November 26, 2021
Gagasan

Prof. Bandem : Janger Muncul di Bali Utara, Kemudian Berkembang ke Bali Tengah dan Selatan

Rindu dengan pertunjukan Janger? Saksikan saja dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 yang bakal digelar dari tanggal 13 Juni hingga 11 Juli 2020. Penampilan tari pergaulan muda dan mudi khas Bali itu pasti menarik, sebab para penari yang akan tampil telah melakukan persiapan dengan baik dan serius. Mereka mengikuti Kriyaloka (workshop) Janger Melampahan yang digelar di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar pada Jumat, 6 Maret 2020. Peserta merupakan penari juga pelatih janger perwakilan dari kabupaten dan kota di Bali itu tampak serius mengikuti workshop dengan narasumber Prof Dr I Made Bandem itu.

Maestro seni yang juga guru besar bidang Etnomusikologi itu mula-mula memaparkan sejarah dan perkembangan janger, selanjutnya mengajak para peserta mempratekannya, sehingga kegiatan workshop itu lebih atraktif dan komunikatif. Narasumber tak hanya menjelaskan secara teori, tetapi juga memperagakan lewat gerak tari. N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem yang mendampingi Prof. Bandem langsung mengajak para peserta mempraktikkan gerak tari dan menyanyikan gending-gending Janger, sehingga apa yang menjadi kreteria dalam pertunjukan Janger Melampaan pada parade PKB nanti bisa dilakukan dengan sempurna.

Dalam pemaparannya, Prof. Bandem merindukan gaya tari dan gending Janger Klasik yang dulunya begitu beragam dan khas dari sejumlah daerah di Bali. Namun sekarang, kesenian Janger terkesan ada penyeragaman dari sisi pilihan gaya tari, maupun gending-gending Janger yang dibawakan. “Janger adalah salah satu tari pergaulan muda mudi khas Bali yang dipadukan dengan menyanyikan lagu-lagu rakyat. Janger diperkirakan muncul pada awal abad ke-20 di Bali Utara, kemudian berkembang cepat ke Bali tengah dan selatan,” paparnya.

Prof. Bandem lalu mengatakan, dulu ketika I Made Kredek, seorang maestro Arja mengadakan pementasan ke Bali Utara mendengar lagu-lagu Janger dinyanyikan oleh para pengalu atau pedagang yang menjajakan bahan makanan (garam dan bumbu-bumbuan). Mereka menggiring kudanya ke pasar, sambil bernyanyi lagu-lagu kemudian ditata menjadi gending Janger yang kita saksikan sekarang. Janger kemudian banyak berkembang pada tahun 1920-an. Janger berkembang di daerah Badung (kini Kota Denpasar) seperti di Abiantimbul, Banjar Kedaton, Banjar Bengkel, Desa Sanur dan Desa Penatih.

Sedangkan di daerah Gianyar dikenal adanya Janger di Desa Peliatan, Ubud dan Singapadu. Sedangkan di kawasan Bali Utara (Kabupaten Buleleng) terkenal dengan Janger Menyali. “Dulu di Buleleng punya gaya Janger tersendiri, Denpasar apa lagi, dimana-mana ada Janger yang memiliki pilihan gaya dan gending yang berbeda-beda. Tetapi, sekarang yang paling banyak berkembang gaya Singapadu, Peliatan, dan Kedaton,” ucap seniman yang pernah menjabat sebagai Ketua STSI Denpasar dan Rektor ISI Yogyakarta itu.


N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem mengajak para peserta mempraktikkan gerak Tari Janger


Kini ada fenomena saling menggunakan gending satu daerah dengan dengan yang lain, sehingga kesenian Janger terkesan monoton. Pementasan Janger di beberapa tempat, seringkali juga kurang memenuhi pakem dari Janger Klasik, tetapi malah meloncat pada Janger gaya kontemporer dengan menggabungkan musik-musik Indonesia dan musik barat. Jika kondisi penyeragaman terus berlarut dan pakem-pakem Janger Klasik ditinggalkan, maka generasi muda Bali akan kehilangan landasan untuk melestarikan kesenian Janger. “Kriyaloka ini penting supaya kita memiliki landasan yang kokoh untuk memajukan Janger Klasik di era modern,” kata seniman peraih Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia pada 2015 itu.

Nah, melalui workshop ini, sekaligus untuk menyepakati pakem-pakem dari Janger Klasik. Hal ini yang perlu disepakati bersama, karena bagaimanapun juga pementasan Janger Klasik dalam PKB tetap harus menunjukkan keragaman dan kekhasan masing-masing kabupaten. Sejumlah pakem Janger Melampahan yakni dimulai dari Gending Pategak (lagu pembukaan dari sebuah pertunjukan Janger) dan Gending Pangaksama (lagu ungkapan selamat datang dan lagu memperkenalkan Janger itu dari mana asalnya).

Selanjutnya ada Pepeson Kecak, yakni sebanyak 12 orang Kecak memiliki tari yang disebut tari ngugal (papeson), dilanjutkan dengan Pepeson Janger dengan keindahan penampilannya dari posisi berderet dan seterusnya. Mengenai ide, tema, dan isi dari sebuah Janger Melampahan bersumber dari cerita seperti Kidung Sejarah (Mahabharata, Ramayana; Kidung Roman (Panji, Sampik Ing Tay, Sri Tanjung; Kidung Magis (Calonarang, Basur, Japatuan, dan Balian Batur).

Sementara itu, Kepala Bidang Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Disbud Provinsi Bali Ni Wayan Sulastriani saat membuka acara berharap dengan dilaksanakannya kriyaloka tersebut agar duta kabupaten/kota yang akan tampil di PKB lebih maksimal. “Pakem-pakemnya bisa diketahui, sekaligus menyamakan persepsi bagaimana Janger Melampahan, yang di dalamnya mencakup tembang, tari dan gamelan. Apalagi menari Janger itu memang memerlukan strategi tersendiri, karena menari sambil bernyanyi,” harapnya.

Dengan mengangkat kembali seni-seni klasik, Sulastriani berharap generasi milenial bisa melestarikan nilai budaya Bali, khususnya di ranah seni Janger Melampahan. Akan sulit melestarikan, kalau tidak mengetahui dan memiliki teknik yang benar. Tema PKB ke-42 yakni “Atma Kerti, Penyujian Jiwa Paripurna” maka jangan tema itu sekedar dicantolkan saja di akhir garapan, tetapi harus bercerita dari awal, bisa mengambil lelampahan (lakon) dari kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah. (B/*)

Related Posts