June 30, 2022
Ulasan

Pergelaran Bulan Bahasa Bali
Sanggar Bajrajnyana Music Theater Sajikan “Sanggita Karma Yoga Sanyasa”

Perdebatan tentang jalan menuju Hyang Maha Ada tidak pernah selesai sepanjang jaman. Bukan karena perdebatannya tidak mendapatkan titik temu, tetapi lebih pada perdebatan itu sendiri telah dikendalikan para pemegang kekuasaan. Jalan menuju Tuhan begitu banyak, sesuai dengan kecendrungan dan cara meniti hidup dari para panembah itu. Ada melalui pengetahuan yang membebaskan, ada yang khusuk dengan bakti, ada yang berkarya di tengah pasar dunia, dan ada yang melampaui keterikatan duniawi sebagai pejalan sunyi. Semua itu sejatinya jalan pembebasan jika kesadaran spiritual menjadi tujuannya.

Sanggar Bajrajnyana Music Theater

Persoalan jalan manembah ini, dijadikan perdebatan antara dua jalan besar, yaitu Yoga Sanyasa yang dianut Prabu Candra Bhairawa dari Kerajaan Dewantara dan Karma Sanyasa dianut oleh Yudistira Raja Astina Pura. Candra Bhairawa menekankan jalan yoga dengan melampaui lapisan kesadaran, mengembara dalam diri, badan adalah kuil suci untuk menuju Adi Budha. Semua yang ada di alam semesta, merupakan perwujudan dari Sang Keberadaan, oleh karenanya harus disayangi dan dihormati.

Sanggar Bajrajnyana Music Theater

Yudisitira sangat memaklumi apa yang dianut oleh Candra Bhairawa karena sudah mengalami panunggalan dalam yoga. Yudistira juga menghormati dan memuja alam sebagai Tuhan yang mewujud. Namun Yudistira menyadari bahwa tidak semua tingkat kesadaran rakyatnya bisa mencapai kesadaran supra. Oleh karenanya diperlukan upaya untuk mencapai kesadaran itu. Upaya ini adalah jalan karma dan bakti. Bagi Yudistira Karma, bakti, dan Yoga tidak dapat dipisahkan. Ke tiga Jalan itu, karma, bakti, dan yoga, yang manapun ditempuh dan dilakoni yang lain selalu menyertai karena dasarnya adalah kesadaran spiritual.

Sanggar Bajrajnyana Music Theater

Namun dalam konteks politik kekuasaan ke tiga jalan ini selalu dibenturkan sehingga terjadi konflik dan perang atas nama agama dan keyakinan. Candra Bhairawa dan Yudistira bertemu dalam perang yang dipicu oleh Kresna. Dalam puncak pertemuannya Yudistira dan Candra Bhairawa sejatinya telah mengalami kesadaran supra sehingga bersatu dalam kesadaran Shiwa. Dalam kesadaran murni Yudistira dan Chandra Bhairawa bersatu mengupayakan kesadaran masyarakatnya melalui karma, bakti dan yoga sanyasa. Memuja Tuhan dengan menjunjung kemanusiaan, melayani masyarakat dan dekat dengan alam.

Itulah kisah sesolahan (Pergelaran) seni sastra yang disajikan Sanggar Bajrajnyana Music Theater pada Bulan Bahasa Bali ke-3 yang ditayangkan Chanel Youtube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada, Rabu 10 Pebruari 2021 pulul 19.00 Wita. Garapan yang mengangkat judul “Sanggita Karma Yoga Sanyasa” ini berangkat dari dasar dan spirit teater tradisi Bali, yaitu teater yang bersifat total dengan mempergunakan berbagai elemen seni pertunjukan, seperti nyanyian, musik, tari, dan sastra.

Sanggar Bajrajnyana Music Theater

Walaupun pentas dan pengambilan gambar seperti cara membuat film, yang tempat pentasnya berpindah-pindah, tetapi masih kental dengan konsep teater arena (panggung). Cerita disampaikan melalui tembang (nyanyian) yang didukung musik dan tari. Melalui tembang inilah pesan filsafat dan spiritual yang menjadi inti dari agama itu disampaikan. Pesan yang dibalut dengan nyanyian dan tari itu memanfaatkan alat musik ricikan (yang diperlukan), bukan memakai barungan gambelan yang utuh, sehingga pesan itu terasa kuat.

Garapan berdurasi sekitar 50 menit itu menggunakan alat musik berupa gender wayang baru (berdaun 14 bilah), suling gambuh laras gender wayang, suling menengah laras gender wayang, bonang barung laras selendro, kenong laras selendro, selentem laras pelog dan selendro, penembung laras pelog, sepasang gong ageng, gong beri ageng (wind gong), kendang bedug, kendang ciblon, kendang sabet, sepasang kemanak, tambura (string instrument dari India) untuk mengiringi vokal, rebana besar atau terbang, perkusi yang terdiri dari berbagai gong beri kecil, dan genta.

Art Director, Konsep dan Naskah Karya Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn mengatakan, cerita yang digarap dalam karya ini diambil dari Tutur Candra Bhairawa yang mengisahkan tentang perdebatan Buda Paksa (Bajradara) yang dianut oleh Candra Bhairawa dari kerajaan Dewantara dan Shiwagama yang dianut oleh Yudistira raja Astina. Yang menjadi perdebatan sengit adalah jalan manembah yang bermuara pada Karma Sanyasa dan Yoga Sanyasa.

Candra Bhairawa manembah melalui jalan yoga sanyasa, memuja dewa yang ada dalam diri, dimana badan atau tubuh adalah meru sarira atu kuil suci dan dalam Padma hati atau Padma hredaya itulah Tuhan sebagai Sanghyang Wairocana atau Adi Budha dipuja. Candra Bhairawa tidak membangun pura, sanggah kabuyutan, arca lingga, pretima, dan tidak melakukan upacara pemujaan karena tidak percaya dengan dewa yang ada di luar diri, apalagi buta kala, pitra. Hal inilah yang menjadi dasar perdebatan.

Gusti Sudarta yang dibantu I Putu Gde Asra Wijaya, S.Sn dan Kadek Dewi Aryani, S.Sn sebagai penata tari serta Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn sebagai penata music membagi garapan itu dengan beberapa adegan (bagian). Setiap adegan itu menterjemahkan cerita yang diangkat.

Adegan Kidung Manggala Puja
Lantunan kidung memuja Tuhan sebagai Guru ( kata-kata atau cakepan dari teks sanskerta mantram guru), diawali dengan pengawit bonang selendro diiringi dengan 6 suling gambuh patutan gender wayang dan tambura sebagai drone instrument. Dilanjutkan dengan melantunkan puja kepada Sanghyang Tiga, Sanghyang Saraswati, Sanghyang Guru Reka, Sanghyang Kawi Swara. Kata-kata atau cakepannya diambil dari manggala Kekawin Candra Bhairawa dengan diringi sepasang kemanak, gong ageng, Suling Gambuh patutan gender wayang, diakhiri dengan gong beri ageng. Lantunan kidung puja ini ditarikan oleh seorang penari dengan pola dan ragam gerak manembah dan meditative.

Adekan Monolog
Adegan monolog berbahasa Bali ini bercerita tentang perdebatan dan pertentangan jalan memuja Tuhan. Dari jaman kuno perdebatan ini tiada akhir sampai hari ini. Monolog diiringi dengan komposisi gending bonang penembung. Penembung seperti berdialog dengan actor monolog, tidak sekedar menjadi musik ilustrasi.

Adekan Pesantian siki
Dalam adegan pesantian tampil tiga orang tokoh. Membahas tentang perjalanan Bima yang diutus oleh Yudistira menyelidiki di mana kiranya ada yang mejalankan agama yang berbeda. Bima akhirnya sampai di Kerajaan Dewantara dan merasa kagum dengan keindahan negeri ini. Sawah dan tegalannya luas dan rata, sungai besar dengan aliran air yang jernih tiada putus sepanjang musim, suasana damai dan tentram. Satu orang menembangkan bait kekawin yang dipetik dari kekawin Candra Bhairawa dengan lantunan tembang atau wirama anyar.

Adegan Kidung Wanwa
Menggambarkan keadaan desa-desa di Dewantara. Sawah dan tegalan yang luas dan hijau subur. Sungai besar airnya bening mengalir tiada putus sepanjang musim. Petani mengerjakan sawah dengan riang. Diawali dengan kawitan gender lalu tembang mengalir dibarengi alunan suling berdialog dengan tembang membangun harmoni. Melodi gender wayang mengalir dengan ritme pelan membangun pupuh saling menyahut dengan bonang barung selendro. Pada bagian pengecet gending gender membangun melodi dan dielaborasi kotekan bonang barung dan pattern kendang sabet dan kendang ciblon. Kelompok penari putri menarikan suasana desa ini dengan koreographi yang sederhana dan acting polos natural.

Adegan Pesantian Kalih
Tiga orang tokoh membahas tentang agama yang dianut oleh Candra Bhairawa. Tentang aji pegat dan Bajradara. Diceritakan juga Bima ketemu dengan Candra Bhairawa dan berdebat tentang yoga, upacara, dan wangsa. Bima melaporkan pertemuannya dengan Candra Bhairawa di Dewantara kehadapan Yudistira. Kresna marah dan tidak setuju dengan ajaran agama yang dianut Candra Bhairawa dan memutuskan untuk mengirim pasukan menyerang kerajaan Dewantara. Terjadi perang antara Astina dan Dewantara. Catur pandawa menyerah dihadapan Candra Bhairawa bahkan Kresna dalam rupa Ilahi Wisnu tidak mampu mengalahkan Candra Bhairawa. Dalam pembahasan ini dilantunkan bait kekawin Candra Bhairawa dalam wirama anyar.

Adegan Siat
Penggambaran adegan perang ini dengan menampilkan kelompok penari putra dengan property daun taep sebagai senjata. Tarian perang ini diiringi dengan bonang penembung laras pelog membangun melodi dan pattern kotekan dalam tempo cepat dan ritmis. Dilanjutkan dengan bentuk komposisi ritmis kendang sabet dan kendang ciblon, pattern pukulan rebana atau terbang, kajar trentengan, perkusi, gong beri ageng, gong ageng, dan cengceng.

Adekan Penyuwud
Keluar tokoh dengan membawa wayang Acintya bertangan delapan dengan masing-masing memegang simbol agama. Bernarasi tentang perbedaan jalan menuju Hyang Maha Ada jangan dipertentangkan, karena itu hanyalah kulit belaka. Intinya dalam kesadaran spiritual semuanya sama menuju Hyang Maha Suci. Jalan Karma, Bakti, dan Yoga tidak terpisahkan. Menjalani yang satu, yang lainnya pasti menyertai. Tidak ada yoga tanpa karma dan bakti, dan tidak ada karma tanpa bakti dan yoga. Karma sanyasa dan yoga sanyasa dua sisi dalam kesatuan. [B/*]

Related Posts