November 26, 2021
Pernik

Empat Tokoh Seni dan Budaya Terima Penghargaan “Dharma Kusuma”

Dihari jadi ke-63 Provinsi Bali, Empat tokoh seni dan budaya yang secara total mengabdikan dirinya pada bidang seni dan budaya menerima penghargaan “Dharma Kusuma”. Penghargaan itu diserahkan oleh Gubernur Bali Wayan Koster pada puncak Peringatan Hari Jadi ke-63 Provinsi Bali yang digelar secara sederhana dengan peserta terbatas di Kantor Gubernur Bali, Sabtu 14 Agustus 2021. Empat tokoh penting itu, yaitu Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang atau saat walaka I Gusti Bagus Sudyatmaka Sugriwa (budayawan), Ni Nyoman Tjandri (seniman seni pertunjukan), Jero Mangku Wayan Muliarsa (seniman seni lukis) dan almarhum I Komang Gde Urip Tribhuana (seniman dan pembina tari).

Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang yang saat walaka bernama Drs. I Gusti Bagus Sudhyatmaka Sugriwa, M.M. adalah budayawan asal Buleleng yang memiliki kiprah panjang dalam melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Bali. Dibidang seni budaya mulai ikut serta dalam penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak pertama kali tahun 1979. Kisah keterlibatannya bermula dari jejaknya masuk ke dunia penyiaran radio tepatnya ke Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar. Ida Rsi dipercaya menjadi reporter, sekaligus pembuat dan pembaca berita Bahasa Inggris. Sejak Juni 1979, saat PKB pertama digelar, Ida Rsi Agung dipercaya sebagai Seksi Publikasi Dokumentasi Panitia PKB. Kiprahnya Ida Rsi didaulat menjadi pembina Gong Kebyar belasan tahun hingga menjadi juri berbagai lomba kesenian.

Ni Nyoman Tjandri yang akrab disapa Ninik Candri ini merupakan seniman yang biasa memerankan sejumlah tokoh berbeda dalam kesenian Dramatari Arja. Banyak penari hebat dibidang arja, akan tetapi belum tentu mampu memerankan semua tokoh sesuai watak dan pakemnya. Ninik Candri (72) tahun berasal Desa Singapadu, Gianyar adalah tokoh seniman tari yang getol dan gigih melestarikan pakem kesenian tari Arja khususnya khas Singapadu. Jasa, prestasi, dan pencapaiannya dalam penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali sangat luar biasa, sehingaa wajar menerima anugerah Dharma Kusuma 2021 dari dari Pemerintah Provinsi Bali.

Jero Mangku Wayan Muliarsa salah seorang penekun lukisan klasik wayang Kamasan, Klungkung. Sosok seniman alam ini hingga kini masih memegang teguh pakem-pakem lukisan klasik wayang Kamasan. Setiap goresannya benar-benar klasik dan metaksu, sehingga ia menjadi penjaga asa kelestarian warisan leluhur yang masih asli itu. Sedangkan, , Sementara itu, I Komang Gde Urip Tribhuana asal Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli merupakan seniman tari dan pembina tari yang aktif melakukan kegiatan “ngayah” ke berbagai pura di Provinsi Bali, bahkan hingga ke Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Almrahum juga aktif mengajarkan tari untuk warga Bali, dia juga aktif melakukan diplomasi budaya hingga ke mancanegara seperti ke Jepang, Singapura, Amerika Serikat, San Fransisco, Australia, Korea Selatan dan sejumlah Negara di Benua Eropa.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengatakan, penghargaan ini sekaligus implementasi visi Pembangunan Provinsi Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. “Selain itu, penghargaan yang telah diserahkan oleh Gubernur Bali Wayan Koster itu merupakan aktualisasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali,” katanya saat dikonfirmasi, Minggu 15 Agustus 2021.

Penghargaan Dharma Kusuma merupakan penghormatan dan pengakuan Pemerintah Provinsi Bali atas jasa, prestasi dan pencapaian seniman, budayawan, ilmuwan maupun tokoh masyarakat dalam penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali. “Mekanisme proses pemberian Penghargaan Dharma Kusuma didasari atas usulan dari perangkat daerah yang menangani urusan kebudayaan di masing-masing kabupaten/kota, lembaga pendidikan tinggi bidang kebudayaan dan lembaga non-pemerintah di bidang kebudayaan,” jelas Pejabat asal Pujungan, Tabanan ini.

Aspek verifikasi atau penilaian yang telah ditetapkan, meliputi pengalaman beraktivitas di bidang-bidang penguatan dan pemajuan kebudayaan dan karya monumental atau gagasan yang sudah terpublikasi. Kemudian ada pengakuan masyarakat (sekurang-kurangnya mendapat tiga rekomendasi dari tokoh/lembaga, pengaruh karya dan atau gagasannya terhadap penguatan dan pemajuan kebudayaan. Sementara yang terakhir, pernah mendapat penghargaan sekurang-kurangnya di tingkat kabupaten/kota, baik melalui lomba, pengabdi, maupun penciptaan karya.

Prof. Arya Sugiartha menegaskan, penerima Dharma Kusuma berhak mendapatkan piagam penghargaan, lencana emas seberat 20 gram, dan uang masing-masing sebesar Rp 50 juta. “Dengan penghargaan Dharma Kusuma ini, kami harapkan mampu memotivasi generasi penerus bangsa untuk mengabdikan keahlian, memiliki integritas, dedikasi, dan kontribusi dalam penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali secara berkelanjutan, yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya. [B/*]

Related Posts