Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru Warnai PKB XLVIII 2026

 Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru Warnai PKB XLVIII 2026

Sekaa Gong Bonangan Saluang Banjar Kebon, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, sebagai Duta Kabupaten Gianyar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII/Foto: darma

TIDAK ada kostum yang mencolok. Tidak pula tata panggung yang megah. Para penabuh tampil sederhana, hanya mengenakan saput yang dililit hingga dada, udeng, dan bunga pucuk merah di telinga kanan. Namun ketika tiga penabuh terompong mulai memainkan nada pertama, perhatian penonton langsung tertuju ke panggung. Bunyi Bonangan Saluang menghadirkan warna yang asing sekaligus akrab.

Itulah Rekasadana (Pergelaran) Bonangan Saluang yang dibawakan Sekaa Gong Saluang Banjar Kebon, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, sebagai Duta Kabupaten Gianyar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Nada yang dimainkan menciptakan suasana sakral dan khusyuk hingga menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, tempat mereka pentas, Kamis 9 Juli 2026.

Nada-nada yang terdengar sederhana, namun kokoh memantul di ruang pertunjukan. Bunyi pencon terompong dan bilah gangsa jongkok mengalun dengan karakter berat dan bertenaga, seolah membangkitkan semangat untuk merawat tradisi.

Meski area pertunjukan tidak dipenuhi penonton, setiap deret kursi tetap terisi. Hanya saja, sebagian besar penikmat yang hadir merupakan kalangan orang tua yang tampak menikmati setiap repertoar yang disajikan itu.

Bonangan Saluang merupakan barungan gamelan baru yang lahir melalui ajang PKB. Kehadirannya menambah kekayaan jenis barungan gamelan Bali sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi karawitan terus berkembang melalui kreativitas para seniman.

Barungan gamelan ini dimainkan oleh para penabuh senior. Mereka tampil sederhana dengan mengenakan kain saput yang dililit hingga menutupi dada, dipadukan dengan udeng khas Bali dan bunga pucuk merah yang terselip di telinga kanan. Tanpa banyak gerak teatrikal, para penabuh lebih menonjolkan ketepatan teknik permainan, sehingga karakter bunyi setiap instrumen terdengar jelas.

Ketika terompong panjang dimainkan oleh tiga orang penabuh, pukulan bilah jublag dan jegog membangun fondasi melodi, lalu diperkuat permainan kendang yang berpadu dengan ritme ceng-ceng, sehingga menghadirkan kesan dinamis dan menghentak. Sementara itu, kempur, kempli, bebende, dan gong saling mengisi hingga membentuk jalinan musikal yang utuh.

Bonangan Saluang merupakan konstruksi gamelan baru yang mengelaborasikan tiga karakter gamelan Bali, yakni bebonangan, selonding, dan gong luang. Barungan ini merupakan hasil inovasi dan eksplorasi komposer I Wayan Darya, S.Sn., M.Ag., yang mengembangkan sistem saih pitu menjadi sebuah konstruksi musikal dengan karakter baru.

Kehadiran barungan beserta repertoar gendingnya menjadi bukti bahwa kreativitas seniman Bali terus berkembang tanpa melepaskan akar tradisi. “Rencananya memang cukup panjang. Mulai bulan Maret proses pembuatan gamelan dimulai hingga akhirnya selesai, sehingga baru kali ini bisa ditampilkan kepada masyarakat melalui PKB XLVIII. Karena ini barungan baru, maka gending-gendingnya juga harus baru,” ujar Darya.

Dalam pementasan tersebut, Bonangan Saluang membawakan sejumlah repertoar yang disusun sesuai karakter barungan gamelan ini, mulai dari gending sesandaran, gegangsaran, pegongan, leluangan, hingga saslondingan yang dirangkai menjadi sajian tabuh klasik dengan nuansa baru.

“Karena dasarnya adalah gamelan bebonangan, selonding, dan gong luang, model gendingnya mengarah ke sana, tetapi tetap diciptakan dalam bentuk baru. Kami terlebih dahulu merancang model tabuh agar memiliki bentuk yang jelas. Mudah-mudahan penikmat bisa menerimanya,” harap Darya.

Beberapa karya yang ditampilkan antara lain Gending Sundaran, sebuah gegangsaran yang menggambarkan suasana masyarakat bergegas menuju lokasi upacara adat. Gending Pudak Sategal menghadirkan nuansa hening dan agung melalui karakter pegongan dan leluangan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Selanjutnya, Gending Baro tampil sebagai tabuh pategak gegilak rangkep yang memancarkan suasana riang dalam pelaksanaan yadnya. Gending Sekar Kemoning mengolah motif saslondingan dengan sentuhan lelambatan gaya Singapadu sehingga menghadirkan suasana teduh dan khusyuk saat prosesi pemujaan.

Karya lainnya, Gending Asep Menyan, menghadirkan nuansa kejawen yang hangat dan akrab. Sementara Gending Demung menampilkan karakter agung dan sakral sebagai simbol penyucian serta keseimbangan alam.

Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan Gending Baturan Silir yang mengolah bentuk bebaturan dalam pegongan Bali bernuansa klasik dengan pesan kebersamaan melalui konsep silih asih, paras-paros, sagilik-saguluk. Pementasan ditutup dengan Gending Sesandaran Lebeng yang enerjik sebagai simbol keberhasilan pelaksanaan upacara sekaligus ungkapan syukur atas keharmonisan alam semesta.

“Ini adalah pentas perdana Bonangan Saluang, sehingga semuanya benar-benar baru. Setelah barungan ini selesai dibuat dan diupacarai, kami sempat ngayah di Pura Dalem Desa Singapadu,” imbuh Darya.

Kurator PKB, Prof. Dr. I Wayan Dibia, mengapresiasi garapan tabuh klasik tersebut. Menurutnya, Bonangan Saluang menunjukkan bagaimana seniman Bali mampu membuka ruang eksplorasi baru melalui pengembangan instrumen maupun komposisi musik tradisi.

“Telah lahir sebuah karya gamelan baru. Ini menjadi motivasi bagi para seniman untuk terus menciptakan garapan tabuh melalui eksplorasi gamelan bebonangan dan saluang. Pesta Kesenian Bali menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkannya kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran Bonangan Saluang tidak hanya melahirkan sebuah ensambel gamelan baru, tetapi juga memperkaya khazanah karawitan Bali melalui lahirnya repertoar-repertoar gending baru.

Melalui karya ini, Sekaa Gong Saluang Banjar Kebon, Desa Singapadu, menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang berhenti pada masa lalu. Tradisi terus hidup dan berkembang melalui kreativitas, inovasi, serta keberanian para seniman dalam mengeksplorasi kekayaan budaya Bali. [darma]

Related post