November 28, 2021
Kreasi

“Ngelangenin” Gandrung Sakral Ketapaian Kelod

Gandrung, jenis gamelan tradisional Bali memang unik dan khas. Jika dimainkan suaranya terdengar sejuk, dan damai. Cobalah simak penampilan Kesenian Gandrung Sakral Eka Budaya, Banjar Ketapian Kelod secara virtual dalam acara Denpasar Maprawerti, Rabu 23 Desember 2020 serangkaian gelaran Denpasar Festival (Denfest) ke-13 Tahun 2020. Saat itu, sekaa kesenian klasik ini membawakan dua buah tabuh kreasi yang merdu. Dengan balutan tata panggung yang kreatif, Sekaa Gandrung Eka Budaya Banjar Ketapian Kelod ini tampil dengan suasana indah dan khas.

Gandrung Sakral

Kordinator Sekaa Gandung Eka Budaya, Br. Ketapian Kelod, I Made Sudiana menjelaskan, Gandrung merupakan kesenian klasik, tua sekaligus sakral di Banjar Ketapian Kelod. Keberadaan kesenian ini diperkirakan telah aktif dipentaskan sejak tahun 1928. Hal itu, dibuktikan dengan gambelan dan video yang diabadikan wisatawan asing pada saat itu. Kesenian ini bermula dari kejadian kabrebehan atau bencana yang terjadi di wilayah Banjar Ketapian Kelod, sehingga diperoleh petunjuk oleh pemangku setempat untuk mengaktifkan kembali kesenian Gandrung. Setelah dipentaskan lagi kesenian gandrung sakral maka seketika kebrebehan menghilang.

Gandrung sangat erat dengan perkembangan budaya masyarakat Desa Ketapian, Denpasar. Dari sejumlah sekaa di Bali, hanya warga Ketapian mampu melestarikan gandrung dari kepunahan. Karena itu, Ketapian identik dengan kejayaan gandrung di Pulau Dewata. Sebagai pelestari kesenian yang tergolong langka di Bali ini, Sekaa Gandrung Ketapian telah melakukan upaya berliku untuk mempertahankan tarian ini. Sebab, bisa dibayangkan betapa zaman dulu tidak gampang untuk menggali orang yang mau menekuni tari maupun tabuh. Namun, sekaa ini terus tabah menghidupkan gandrung sebagai bagian untuk melestarikan budaya agama, adat dan seni. [B/*]

Related Posts