January 24, 2021
Ulasan

“NG” Garapan Seni Komunitas Bumi Bajra Artikulasikan Bilah-bilah Selonding

Komunitas seni ini bernama Bumi Bajra. Berdiri sejak tahun 1990-an bernaung di bawah komunitas Maha Bajra Sandhi dan beralamat di Jalan Kebo Iwa Gang XVI No. 2B, Banjar Batukandik, Desa Padang Sambian Kaja, Denpasar Barat. Komunitas ini sebagai wadah rumah kreatif generasi muda untuk pelestarian, penggalian, pengembangan, dan ekplorasi baik itu seni tari, musik, dan vokal. Dalam setiap pentasnya, Bumi Bajra lebih sering menyajikan kesenian kontemporer dengan dasar tari tradisi Bali yang kuat. Sejak tahun 2000 secara kontinyu aktif dalam berbagai kegiatan seni yang bersifat eksploratif, meski sempat pasang surut dalam beberapa kurun waktu.

Komunitas Bumi Bajra

Komunitas yang didukung anak-anak muda kreatif ini, secara intens melakukan kegiatan dari beberapa agenda dan capaian terus melakukan eksplorasi-ekplorasi untuk menemukan sebuah inovasi-inovasi baru demi berkarya pada masa pandemic. Sebelum pandemi komunitas ini masih melakukan latihan rutin mingguan, mengisi event-event tahunan, penggarapan karya, explorasi karya dan yang lainnya. Namun, setelah pandemic, kegiatan mereka sedikit tersendat. Karya yang sudah on process tetap dilanjutkan dengan tetap mematuhi protocol kesehatan yang ditetapkan. Salah satunya ketika menampilkan karya seni yang ditampilkan dalam ajang Denpasar Young Festival yang disiarkan melalui youtube, Oktober 2020.

Dalam ajang seni sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar itu, Bumi Bajra mempersembahkan garapan bentuk tradisi lisan dengan mengangkat judul suku kata Pranawa “NG” yang merupakan sebuah konstelasi musik getaran Jiwa. “Kami bangga diberikan wadah kembali untuk berkreasi berkesenian kembali dan mengkesplorasi diri kembali. Semoga acara ini dapat menjadi acara yang terus berlanjut atau berkesinambungan, agar kami para seniman memiliki wadah khusus dan karya kami dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat,” kata Ketua Komunitas Bumi Bajra, Ida Made Adnya Gentorang.

Komunitas Bumi Bajra Denpasar mencoba mengeksplorasi gamelan selonding dengan mengartikulasikan bilah-bilah selonding tersebut. Selonding merupakan salah satu instrumen musik tertua di Bali. Terutama dalam konteks ritual keagamaan. Terlepas dari historisnya, getaran-getaran nada musik itu telah menjadi fenomena pada orang Bali, yaitu menggunakan intonasi nasal “NG” dalam beragam aktifitas baik dalam suasana religius (bergumam mengartikulasikan mantra-mantra) dan estetik (tradisi lisan, bermusik).

Tampak peranan yang begitu besar dalam bermusik sehingga pinisepuh Maha Bajra Sandhi menempatkan konstelasi musik getaran jiwa dengan korelasi-korelasinya menuju ke-Tuhan-an. Hal tersebut menginspirasi untuk menyajikan sebuah panggung tutur yang bertemakan Tutur Nada. “Tutur Nada merepertoarkan peranan musik yang luar biasa berdasarkan teks-teks panduan musik dalam tradisional dan bahkan hasil penelitian dari para filsuf-filsuf dunia. Sajian garapan ini juga mengangkat fenomena musik atas getaran “reng” dari bilah-bilah yang dibunyikan. Sama dengan suara nasal “NG” yang dihasilkan oleh suara hidung,” ujar pria yang akrab disapa Gus Gentorang itu.

Komunitas Bumi Bajra

Sifat bilah-bilah nada yang lateral, juga dipicu oleh eksposif seperti pengucapan “D” yang bisa diartikulasikan kedalam bentuk hentakan dan menghasilkan gelombang atau dentuman. Tentu peranan suara Nasal ‘NG’ akan tetap mengharmoni dengan getaran besinya. Meskipun tidak keseluruhanya bermain secara random, namun kembali pada esensi, maksud yang ingin dituju adalah ritme yang tak sama akan menghasilkan sebuah komposisi musik dengan olahan “Ng” pada keseluruhan nada selonding. Garapan yang didukung seniman remaja ini sangat kreatif. Permainan selonding dipadu dengan pembaca puisi. Adapun pendukungnya, Miya, Novi, Aca, Nisa, Baba dan Dek Mani. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *