October 29, 2020
Ulasan

Ketut Sudiana Dalang Wayang Kulit Beri Workshop Hingga Ke Luar Negeri

I Ketut Sudiana adalah seorang dalang wayang kulit yang sangat kreatif. Ia piawai memainkan yang kulit sejak kecil, bahkan dinobatkan sebagai Juara I pada Festival Dalang Cilik se-Bali yang digelar Listibya Bali tahun 1983. Sejak saat itu, ia menjadi dalang cilik yang sangat terkenal, sehingga banyak yang memintanya untuk memainkan wayang. “Saya belajar memainkan wayang sejak kecil, sekitar tahun 1980-an. Nah, dorongan yang paling kuat untuk bisa ngewayang (memainkan wayang) ketika ia dituntut tampil dalam ajang festival itu,” katanya.

Pada jaman itu, anak-anak belum ketergantungan dengan permainan digital, sehingga menjadi dalang menjadi pilihan yang sangat bagus. Disamping itu, dorongan yang kuat dari keluarga sangat dirasakannya. Maklum, ayahnya (I Wayan Nartha) adalah seorang dalang wayang kulit yang sangat terkenal dijamannya. Disamping itu, anggota keluarga lainnya juga mendukung, sehingga bagai gayung bersambut. “Jujur, sebelumnya, saya tidak pernah berpikir untuk menjadi dalang, karena masih anak-anak,” akunya kalem.

Pria kelahiran Gianyar, 29 Maret 1970 ini menegaskan, dorongan menjadi dalang terasa kuat ketika diikutkan sebagai peserta ferstival. Disana ada prestise, kalau menang akan mendapatkan hadiah. Ia kemudian ingin menjadi dalang, sehingga belajar memainkan wayang dengan sangat antosias. Selain itu, ia juga sering mengikuti ayahnya ngewayang karena selalu mendapat pembagian sesari. “Saat berhasil sebagai juara I itu, saya berhak mendapat beasiswa untuk SD, SMP hingga menjadi SMA. Saya kemudian dianggap dalang cilik yang berbakat, walau saat itu masih duduk di kelas VI SD Sukawati,” kenangnya.

Mulai 1983 itu pula, ada banyak yang nanggap (ngupah), sehingga biasa memainkan wayang 10 kali dalam sebulan. Itu cukup untuk biaya sekolah dan jajan. Ia kemudian menjadi lebih kreatif belajar sastra, disamping tetap memainkan wayang. Ia sangat percaya, dalam pentas itu harus piawai memainkan lakon yang berbeda-beda yang bersumber dari sastra, baik itu dari Epos Mahaberata, Epos Ramayana dan ceritera lainnya. Namun paling penting dari itu semua, ia juga belajar makekawin (tembang tradisional Bali), karena dalam seni pewayangan itu unsure seni kekawin harus ada.

Menurutnya, sastra itu sangat ptenting dalam memainkan wayang. Berdasarkan pengalaman pentas, menjadi seorang dalang itu betul-betul diuji. Penanggap minta dan memesan lakon secara khusus. Maka itu, dalang harus betul-betul mengetahui sastra dan bisa nyasta sebab, sastra itu banyak ada dalam kekawin. Dulu, dalang memiliki idealism, sehingga harus mencari dan cara mengolah lakon sendiri. Beda dengan sekarang sudah ada media rekam, sehingga bisa meniru. “Namun dari semua itu, seorang dalang harus memperhatikan retorika, dialog wayang ketika berdebat,” imbuh Sudiana yang tinggal di Banjar Babakan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar ini.

Teknik menarikan wayang juga sangat penting. Sekarang ini, ada banyak dalang anak-anak berbakat yang tumbuh. Bahkan, itu diluar rumpun wayang, seperti di luar Sukawati, di luar Tunjuk juga banyak tumbuh generasi dalang. Itu, karena mereka tak hanya puas dengan satu keterampilan seni, sehingga belajar yang lainnya. “Saya juga belajar menari dan memainkan gamelan bersamaan dengan belajar memainkan wayang. Saya ingin melestarikan warisan leluhur, sehingga melanjutkan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), Kokar memilih jurusan pedalangan. Saya memperdalam seni pedalangan hingga STSI Denpasar (ISI kini),” cerita suami Ni Kadek Juniati S.Sn ini serius.

Ayah dari I Wayan Dian Anindya Baswara dan I Made Dian Dairya Dhaneswara ini ingin memantapkan diri untuk menjadi seorang dalang, sehingga mengejarnya kejenjang yang lebih tinggi. Ia merasa belum memiliki ilmu seni, jika dibandingkan dengan kemajuan jaman yang terus berkembang. Karena itu, ia selalu kreatif mencari pola-pola baru yang bisa dimasukan ke dalam seni pertunjukan wayang. Aktivitas menari terus berjalan, sehingga ia bisa mendapatkan beasiswa Tunjangan Ikatana Dinas (TID) di kampus seni itu.

Setelah tamat, ia langsung diangkat menjadi dosen Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Pedalangan. Walau sibuk mengajar seni, ia juga aktif membuat wayang serta melatih anak-anak memainkan wayang. Ia membuat wayang untuk dimainkan sendiri, juga menerima pesanan. Ia juga sering berkarya seni dengan memanfaatkan dana Hibah. Sering juga menjadi juri lomba mesatwa, dan memberi workshop wayang. Saya juga sering memberikan workshop di luar negeri, seperti Thaiwan yang paling sering, Hawai, Singapura, dan Guam. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *