January 23, 2022
Tradisi

Kalimosada: Usadha Bali Pinaka Panepas Pangradban Kaliyuga

Jika sempat mengikuti Widyatula (seminar) Bulan Bahasa Bali 2021 yang berlangsung secara Dalam Jaringan (Daring) Jumat, 5 Pebruari 2021, pasti terpesona dibuatnya. Pasalnya, Widyatula dengan tema “Kalimosada: Usadha Bali pinaka Panepas Pangradban Kaliyuga” itu mengupas seputar usadha yang menjadi perbincangan sangat menarik lalu. Usadha, ilmu pengobatan tradisional Bali itu begitu kaya dan sarat dengan filsafat Tuhan. Etika dalam menjalankan pengobatan begitu kuat, hingga memfungsikan kembali pekarangan rumah dengan berbagai tanaman obat.

Widyatula yang dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana ini menghadirkan tiga narasumber dari akademisi yang konsen dalam kajian usadha. Merela adalah Dr. Drs. I Ketut Jirnaya, M.S. (Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana), Dr. Drs. Ida Bagus Suatama, M.Si. (Prodi Ayur Weda Universitas Hindu Indonesia), dan I Ketut Sandika, S.Pd.H., M. Fil. H. (UHN IGB Sugriwa). Hadir sebagai moderator adalah I Ketut Eriadi Ariana, S.S (Jero Penyarikan Duuran Batur) seorang peneliti sastra yang juga seorang jurnalis.

Prof. Kun Adnyana saat membuka memberikan apresiasi kiprah para akademisi, penekun usadha atau praktisi usadha di Bali secara konsisten hadir, melalui penggalian dan membuka wawasan ilmu pengobatan tradisional yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. “Melalui Bulan Bahasa Bali yang ketiga ini, para praktisi usadha dengan berbagai sumber lontar dapat menggali khasanah literasi, dapat memperkaya ilmu pengobatan tradisional, sehingga bermanfaat bagi kehidupan kita. Melalui Bulan Bahasa Bali yang terselenggara menyemesta hingga ke seluruh Desa Adat di Bali benar-benar menjadi altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali,” katanya.

Jirnaya dalam makalahnya berjudul “Lontar Usada Budha Kacapi pinaka Dasar Miwah Tuntunan Para Balian ring Bali” menjelaskan, teks Budha Kecapi merupakan salah satu teks rujukan dalam dunia usadha di Bali. Teks ini ditemukan dalam berbagai varian seperti Budha Kecapi Putih, Budha Kecapi Cemeng, Budha Kecapi Sastrasangha, dan sebagainya. “Budha Kecapi memberikan penjelasan tentang hakikat pengobatan usadha, mulai dari proses diagnosa hingga pengotan. Juga tentang disiplin seorang balian atau dukun usadha,” paparnya.

Teks tersebut menyebut, suatu penyakit dalam diri manusia disebabkan oleh sejumlah hal. Dalam proses mengobati, seorang balian diarahkan untuk melakukan diagnose-diagnosa tertentu, sehingga diketahui apakah penyakit itu bisa disembuhkan atau tidak. Ada penyakit-penyakit yang diderita seorang pasien yang memang tidak bisa disembuhkan. Penyakit yang dimaksud bisa jadi telah menjadi jalan bagi penderita untuk meninggalkan dunia. “Jika telah diketahui seperti itu, seorang balian tidak dibenarkan untuk mengobati, karena melanggar hukum karma. Jika memaksakan kehendak, balian itu bisa kena dosanya. Mungkin hanya memberikan penawar rasa sakit atau sebagainya,” jelasnya.

Teks tersebut juga menegaskan jika seorang balian usadha tidak diperkenankan meminta tarif pengobatan yang justru membebankan pasien. “Kalau ada diberi sesari (uang) 10.000, balian hanya dibenarkan mengambil 7.000, jika sesari-nya 7.000 ambil 2.000, jika sesari-nya 1.700 ambil 500. Logikanya, pasien sudah susah, sehingga dengan mengembalikan sesari itu akan dapat membantu kembali pasien,” jelasnya.

IB Suatama dalam makalahnya berjudul “Mahosadha Taru Lata Taman Tamba Kulawarga” menjelaskan, berbagai jenis tanaman yang bisa digunakan untuk pengobatan usadha. Tanaman di dunia dapat dikelompokkan menjadi enam kelompok, melipui banaspati, wriksa, trena, gulma, kelompok prabu,patih, arya, demung,dan tumenggung, serta kelompok taru lata. “Banaspati adalah jenis kayu besar, namun tidak berbunga, seperti beringin, ara, bunut. Sedangkan wriksa adalah kayu besar yang berbunga, seperti kemiri, durian, cempaka, dan sebagainya,” ungkapnya.

Kelompok ketiga adalah jenis tanaman trena, yaitu jenis rerumputan. Kemudian, gulma adalah semak belukar. “Kelompok kayu prabu, patih, arya, demung, tumenggung , dan lainnya menurut pembagian kayu dalam Aji Janantaka, sedangkan lata adalah jenis tanaman yang merambat atau melata, seperti sirih,” jelas Akademisi yang juga praktisi usadha ini.

Terkait dengan keberadaan kayu-kayu tersebut, ia melihat saat ini hutan-hutan sudah tidak lagi lestari. Hal itu yang kemudian menyebabkan terjadi ketidakharmonisan alam, seperti terjadinya bencana alam dan juga penyakit. Dalam lingkup keluarga, pekarangan rumah saat ini juga banyak yang beralih fungsi. Masyarakat lebih suka menanam jenis tanaman hias, dibanding tanaman obat yang dapat memberi manfaat. “Saya mengajak masyarakat untuk menanam tanaman-tanaman obat ini mulai dari pekarangan, di wilayah desa adat, maupun di kantor-kantor. Tanaman obat ini jangan justru diganti dengan tanaman dari luar, tanaman hias,” ujarnya.

Sandika dalam makalahnya berjudul “Kaweruhan Tattwa Aksara Kalimosaddha-Kalimosaddhi “ lebih banyak menjelaskan aspek filsafat dari pelaksanaan usadha di Bali. Menurutnya, berbagai ilmu yang termuat dalam sejumlah teks usadha pada dasarnya terkait dengan filsafat ketuhanan yang disimbolkan dalam aksara-aksara. “Dalam Kalimosaddha-Kalimosaddhi, kita sejatinya diajak untuk mengetahui hakikat filsafat yang menjadi dasar mempraktikkan sastra-sastra tersebut. Filsafat ini dapat digunakan sebagai sarana untuk menghindarkan diri dari berbagai bentuk penyakit dan wabah. Pengetahuan inilah yang hendaknya digunakan untuk menghadapi kondisi zaman pada masa Kaliyuga ini,” terangnya. [B/*]

Related Posts