September 19, 2021
Kreasi

“Wana Prana Jiwa Bhuana” Sendratari Dipenghujung PKB XLIII

Rekasadana (Pergelaran) Sendratari “Wana Prana Jiwa Bhuana” produksi dari SMK Negeri 3 Sukawarti, Gianyar (Kokar) menutup perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII di Gedung Gajah, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Sabtu 10 Juli 2021. Pergelaran seni yang mengangkat Epos Mahaberata itu, tak hanya digarap secara apik yang mengedepankan unsur keindahan, tetapi juga syarat pesan. Mulai, pesan lingkungan, menjaga hutan, pelestarian budaya leluhur serta rukun menjaga persatuan untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera. Hal itu diwujudkan melalui gerak penari dan property yang dimainkan, serta dipertegas dalang dan tukang tandak.

Pergelaran Sendratari berdurasi sekitar 1 jam itu menjadi sangat menarik, karena dipadu teknologi dalam sebuah adegan serta kebutuhan koreografi. Layar besar dibelakang panggung itu bukan sebagai tempelan saja, melainkan menjadi satu kesatuan dalam garapan tersebut. Sebut saja dalam adegan paruman Duryadana dengan para pengikutinya itu dilakukan di panggung dan dalam layar. Setelah adegan menuju para prajurit, Duryadana keluar layar lalu masuk dalam stage menjadi adegan secara nyata. Demikian pula dalam suasana adegan yang lain, tetap memadukan dengan teknologi sehingga karya itu semakin menarik.

Diawal pementasan, dikisahkan Bima dan saudara-saudara dan Kunti ibunya untuk mewujudkan Narawanata yang bersih dan rindang. Panca Pandawa yang sebelumnya diundang oleh Duryadana untuk menghadiri pesta di desa itu, sebagai tipu muslihat untuk membinasakan lima bersaudara. Ia telah mempersiapkan Rumah Gala-gala sebagai tempat untuk membakar Panca Pandawa. Pandawa tidak menaruh curiga, sehingga mereka ikut saja. Ternyata desa itu kumuh, kotor dan masyarakatnya keterbelakang. Atas saran Krisna, desa itu kemudian disulap menjadi desa yang bersih, indah dan makmur.

Pandawa dengan segala kekuatannya mengubah desa itu menjadi lebih indah, damai dan seluruh warganya hidup sejahtera. Garapan yang menggunakan barungan Gong Kebyar sebagai iringan musiknnya seakan mengingatkan para penonton untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sejuk. Tanaman yang ada, tak hanya dibuat tumbuh, tetapi juga ditata agar lebih indah, serta sesuai dengan fungsi. Hal tersebut ditunjukan dengan tarian hutan, dimana para penari yang berbusana tari dan dikombinasi dengan tumbuh-tumbuhan. Daun, ranting pohon dan lainnya tak hanya sebagai property, tetapi juga ditarikan sebagai bagian dari garapan itu sendiri.

Wana Prana Jiwa Bhuana

Duryadana yang didukung kelicikan Sekuni, tidak terima. Ia lalu meminta bantuan kepada Drona. Bagawan Drona tidak langsung mengiyakan, tetapi justru menasehati. Duryadana agar tidak bertengkar bersama saudara, justru harus bersatu untuk menjagta kesatuan kerajaan. Namun, Duryadana tidak terima, sehingg disarankan untuk minta bantuan Raja Detya Wesang geni dari kerajaan Mani Jyoti. Pertemupuan terjadi, sehingga Raja Detya Wesang geni terbunuh. Pandawa kemudian melanjutkan perjalanan ke Rumah Gala-gala untuk memenuhi undangan Duryana mengikuti pesta.

Rencana busuk Duryadana yang menyuruh Sang Purucana membuat Rumah Gala-gala itu didengar Patih Widura. Ia lalu, mengutus putranya Sang Kenana untuk menyampaikan berita yang tak baik itu. Sang Kenana menyampaikan pesan ayahnya itu kepada Bima, sehingga mereka kemudian berinisiatif membuat goa untuk menyelamatkan diri, jika nantinya rumah buatan itu terbakar. Dan benar, Rumah Gala-gala terbakar, sehingga Bima mengajak saudara-saudara dan ibunya untuk mentelamatkan diri melewati goa itu. Panca Pandawa bersama ibunya lalu selamat, sehingga sampai di Hutan Kuru Baya. Kunti lalu mengajak anak-anaknya untuk tidak kembali ke Astina, namun melakuka penyamaran, sehingga tak diketahui Duryadana.

Namun, sebelum penyamaran dimulai, Kunti berpesan kepada anak-anaknya untuk tetap bersatu. Kunti mengtingatkan, kejadian kebakaran yang direncanakan Duryadana itu agar mengambilo hikmahnya untuk tetap bersatu, seperti telur dalam bengbengan, jika pecah satu makan pecah bersama-sama. Kunti juga berpesan untuk menjaga alas (hutan) sebagai sumber pengurip Bhuwana. Manusia tidak akan mendapat merta (kehidupan), kalau tidak menjaga hutan. Sayangilah hutan seperti menyayangi diri dan saudara. Sayangi sarwa prani (tumbuhan yang ada di hutan), sehingga terbebas dari kesengsaraan serta dunia ini menjadi tetap seimbang. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!