Teater Jineng di Ksirarnawa: Angkat Basur, Dendam dan Ilmu Hitam Berujung Petaka

 Teater Jineng di Ksirarnawa: Angkat Basur, Dendam dan Ilmu Hitam Berujung Petaka

Teater Jineng pentaskan Basur/Foto: darma

PENGUNJUNG Bulan Bahasa Bali VIII ngeri-ngeri sedap menyaksikan pementasan drama Bali modern bertajuk Basur di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis 19 Pebruari 2026. Kursi di gedung pertujukan modern itu penuh dengan penonton.

Ketika adegan Basur menyerang Ni Sokasi dengan mengeluarkan ilmu hitam suasana menjadi seram dan ngeri. Berbeda, pada adegan percintaan atau pada adegan balian yang akan menyembuhkan Sokasti, penonton tertawa terpingkal-pingkal saking lucunya.

Drama Basur itu disajikan oleh teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta). Pementasan ini tidak sekadar menghadirkan kisah klasik penuh intrik, tetapi juga menyuarakan pesan moral kuat tentang pentingnya menghormati perempuan sebagai sumber kehidupan.

Drama Basur mengisahkan gelora asmara Ni Garu yang bertepuk sebelah tangan kepada I Tigaron, putra tunggal I Gede Basur. Di sisi lain, dendam membara dalam diri I Gede Basur setelah gagal meminang Ni Sokasti untuk anaknya.

Amarah dan ambisi mendorong Basur menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai Ni Sokasti, memantik rentetan konflik bernuansa mistis yang berujung kehancuran.

Teater Jineng pentaskan Basur/Foto: darma

Melalui alur dramatik yang kuat, pementasan ini menegaskan bahwa kesombongan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan menjadi awal petaka. Basur, yang dikenal sakti, justru tumbang oleh kekuatannya sendiri setelah menistakan perempuan dan menyimpangkan ajaran suci.

Pembina Teater Jineng sekaligus penulis naskah dan sutradara, I Gede Arum Gunawan atau Jro Arum, menegaskan bahwa lakon Basur relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia menyoroti pentingnya peran ibu dalam pembentukan karakter anak.

Dalam kisah ini, tiga keluarga digambarkan kehilangan sosok ibu, namun dengan hasil berbeda. Ni Sokasti dan Ni Rijasa, meski ditinggal sang ibu sejak kecil, tumbuh dengan pengasuhan berbasis sastra agama oleh ayahnya, Nyoman Karang.

Baca Juga:  I Wayan Turun Menerima Penghargan Bali Kerti Bhuana Mahottama

Sebaliknya, I Tigaron yang dimanja ayahnya tanpa figur ibu, berkembang dengan mental dan karakter rapuh. Nasib serupa dialami Ni Garu yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.

“Cerita ini menjadi cerminan pentingnya pola asuh dan penghormatan terhadap ibu serta perempuan. Banyak persoalan sosial, termasuk kehancuran rumah tangga, berakar dari sikap tidak hormat terhadap perempuan,” tegas Jro Arum.

Dalam simbolisasi spiritual, dua sosok sakral dihadirkan, yakni Bhatari Saraswati sebagai lambang keluhuran ilmu pengetahuan dan Bhatari Durga sebagai simbol kekuatan sekaligus penghancur.

Basur yang menyalahgunakan kesaktian akhirnya mendapat hukuman dari Bhatari Durga melalui perantara Ni Garu. Jiwa yang ternodai kesombongan dan pelecehan terhadap perempuan berujung pada pencabutan nyawanya.

Kisah ini bersumber dari Geguritan Basur dengan empat rujukan naskah, yakni koleksi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Gedong Kertya, koleksi pribadi, serta Balai Bahasa Provinsi Bali.

Jro Arum mentransformasikan pupuh-pupuh geguritan menjadi dialog dramatik yang komunikatif tanpa kehilangan ruh sastra klasiknya.

Pementasan tampil apik lewat perpaduan gamelan selonding dengan sentuhan musik modern seperti gitar bass, keyboard, dan musik digital.

Tembang-tembang pemanggungan memperkuat atmosfer dramatik, didukung penghayatan para pemain yang sebagian besar memiliki dasar kemampuan matembang.

Melibatkan 58 orang pendukung produksi, Basur menjadi bukti komitmen generasi muda dalam merawat, mereinterpretasi, dan menghidupkan kembali sastra klasik Bali agar tetap relevan dengan dinamika zaman.

Di akhir pementasan, pesan moral mengemuka dengan tegas: keteguhan nyastra dan iman menjadi pagar keselamatan, sementara kesombongan dan ketidakadilan terhadap perempuan hanya akan menuntun pada kehancuran. [B/darma]

Related post