Cancel Preloader

Bungbung Kepyak Jembrana Tampil di PKB Ke-44

 Bungbung Kepyak Jembrana Tampil di PKB Ke-44

Pernah mendengar Barungan Bungbung Kepyak? Alat musik itu, sebuah barungan gamelan tradisional yang konon hanya ada di Banjar Adat Kertha Sentana Dewasana, Desa Adat Kertha Jaya Pendem, Kabupaten Jembrana. Gamelan sederhana dan klasik itu biasa ditampilkan saat upacara di Pura Tri Kahyangan Desa desa setempat, dan khusus untuk Tari Jejogedan disajikan pada saat ada upacara yadnya. Nah, dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 lalu, kesenian Bungbung Kepyak tampil di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Art Center Provinsi Bali, Jumat 8 Juli 2022.

Kesenian Bungbung Kepyak, bukan kesenian joged bumbung, walau ada beberapa instrumennya yang menyerupai gerantang (gamelan jogged bumbung). Barungan Bungbung Kepyak yang ada di Jembrana ini bahkan diklaim keberadaannya satu-satunya di Bali. Kesenian yang didukung para seniman muda ini dimainkan dengan terampil, sehingga tampil menghibur. Tampil sebagai Duta Seni Kabupaten Jembrana, Sekaa Bungbung Kepyak Lila Budaya Dewasana, Banjar Adat Kertha Sentana Dewasana, Desa Adat Kertha Jaya Pendem itu menyuguhkan sebuah tabuh petegak berjudul Suryak Cegur dan empat tari jejogedan.

Tabuh petegak “Suryak Cegur” menggambarkan suasana alam yang kian jarang dijumpai di era modern ini. Suryak artinya debur, dan Cegur merupakan sebuah nama air terjun yang terdapat di Banjar Adat Kertha Sentana Dewasana. Riah riuh deburan air terjun yang memunculkan Deburan bunyi mencerminkan dinamika alam yang menarik dan mengagumkan. Fenomena ini menjadi inspirasi yang diimplementasikan pada komposisi gambelan Bungbung Kepyak dengan ragam penafsiran elemen music, seperti melodi, tempo, dan dinamika dicurahkan penuh sesuai gambaran situasi suasana asir terjun itu.

Bungbung Kepyak

Pada bagian, berikutnya berturut-turut mempersembahkan Tari Jejogedan, masing-masing diberi judul Kembang Dewasana, kemudian Tari Jejogedan Tuak Manis, Bajang Girang dan Tari Jejogedan Nedeng Mekar. Dalam tari jejogedan ini para penari mengajak panonton untuk ikut menari. Mereka tampil, seakan mengadu keahlian dalam melakukan gerak tari, sesuai dengan iringan musik. Penonton yang menari, terkadang menyajikan gerak lucu, sehingga mengundang gelak tawa penonton.

Baca Juga:  "Ngurug Pasih" Sesolahan Sanggar Asta Gita SMAN 8 Denpasar

Tarian Jejogedan tradisional seperti dalam tari Tuak Manis, nampak, tanpa tersentuh oleh modernisasi yang menjadikan ciri khas tersendiri, disajikan apik oleh para seniman muda itu. Begitupula dalam tarian Bajang Girang mengimplementasikam sebuah gambaran seorang gadis dengan penuh rasa gembira ketika menginjak masa remaja. Tingkah laku serta emosionalnya yang dicirikan dengan sebuah Tarian dengan Gerak yang energik selaras dengan pola gerak Tari Jejogedan Bali Kauh Negaroa. Sebagai persembahan terakhir disajikan Tari Nedeng Mekar, sebuah bunga yang sedang mekar dengan kecantikan, keindahan serta keharumannya yang sangat menarik hati sehingga kadang kala serasa ingin memetiknya.

Pembina sekaligus Bendesa Adat Kerta Jaya Desa Pendem, I Nengah Candra membenarkan keberadan Bungbung Kepyak di Jembrana ada di Banjar Kerta Jaya Pendem satu -satunya model bungbung kepyak di Bali. “Kalau awal jejogedan muncul di Yeh Kuning, Negara, sekitar tahun 1935, kemudian hijrah dari Yeh Kuning ke Desa Pendem tahun 1986, hingga sekarang masih kita lestarikan,” ungkap Nengah Candra.

Dalam penampilan di ajang PKB tahun ini, memang sepenuhnya menyajikan pergelaran Joged Bungbung Kepyak yang tradisi. Simbol-simbol tradisinya bisa dilihat dari pemasangan obor, kemudian barungan bambu lengkap tanpa menggunakan gong, kendang dan cengceng. “Kenapa obor, karena dulu belum ada listrik, sekarang kita simbolkan saja, begitupula kepyak yang artinya peganti cengceng, dulu nga ada cengceng, jadi bambu kepyak ini pegantinya,” jelasnya.

Antusias pemuda di Desa Pendem luar biasa, semangat membangkitkan warisan bungbung kepyak ini berlanjut hingga kini. “Anak-anak muda kami telah bangkit, mereka sangat antusias melestarikan tradisi yang diwarisi, spesial hari ini hanya ada dua penabuh yang cukup tua, sisanya kalangan milenial, berjumlah 35 orang,” tandasnya.[B/*]