. Tetapi, beda dengan alumni Konservatori Karawitan (Kokar) Bali atau SMKI angkatan 1986 – 1990. Para seniman akademis ini melaksanakan reuni dengan membentuk Sendratari Rajapala. Lewat sekaa seni ini mereka bisa reuni, pertemuan kembali setelah lama berpisah, bernostalgia, dan ngayah sebagai wujud rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sendratari yang didukung sekitar 25 penari dan 22 penabuh itu sudah ngayah ke berbagai pura di Bali. Namun, lebih sering ngayah di pura teman-teman seangkatannya, sekaligus reunian dan kumpul-kumpul. “Ide awalnya hanya sekedar kumpul-kumpul bersama teman-teman dari semua kelas, yaitu kelas tari, karawitan dan pedalangan dalam satu angkatan. Disamping untuk melestarikan sendratari Rajapala, kami juga ingin memperkenalkan kepada generasi muda, agar mereka mau mempelajari,” kata Koordinator Sri Yudawati.



Pada intinya, sendratari ini menampilkan tokoh inti saja, karena pendukungnya sangat pas-pasan. Itupun terkadang tidak hadir, sehingga harus ada yang mau merangkapnya. Tokoh-tokoh itu, seperti seorang penari sebagai Rajapala, 1 sebagai Dedari Kensulaih, 6 orang bidadari dari khayangan, 4 orang sebagai monyet, 3 orang sebagai.burung, 1 orang penjaga pasar, 3 orang penjual (cewek), 1orang dagang tuak,
2 orang sebagai pembeli (wanita), 1 penari Durma (anak Rajapala), 1 pengempu dan 1 orang sebagai patih. “Kami melakukan latihan setiap hari Minggu bertempat di Kokar, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar,” ungkapnya.

Adapun kisahnya, dimulai dari Rajapala, seorang pemuda tanpan yang suka beburu. Ia hidup dan tinggal dihutan. Suatu hari ada tujuh bidadari mandi di sungai di dalam hutan. Salah satu dedari itu bernama Kensulasih. Para dedari itu mandi dengan suka cita, riang dan satu hati. Tanpa disengaja, Rajapala melihatnya dan mengambil salah satu selendangnya. Ternyata, selendang itu milik Bidadari Kensulasih. Sementara keenam bidadari yang masih memiliki selendangnya, mereka bisa terbang ke Suarga Loka.



Dedari Kensulasih lalu mencari-cari selendangnya yang hilang, sehingga bisa pulang ke Suarga Loka. Kensulasih terkejut, ternyata ada seorang pria di hutan itu. Rajapale kemudian menyapa, dan akan mengembalikan selendang itu, asal mau menjadi pendampin hidupnya. Kensulasih, awalnya menolaknya setelah dipikir ia kemudian menyanggupi dengan satu syarat. Ketika anaknya berumur 8 tahun, dia akan mengambil selendangnya dan pulang Suarga Loka. Rajapala menyanggupi. Dan benar, setelah anaknya berumur 8 tahun Dedari Kensulasih pulang ke Sorga Loka. Sementara Rajapala pergi ke hutan untuk yoga semedi dengan meninggalkan Durma sendirian.



Sri Yudawati mengatakan, semua kegiatan ngayah dananya berasal dari suadaya anggota alumni itu. Busana pentas masih disupport oleh salah satu teman. Demikian pula, konsumsi, transport dan kebutuhan lainnya dibiayai secara gotong royong. “Masalah biaya, kami selalu sepakat dengan swadaya. Kesulitanya, saat mengumpulkan teman-teman yang hampir semua mempunyai kesibukan masing masing. Setelah bertemua, senangnya minta ampun. Kumpul bersama-sama temen-temen sambil berseni ria. Ngelemesang uat-uat ane kaku, be mekelo sing taen ngigel (melemaskan urat-urat yang kaku, maklum lama suda tidak menari),” sebutnya.
Made Darma yang bertugas sebagai penari Rajapala mengatakan, sendrtari yang menggunakan iringan gong kebyar itu masih ada kelanjutan. Cerita itu baru sebagian, karena kendala waktu latihan dan kendala pada kurangnya penari. Sebagai dalangnya Ketut Wiryawan dari kelas pedalangan. “Kami ucapkan terimakasih kepada bapak Prof. Sedana yang meluangkan waktunya untuk melatihan gending iringannya. Jujur, kami sangat senang, bangga dan terharu. Karena sudah hampir 30 tahun kami tidak bertemu, kini bertemu mempersembah pertunjukan seni. Walau masih banyak kekurangan,” ujarnya.

Menurutnya, ajang ini untuk melekatkan rasa persahabatan yang sudah mulai uzur. “Kami ingin dalam perjalanan kehidupan yang terasa sangat singkat ini, kami masih bisa mekedekan (tertawa), saling ejek sama seperti saat masih menjadi siswa di sekolah dulu. Disitu, kami merasakan arti persahabatan dengan teman-teman,” pungkas pria asal Buleleng ini senang. (B/*)

Related Posts