November 26, 2021
Ulasan

Sanggar Seni Kakul Mas Batuan Tampilkan Dramatari Gambuh “Bhagawan Dharmaswami”

Raja Madura bersedih karena kehilangan putra mahkota ketika berburu di tengah hutan. Para patih dan dayang-dayang kerajaan berusaha menghibur duka lara tuanya. Berbeda dengan Begawan Dharmaswami hidup harmonis dengan seisi hutan belantara, para binatang si macan, kera dan ular sangat setia mendampingi sang pendeta.

Suatu hari Sang Begawan mendapati seorang yang berkelana bernama Pande Swanangkara jatuh kedalam sumur. Sang pendeta menolong Pande Swanangkara dengan senang hati. Merasa kasihan terhadap Pande Swanangkara, diberikan sebuah mahkota putra raja Madura yang ditemukan Begawam ditengah hutan. Pande Swanangkara menerima mahkota itu dengan sumringah lalu bergegas pamit.

Pande Swanangkara kemudian menghadap Raja Madura untuk menghaturkan mahkota putra raja. Ia mengatakan, Begawan Dharmaswami memberikan mahkota ini karena beliau tiada lain yang membunuh putra raja. Raja Madura naik pitam lalu memerintahkan punggawanya untuk mencari Begawan Dharmaswami dan diikat dialun-alun kerajaan. Melihat hal tersebut para binatang, macan, kera, dan ular menyerang Kerajaaan Madura, Raja berhasil dipatuk oleh si ular hingga jatuh sakit.

 

Penasehat Raja mengatakan, hanya Begawan Dharmaswami yang bisa menyembuhkan Sanmg raja. Maka dilepaslah Begawan Dharmasawami, sang pendeta dengan suka hati segera mengobatinya. Raja seketika itu pulih kembali, diperintahkanlah para patih menangkap Pande Swanangkara untuk dihukum sesuai perbuatannya.

Itulah kisah Dramatari Gambuh yang ditampilkan Sanggar Seni Kakul Mas, Desa Batuan, Kacamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar serangkaian sesolahan seni sastra virtual Bulan Bahasa Bali 2021. Garapan tari klasik berjudul “Bhagawan Dharmaswami” ini ditayangkan Chanel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, pada Kamis (4/2) malam. Meski tampil secara virtual, drama tari yang tergolong klasik ini betul-betul menyajikan khas Gambuh Batuan yang biasa dilakukan seniman sepuh yang ada di desa itu.

 

Penampilan gambuh khas batuan ini bukan biasa-biasa saja. Walau sama-sama gambuh, tetapi ada sebuah ciri kahs yang membedakan dengan gaya gambuh dari daerah lain. Sebut saja, gerak tari dan gending yang dibawakan sangat kahs, dan beda dengan penampilan gambuh gaya Pedungan atau gaya Karangasem. “Gending-gending yang dinyanyikan adalah gending “meadan” (memiliki nama). Sebut saja salah satunya, Gending Sekar Gadung yang khusus dinyanyikan oleh tokoh Arya. Dalam gambuh lain juga ada, tetapi dengan nada yang lain,” kata Ketua Sanggar seni kakul Mas, I Ketut Wirtawan.

Sedangkan dalam tari, ciri khas Gaya Batuan itu ada pada gerak “ngalih pajeng” (mencari payung). Gerak tari yang unik ini, dilakukan oleh tokoh Arya, Prabu, Condong, dan Tumenggung Semua penari biasa melakukan gerakan seledet (gerakan mata melirik ke sudut mata). “Demikian pula iringannya yang menggunakan alat klasik khas Gambuh Batuan,” beber seniman yang biasa menjadi duta seni ke luar daerah ataupun luar negeri.

Garapan berdurasi sekitar 1 jam ini didukung oleh penari-penari muda dan tua. Demikian pula pendukung iringan musiknya, semuanya penabuh tua yang biasa tampil dalam kegiatan gambuh sebelumnya. Para penari terdiri dari Ni Ketut Kontri, Nrta Luhur, Swasti Dewi, Juniati, Sumariani, Ditha, Made Rubuh, Warja, Sudiawan, Sudarma, Yande Sukahati, Tilin Karismaya, Natya, Dek Swi, Mang Adi, dan Dek Edo. Sementara pendukung tabuh yakni, Marcono, Galang Widnyana, Artawa, Manggi, Mardika, Yan Agus, De Kori Agung, Samben, dan Daweg.

Garapan drama tari secara virtual ini, sebelumnya direkam disatu tempat, yakni di Sanggar Kakul Mas Batuan. Hal itu dilakukan, karena sebelumnya Sanggar Kakul Mas tampil secara luar Jaringan (Luring) yang mengambil tempat di Art Center, Taman Budaya. “Namun, karena situasi dan lain hal, Kami diminta panitia untuk tampil secara virtual juga. Maka itu, kami hanya merekam disatu tempat saja, dengan latar yang bisa yang berbeda-beda” kata Ketua Sanggar, I Ketut Wirtawan saat dikomfirmasi. [B/*]

Related Posts