April 20, 2021
Kreasi

“Leak Ngalas” Juara I “Ngripta” Cerpen Mabasa Bali

I Putu Suweka Oka Sugiharta, I Wayan Wikana dan IGB Weda Sanjaya terpilih sebagai pemenang “Ngripta” Cerpen Mabasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021. Masing-masing terpilih sebagai juara I, II dan juara III. Ketiga pemenang itu terpilih dari 68 tulisan cerpen yang masuk ke panitia lalu bersaing secara ketat. Tim juri cipta cerpen itu terdiri dari I Gede Agus Darma Putra, S.Pd., M.Pd.B., Sastrawan Made Sugianto dan Putu Supartika, S.Pd.

Oka Sugiharta mengirimkan cerpennya yang berjudul “Leak Ngalas”. Adapun kisahnya tentang seorang gadis bernama Putu Puspita yang bertemu dengan perempuan tua bernama Dadong Wangi. Wanita yang sudah uzur itu selalu menjaga hutan yang ada di wilayahnya, hingga berani mengorbankan keluarganya. Namun oleh warga, Dadong Wangi digosipkan bisa “ngeleak”, sehingga akhirnya Dadong Wangi harus tewas dibakar hidup-hidup beserta hutan yang dijaganya. Kawasan hutan itu rencananya akan dibanguni villa.

Wikana dengan cerpen berjudul “Ngempi ka Alas Embid” berkisah tentang seorang lelaki tua yang akrab disapa Pekak Wana. Tanah Pekak Wana di perbukitan yang rimbun itu dijual oleh sang anak ke pihak desa adat. Karena tanah tersebut sudah menjadi milik desa adat, maka Pekak Wana diusir. Tanpa rumah, Pekak Wana akhirnya meninggal. Tanah tersebut kemudian dibanguni bangunan mewah dan berakibat pada kekeringan panjang. Namun suatu ketika, tiba-tiba hujan lebat yang membuat air bah dan membuat perbukitan tersebut ambrol.

Sementara Weda Sanjaya membuat cerpen berjudul “Madé Wana lan Klebutan ring Ulun Désa”.
Cerpen ini berkisah tentang seorang anak bernama Made Wana yang suka menggambar “klebutan” (mata air) di hulu desanya. Setiap menggambar klebutan, haus yang dirasakannya tiba-tiba hilang. Akan tetapi, tiba-tiba ada rencana pembangunan tower di lokasi klebutan tersebut.

Made Sugianto mengatakan, dalam cerpen berjudul “Leak Ngalas” itu konflik yang terbangun terjalin dengan rapi. Cerita diselesaikan dengan apik dan mengejutkan. “Bahasa yang digunakan sangat Bali. Karena banyak ada cerpen, walaupun berbahasa Bali, namun agak kaku, seperti diterjemahkan dari Bahasa Indonesia,” katanya, Senin 22 Februari 2021.

Animo generasi muda dalam mengikuti tinggi untuk turut serta berpartisipasi dalam berbagai lomba atau wimbakara datang dari kalangan generasi muda. Seperti dalam “Ngripta” Cerpen Mabasa Bali 2021 ini misalnya dibanjiri peserta. “Antusias peserta yang meramaikan ajang Bulan Bahasa Bali 2021 membawa angin segar,” tegasnya.

Walau demikian, Sugianto menyatakan, secara tema cerpen dalam lomba ini kebanyakan kurang bervariasi. Ada juga cerpen yang secara tema cukup bagus, namun penggarapannya kurang serius. Ada juga yang kurang menguasai tema yang diangkatnya. Namun, dari segi jumlah peserta dirinya merasa bahwa hal ini merupakan angin segar bagi perkembangan sastra Bali modern khususnya cerpen. “Kami berharap peserta lomba ini mau ikut memajukan keberadaan sastra Bali modern di Bali,” pungkasnya. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *