November 28, 2021
Gagasan

Kalangan Millenial Ikut Workshop Drama Gong Klasik

Wow, kegiatan Kriyaloka (Workshop) Drama Gong Klasik persiapan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLII melibatkan peserta dari kalangan millenial. Anak-anak muda itu, tak hanya tenang mendengar pemaparan narasumber, tetapi juga aktif melontarkan berbagai pertanyaan. Apalagi Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si yang menjadi narasumber menjelaskan yang diisi dengan gerak. Tokoh drama gong ini, bahkan memperagakan gerak dan vocal dengan penuh ekspresi. Workshop itu dibuka Kepala Bidang Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Provinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani di Taman Budaya Provinsi Bali, di Denpasar, Kamis 5 Maret 2020.

Sugita dalam pemaparannya mengatakanj, cerita dalam sebuah pertunjukan kesenian drama gong mesti disesuaikan, bahkan harus terkait dengan tema. Cerita yang sesuaikan dengan tema, menjadi lebih berisi, sehingga pesan yang ingin disampaikan bisa sampai kepada penonton. Tema itu harus masuk dan dirangkai dalan cerita. Disinilah, pemain drama dituntut untuk lebih kreatif. “Cerita yang bisa diangkat sesuai tema PKB kali ini, adalah Bhima Swarga dan Jaratkaru,” kata dosen dan Dekan Fakultas Acarya IHDN Denpasar itu.

Penekanan bahasa juga sangat penting. Bahkan, bahasa harus sesuai dengan “anggah ungguhi basa” dan sesuai dengan “sor singgih” yang benar. Hal tersebut, memang sering ter4jadi belakangan ini. Pregina drama gong senior, terkadang masih menggunakan bahasa yang tidak benar. Misalnya menempatkan kata “dane” dan “sane”. Ada kata “ida” yang menunjuk pada orang diatas. Ada “ipun” untuk menunjuk kepada lain masih dalam lingkup kita.

Pria kelahiran Banjar Bukit Batu, 8 Mei 1965 itu lalu mengingatkan agar selalu melakukan penekanan pada karakter pada tokoh yang diperankan. Seorang pemain drama, mesti konsisten terhadap karakter yang dibawakan. Kalau manjadi Patih Agung, mesti konsiten menjadi Patih tidak boleh campur. Leluconnya jangan pulgar dan jangan porno. “Lelucon itu bukan harus porno, materi umumpun itu bisa dikemas menjadi lelucon,” terang Sugita yang cukup lama berkecimpung dalam seni drama gong dan terkenal sebagai pemeran Patih Agung itu.

Kepala Bidang Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Provinsi Bali Ni Wayan Sulastriani mengatakan, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengajak generasi muda di daerah agar tidak saja bergelut dengan kesenian kreasi, tetapi kembali mencintai kesenian-kesenian klasik yang merupakan warisan budaya adiluhung. “Generasi muda Bali hendaknya memahami pula kesenian klasik yang ada. Ini sesuai pula dengan visi Bapak Gubernur dan Wagub Bali yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” katanya.

Drama Gong Klasik menjadi salah satu materi yang diparadekan dalam Pesta Kesenian Bali ke-42 yang akan berlangsung dari 13 Juni-11 Juli 2020. Selain Drama Gong Klasik, materi seni yang diangkat dalam kriyaloka yakni Arja Klasik, Janger Melampahan, Lagu Daerah Bali, dan Busana Adat ke Pura. “Drama Gong Klasik ini merupakan salah satu kesenian klasik Bali yang sarat makna dan tuntunan. Dari workshop ini, diharapkan para seniman dari kabupaten/kota mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan Drama Gong Klasik,” ucapnya.

Lalu, terkait dengan peserta parade, Sulastriani mengatakan, ada saat pengundian penampilan untuk di PKB ke-42, hanya perwakilan enam kabupaten/kota yang mengambil undian yakni Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Bangli, Buleleng, dan Kabupaten Gianyar. “Mudah-mudahan wakil dari kabupaten bisa bertambah,” harapnya. (B/*)

Related Posts