October 29, 2020
Ulasan

IGN Sudibya dan Masker
Perisai Diri Dalam Kehidupan Dimasa Pandemi

Garapan tari ini tampak sederhana. Idenya pun sangat sederhana. Property yang digunakan juga biasa-biasa saja. Tetapi, kalau saja dicermati, setiap gerak yang disajikan syarat dengan simbol-simbol dan makna yang sangat dalam. Demikia pula, setiap property yang dimainkan mengandung arti dan pesan yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan era baru, seperti di saat pandemi ini. Ya…, itulah karya tari berjudul “Masker” yang ditampilkan pada ajang seni bertajuk “Bulan Menari” di Wantilan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, beberapa waktu lalu.

Mula-mula stage kosong dalam gelap, lalu cahaya secara perlahan menyinari area tertentu. Seorang penari kemudian berjalan sambil membawa masker, karet gelang, tali plastic, gunting dan screen dalam tas ke sebuah titik pada center stage. Ia, memperhatikan sekitar dengan seksama, namun enak dilihat oleh seluruh hadirin. Penonto lalu disadarkan dari sebuah sudut dengan cahaya dan posisi kamera video. Penari itu, duduk perlahan mengacu estetika. Tas yang sudah dibuka diletakkan disisi kanan atau kirinya. Layar kemudian muncul dengan menampilkan “sepuluh gambar” secara bergantian. Penari lalu penari memasang masker di seluruh item dengan mengeksplorasi ritme. Secara perlahan di layar muncul tulisan “Saringin…. Ilmu Pengetahuan”.



Dibalik kesederhanaannya, Masker merupakan karya tari sekaligus ditarikan oleh I Gusti Ngurah (IGN) Sudibya menjadi perhatian para penonton. Idenya, diambil dari perbincangan masker di Media Sosial (Medsos) Maret 2020, ketika itu wabah Covid-19 sudah mulai mewabah di Pulau Dewata. Orang-orang tengah sibuk memperbicangkan “masker” untuk menghindari penyebaran virus melalui area, mata mulut dan hidung. Padahal, masker itu sebuah simbol yang dapat dijadikan suluh hidup. “Persepsi saya, masker itu hanya bentuk fisik dan hanya sebagian kecil saja. Sesungguhnya reinterpretasi terhadap “masker” luas,” ujar koregrafer Sudibya.

Dosen seni tari yang kaya ide ini melihat “masker” tidak hanya sebagai penyaring bakteri yang masuk melalui mulut dan hidung, tetapi masker dijadikan symbol, hubungan tanda dengan acuanya yang sudah terbentuk secara konvensional, untuk menyaring berbagai hal yang ada ditubuh. “Konteks karya ini, ternyata Tri Kaya Parisuda belum cukup untuk menyaring tubuh. Maka lanjutan dari tri (tiga) itu bisa jadi dasa (sepuluh) yang semua masih dalam satu tubuh utuh, yaitu melalui pikiran, mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, prana, dubur dan hati,” ungkapnya.

Pria asal Gianyar ini lalu menterjemahklan Dasa Item itu kedalam gerap tari yang sederhana, namun sangat indah dan kaya petuah. Sebut saja, pikiran yang berguna untuk menyaring hal-hal negative menjadi positif, walau negative juga penting dalam memacu diri untuk menjadi lebih baik. Mata berguna untuk menyaring segala hal visual, mana yang boleh dan tidak boleh dilihat, sehingga dapat menciptakan diri menjadi tenang dan damai.

Hidung berfungsi untuk menyaring penciuman, walaupun semua bau ada di sekitar kita harus pasti dicum, tetapi, jangan semua dicium. Mulut, menyaring ucapan sesuai kaidah hidup, jangan seperti tanduk sapi “luh”, ngulah pesu. Telinga berguna untuk menyaring audio secara baik, dengarkan yang merdu walau ada juga yang fals. Tangan berfungsi untuk menyaring segala yang menggunakan tangan, lebih baik ringan tangan. Kaki untuk menyaring setiap langkah menuju kepada hal yang lebih baik. Prana untuk menyaring kegunaannya sesuai tahapan brahmacari, grehasta,wanaprasta, bhiksuka.



Sementara Dubur yang bertugas manyaring apa yang dikeluarkan (alami) dengan memperhatikan apa yang harus dimakan, dan Hati berguna untuk menyaring hal-hal yang bermanfaat agar tidak brocken heart. Berdasarkan hal tersebut, “masker” dapat dibaca, dimaknai sebagai perisai diri melindungi, memprotek secara utuh, jiwa dan raga dalam kehidupan sekarang dan masa datang, terutama bagi generasi muda. “Sangat bijak jika kita mampu menterjemahkan “masker” sesuai Desa, Kala, Patra untuk harmonisasi hidup baik kepada Tuhan, Sesama, maupun Lingkungan. Intinya, Jadilah, diri sendiri yang menyaring semua hal untuk kebermanfaatan individu maupun social,” ucap Sudibia.

Penampilan karya “Masker” sangat tepat dengan awal diselenggarakannya kembali “Bulan Menari”. Setelah hampir empat bulan fakum sebagai upaya pencegahan penularan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), kini ajang bulanan itu hadir dan dikemas secara berbeda. “Dimasa pandemic Covid-19 ini, Bulan Menari juga mengikuti protocol kesehatan Covid-19 yang sesuai anjuran pemerintah, sehingga pengisi acara maupun yang menonton tetap merasa aman dan nyaman,” kata Ketua Jurusan/Prodi Tari, Sulistyani, S.Kar,. M.Si. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *