November 30, 2021
Ulasan

“Anglep Sari” dan “Markandya Lango” Persembahan Sanggar Seni Tedung Agung Ubud di Bulan Bahasa Bali 2021

Jika ada waktu, tontonlah Sesolahan Seni Sastra (pegelaran) “Campuhaning Rasa” dari Sanggar Seni Tedung Agung Ubud di Chanel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Sesolahan serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021 sudah mulai ditayangkan sejak Jumat, 26 Pebruari 2021 pukul 16.00 Wita – 18.00 Wita. Ada dua karya seni yang disajikan yaitu Tabuh Pelegongan Klasik “Anglep Sari” dan Tari Legong “Markandya Lango”. Walau pentas seni secara Dalam Jaringan (Daring), namun sanggar seni yang berpusat di Ubud, Gianyar itu menampilkan karya yang sangat kreatif, dan yang pasti menginspirasi.

Dalam pegelaran kali ini sanggar seni yang didukung para seniman muda itu sangat serius, sehingga melibatkan para seniman handal dan memiliki jiwa seni tinggi. Penata tabuh dipercayakan kepada I Wayan Sudirana dan penata tari Gde Agus Krisna Dwipayana serta I Nyoman Cerita sebagai penasehat. Sementara Tjokorda Putra Sukawati, sebagai penanggung jawab Sanggar Tedung Agung, dan Tjokorda Agung Ichiro Sukawati sebagai penanggung jawab pementasan.

Dari total 38 menit penampilannya, diawali dengan menyajikan tabuh berjudul “Anglep Sari”. Tabuh ini merupakan tabuh petegak klasik pelegongan gaya peliatan karya dari Wayan Sudirana. Anglep artinya elok atau indah, dan Sari artinya inti. Tabuh ini merupakan sebuah rangkuman sari-sari keindahan gaya klasik pelegongan khas Guru Lotring, diantaranya ada Gambangan, Angklungan, dan Sekar Gendot. Mendengar alunan nada-nada dalam bilah gamelan itu, membuktikan sang penggarap memiliki segudang pengalaman dalam memainkan berbagai jenis gamelan klasik ataupun yang tergolong baru.

Tedung Agung Ubud

Sejak tabuh itu dimulai, telinga rasanya damai karena mendengar alununan melodi dalam rangkaian ritme yang mencerminkan gaya klasik khas Pelegongan kuno yang sarat muatan estetik. Apalagi didukung para penabuh dengan menggunakan busana yang sangat sederhana, namun tampak klasik, sehingga membuat karya ini berbeda dari karya-karya lainnya. “Kalau bedanya, itu tergantung orang yang mendengarkan. Tapi, kalau saya sebagai komposer, kedua karya ini berbentuk klasik baru (neo-classical). Artinya pola ritme dan melodi klasik menjadi dasar atau pondasi, kemudian dikemas dengan tampilan klasik di jaman sekarang,” kata penata tabuh Wayan Sudirana.

Tedung Agung Ubud

Sajian seni kedua, Sanggar Seni Tedung Agung menampilkan “Markandya Lango”, sebuah garapan tari pelegongan klasik baru (neo-classical). Tari Legong “Markandya Lango” ini mengangkat cerita perjalanan Maha Rsi Agung Markandya di tanah Bali. Sebagai seni pertunjukan, Markandya Lango ini memang sangat klasik, dan menorehkan beberapa bentuk kekinian. Pakem-pakem klasik pelegongan dipertahankan dengan nafas dan warna khas pelegongan Peliatan. Namun, ada hal-hal baru yang diolah, sehingga tetap saja tampak klasik.

Tedung Agung Ubud

Sebut saja gelungan yang digunakan, bukan menggunakan geluangan dari kulit yang dipulas dengan prada lalu dimeriahkan dengan pernak-pernik lainnya. Gelungan sebagai hiasan kepala hanya memanfaatkan janur (ental) yang dirancang begitu indah, bentuknya baru, namun tampak sangat klasik. Demikian pula simping yang menggunakan kain dipadu dengan hiasan ental yang menarik. Kain putih polos, baju berwarna putih serta selendang dan lamak bermotif klasik, namun sangat indah.

Gde Krishna Dwipayana mengaku, sebagai penata tari palegongan itu idenya terinspirasi dari tarian legong klasik. Beberapa poin yang menjadi ciri khas tarian legong tetap dipertahankan. Tari Legong “Markandya Lango” ini didukung oleh 7 penari, diantaranya 6 penari perempuan dan 1 penari laki lakiyang berperan sebagai Rsi Markandya. “Dalam penataan costum, saya ingin ada yang menjadi ciri khas yaitu ada pada pernak-pernik yang terbuat dari janur (ental) itu. Janur itu dianyam, namun tidak menghilangkan ciri khas dari Tari Legong,” paparnya.

Warna putih dalam costum legong ini mengkaitkannya dengan Maha Rsi yang suci dengan perlambangan warna putih.
Bahan ental yang dipakai sesuai dengan tema Bulan Bahasa Bali yaitu “Wana Kerthi, sehingga berupaya untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita (alam). “Disamping itu dalam cerita juga sudah tertera, bahwa pesan yang ingin disampaikan alih fungsi lahan yang berasal dari kawasan hutan di Pulau Bali tidak bisa dilakukan sewenang-wenang tanpa memohon izin kepada Dewa penguasa hutan, melakukan caru, dan memendam panca datu untuk meraih kemakmuran,” jelasnya.

Menurutnya, ini garapan khusus yang disajikan dalam ajang Bulan Bahasa Bali secara virtual. Karena ini gerak, kostum dan kebutuhan pola lantai semuanya dibuat baru. “Namun, kami dari Sanggar Tedung Agung Ubud, juga mengarsipkannya,” tutupnya. [B/*]

Related Posts