January 23, 2022
Kreasi

“Wreksa Kastuba” Sendratari ISI Denpasar interpretasi Tema PKB XLIII

Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII dibuka resmi secara virtual oleh Presiden Joko Widodo dari Istana Negara, Sabtu 12 Juni 2021. Selanjutnya dibuka secara simbolis dengan penancapan kayonan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Memparekraf) RI, Sandiaga Uno di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali. Setelah pembukaan dilanjutkan dengan penampilan “Wreksa Kastuba” garapan seni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang sanggup memukau para undangan.

Sendratari dengan model kreatif ini berdurasi 40 menit dan dipentaskan secara langsung, serta ditayangkan secara live di media TV dan media sosial milik Pemprov Bali dan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali. Maklum, di masa pendemi Covid-19 ini, undang yang boleh manyaksikan pementasan itu hanya 100 orang menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Sendratari “Wreksa Kastuba” merupakan interpretasi tema PKB XLIII tahun 2021 “Purna Jiwa: Prananing Wana Kerthi (Jiwa Paripurna Nafas Pohon Kehidupan). Kisah yang diangkat tentang Japatuan, yang mengisahkan keutamaan fungsi dan peranan tumbuh-tumbuhan di dalam jiwanya dan bagi kehidupan manusia di alam semesta. Pementasan sendrari ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karya ini berbentuk seni pertunjukan inovatif, berbasis ko-kreasi merupakan hasil kontribusi dari berbagai bidang seni melalui kerja kolaborasi dengan media virtual (LED). Walau dipadu dengan teknologi IT, namun garapan ini tampak lebih inovatif, bukan sebagai seni tempelan.

Apalagi, terwujudnya pertunjukan inovatif ini didukung oleh Sanggar Seni Karawitan Bungan Dedari bekerjasama dengan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan pendukung sebanyak 75 seniman muda menjadikan sajian ini lebih menarik. Seniman akademis yang memang pilihan itu, mampu menterjemahkan tema PKB lewat gerak tari dan komposisi karawitan yang memang serius. Apalagi didukung seorang dalang dan narasi, sehingga pesan yang terkandung dalam garapan tersebut bisa sampai kepada penonton.

Wreksa Kastuba

Pertunjukan seni yang memanfaatkan media virtual itu seakan memberi penegasan suasana dalam garapan. Sebab, layan yang berada di belakang penari akan selalu berubah-ubah sesuai denga kebutuhan adegan. Sebut saja, pada saat megisahkan suasana di hutan, maka gambar yang ada itu akan menyajikan hutan sungguhan dalam bentuk tayangan. Demikian pula ketika dalam suasana nirwana, maka gapura megah lengap dengan aksesorisnya ada di layar itu. Terkadang adekan di panggung dilanjutkan dengan adegan di layar LED itu, demikian sebaliknya.

Menariknya lagi, walau penari dan penbuh menggunakan alat pelindung diri, sebagai penerapan prorokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19, para penyaji seni itu tetap enerjik serta mampu membeberkan kisah dalam seni pertunjukan. Para penari tak hanya menyajikan lihai dalam melenggaklenggokan tubuhnya, tetapi juga mampu menyampaikan pesan lewat gerak ritmis yang indah. Apalagi dikuatkan dengan aksen gamelan, membuat sajian seni ini sangat menarik dan sarat pesan.

Art Director Sendratari “Wreksa Kastuba”, Dr. I Gusti Putu Sudarta, S.SP.,M.Sn., mengatakan, dalam karya cipta seni ini banyak nilai yang bisa dipetik dan disampaikan kepada masyarakat. Terutama tentang pengembaraan ke dalam diri yang melampaui lapisan-lapisan kesadaran, lapisan tubuh, lapisan fisik, lapisan mental sampai menemukan sesuatu yang hakiki, spiritualistas. “Kisah Sendratari “Wreksa Kastuba” ini dibagi dalam 3 babak,” ungkapnya.

Pertama, tentang kisah kehidupan Japatuan yang kehilangan istrinya, yaitu Ratnaningrat yang tiba-tiba meninggal. Kemudian babak kedua, Japatuan memulai pengembaraannya untuk mencari istrinya hingga ke Surga. Dalam pengembaraannya ini banyak pengelaman yang didapat. Mulai belajar ilmu kemoksan dari para Rsi yang ahli Weda, bagaimana menyayangi lingkungan sekitar, hingga mengerti bahwa dalam hidup ini kita saling bergantungan satu sama lain. Dengan pengetahuan yang didapatkannya itu, hingga akhirnya dia menemukan istrinya di Surga.

Menurut Gusti, dari kisah sendratari inilah kita mesti belajar bahwa menyayangi alam semesta adalah menyayangi diri kita sendiri, karena apa yang ada di alam semestar ini ada dalam tubuh manusia, sehingga manusia harus peduli terhadap pohon dan kehidupan alam lainnya selain kepada kehidupan manusia itu sendiri. “Karena tidak ada dalam kehidupan di dunia ini kita hidup sendiri-sendiri, semua saling bergantungan dan saling mensuport, karena satu tidak seimbang akan menjadi bencana untuk semua,” pungkasnya.

Adapun kisahnya, I Japatuan setelah pulang dari menuntut ilmu. Ia menceritakan semua pengalamannya kepada Gagak Turas (kakaknya) selama belajar di Pesraman dengan para Rsi yang ahli Weda dan ilmu Kamoksan. Melalui semadinya, I Japatuan mendapatkan seorang istri yg sangat cantik anugrah dewa Indra yg bernama Ratnaningrat. Atas perintah dewa Indra, Ratnaningrat ditugaskan menguji kemampuan suaminya, dan setelah itu memerintahkan agar kembali ke Surga. Setiap hari Ratnaningrat bertanya tentang ilmu kedyatmikan yg dimiliki suaminya. Setelah sangat paham Ratnaningratpun sakit keras dan mati.

I Japatuan sangat sedih dan ingin mengakhiri hidupnya. Namun atas saran I Gagak Turas, mereka pun pergi kesurga mencari Roh Ratnaningrat. Atas petunjuk Dewa Durga, dan bantuan Manuk Dewata, bantuan seekor Buaya, Belut Bleganda, serta Asu Gaplong mereka berdua bisa sampai di Surga.

Di Keindraan Batara Indra sedang menonton tari legong yang ditarikan oleh Ratnaningrat, situasi menjadi gaduh, Batara Indra mengetahui kedatangan I Japatuan dengan Gagak Turas, kemudian merubah wujud Ratnaningrat menjadi seekor burung. I Japatuan melihat seekor burung yang sedang menangis dan memanggil namanya, dia menunjuk bahwa burung itu adalah istrinya. Karena keutamaan dan kesetiaan I Japatuan akhirnya Ratnaningrat diijinkan kembali kedunia mendampingi I Japatuan menjadi raja di negeri Daha. [B/*]

Related Posts