November 26, 2021
Tradisi

Raih Sertifikat KIK, Permainan “Megandu” Milik Desa Adat Ole

Megandu yang merupakan permainan tradisional masyarakat agraris di Desa Adat Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan telah meraih Sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham RI). Dengan mendapatkan hak paten tersebut, maka permainan Megandu sudah menjadi milik Desa Adat Ole. Sertifikat KIK yang diraih ini merupakan memperjuangan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana (BEM FH Unud) melalui program Desa Adat Ole sebagai Desa Binaan. Sertifikat KIK ini sebagai tanda bukti kepemilikan masyarakat Desa Adat Ole.

Sertifikat KIK diserahkan oleh Ketua Panitia Desa Binaan, Kadek Mahesa Gunadi didampingi Ketua BEM FH Unud, Gilbert Kurniawan Oja dan diterima oleh Sekretaris Desa Adat Ole, I Made Sukerta mewakili Jro Bendesa Adat Ole dalam acara penutupan Desa Adat Ole sebagai Desa Binaan BEM FH Unud di Bale Serbaguna desa adat setempat, Sabtu 18 September 2021.
Ketua Panitia Desa Binaan, Kadek Mahesa Gunadi juga memberikan plakat desa binaan kepada I Wayan Weda dan I Nyoman Budarsana, dua seniman yang getol melestarikan Permainan Megandu. “Selama ini permainan tradisional Megandu belum mendapatkan perlindungan hukum, sehingga dalam kegiatan program desa binaan itu, BEM FH Unud menjadikan hal itu sebagi program disamping sebagai pendampingan membuat Pararem Sampah Plastik,” ucap Mahesa Gunadi.

Pendaftaran KIK ini merupakan salah satu tujuan utama dalam program desa binaan di Desa Adat Ole tersebut. Megandu penting didaftarkan karena merupakan warisan budaya yang harus diberikan perlindungan hukum. Megandu merupakan permainan tradisional masyarakat agraris di Desa Adat Ole yang masih asri hingga. Jenis permainan ini biasa dimainkan oleh anak-anak atau teruna teruni yang dimainjkan di lahan persawahan sehabis panen. Permainan ini menjadi agenda rutin pada kegiatan Festival Ke Uma. Alat permainan berupa bola kecil dibuat dari jerami batang padi yang telah dipanen.

festival ke uma

I Made Sukerta menyampaikan permainan Megandu merupakan warisan budaya yang sudah ada sejak dulu, dan tetap dijaga kelestariannya hingga sekarang. “Dengan meraih sertifikat KIK ini, saya dan berharap masyarakat Desa Adat Ole bisa mewarisi dan mewariskan permainan ini ke generasi berikutnya. Kami menyampaikan apresiasi kepada adik-adik mahasiswa karena telah berkenan memperjuangkan warisan budaya kami. Semoga kami bisa mewarisi dan mewariskan permainan tradisional ini kepada generasi berikutnya,” ucapnya bersemangat.

Pemainan Magandu merupakan tradisi masyarakat agraris setelah masa panen di desa pejuang itu. Kehidupan masyarakat desa setempat selalu dikaitkan dengan kehidupan agraris, yaitu kelompok masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian dibidang pertanian. Dulu, tidak hanya orang tua yang melakukan aktivitasnya di sawah, tetapi juga anak-anak. Anak-anak para petani itu datang ke sawah membantu para orang tuanya dalam mengolah pertanian.

Aktivitas di sawah yang biasa mereka lakukan selalu berhubungan dengan pertanian. Ia “nganggon” (mengembala) sapi atau itik, “nyapung” (menangkap capaung menggunakan getah kayu nangka), “nguntil” (menangkap capung dengan tali berisi getah kayu taep), “ngarit” (menyabit rumput) dan lainnya. Sambil melakukan aktivitas itu mereka juga bermain. Salah satu permainan yang dilakukan adalah megandu.

Pada waktu luang tersebut, anak-anak dengan kreatifitasnya mulai bermain melakukan Permaianan Megandu sesuai dengan budaya setempat. Da;lam permainan itu menggunakan alat terbuat dari alam lingkungan sekitarnya. Salah satu factor permainan Megandu terbentuk adalah factor lingkungan. Karena di Banjar Ole lingkungannya adalah sawah, ada panen padi, maka jerami tersebut dibuat seperti bola. Permainan ini sudah ada sejak dulu. Masyarakat Desa Adat Ole hanya mewarisi, karena belum tahu siapa pencipta permainan Megandu itu. Memang sempat ditinggalkan oleh masyarakat karena pengaruh jaman, namun kembali lagi dilakukan.

Adanya jadwal permainan tradisional dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) menjadi andil tergalinya perminan unik itu. Permainan Megandu diangkat dan ditampilkan dalam ajang seni tahunan itu. Disamping sebagai bentuk pelestarian seni dan menghargai warisan leluhur, juga sebagai syarat dari program PKB untuk menampilkan materi seni yang belum pernah diangkat. I Wayan Weda, Ketua Sanggar Wintang Rare yang merupakan warga Desa Adat Ole menggali Permaianan Megandu lalu mementaskan pada PKB 1998 sebagai duta KabupatenTabanan.

megandu

Permainan Megandu juga sempat dipublikasikan salah satu TV Nasional dalam tayangan Festival Anak Bali sekitar tahun 2012. Pada tahun 2016, Permainan Megandu kembali dipentaskan dalam ajang PKB, namun dalam bentuk Tari Kreasi Baru Megandu. Sebagai penggarap tari adalah Ni Luh Nyoman Sri Suryati dan penggarap musik iringannya digarap I Wayan Muder. Dalam penyajiannya, Tari Megandu menggunakan iriangan gamelan gong kebyar yang didukung oelh Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Pucil Makembang banjar setempat. Permainan Megandu kembali ditampilkan dalam ajang PKB ke-40 tahun 2018 oleh Sanggar Wintang Rare. Kali ini dikolaborasikan dengan permainan silat, megender, megending dan cecimpedan.

megandu

Permainan Megandi juga menjadi trade mark ketika Sangar Buratwangi dan Sanggar Wintang rare menggelar Festival Ke Uma tahun 2017. Permainan Megandu juga menjadi pusat penelitian bagi mahasiswa sebagai syarat kelulusannya, diantaranya Mahasiswa dari Undiksha Singaraja, I Wayan Erik Hendrawan Mahasiswa IHDN Denpasar, I Kadek Nova Suryanata Mahasiswa ISI Denpasar dan Aris Mahasiswa Universitas Mahadewa PGRI Bali.

I Wayan Weda mengatakan, Magandu berasal dari kata gandu yang artinya melempar bola yang terbuat dari jerami yang dibentuk seperti telor. Megandu adalah permainan lempar-lemparan, dengan menggunakan bola yang dibuat dari jerami atau disebut dengan bola gandu. Arena permainan Megandu menggunakan petakan sawah. Jenis permainan ini melibatkan anak-anak setingkat SD dan SMP sebagai peserta. Megandu, biasa dimainkan areal persawahan sehabis panen.

Permainan tergolong langka ini, konon satu-satunya ada di Desa Pejuang ini. Permaianan ini diawali dari membuat bola mirip telur elang dari bahan sumi (jerami). Masing-masing anak wajib menyetor satu bola. Setelah itu baru menentukan satu anak sebagai pencari yang dilakukan dengan jamprit atau sut. Setelah mendapat pencari, anak si pencari itu lalu menancapkan sebatang kayu di tengah sawah. Di ujung atas kayu diikatkan tali guntung (tali dari pelepah kelapa) lalu memegangnya.

Anak-anak yang lain manaruh bola sumi di tengah-tengah kayu yang tertancap. Sipencari lalu mengencangkan tali selanjutnya berlari berputar mengeliling kayu itu dan berusaha melilitkan pada anak-anak lain. Anak-anak lain berusaha mengambil bola dan tak boleh terkena tali. Jika ada anak yang terkena tali, maka anak itu siap digandu (dilempari bola sumi). Para pegandu itu tak segan-segan melempari anak itu hingga menangis. Anak yang kena gandu itu kemudian betugas sebagai pencari. Begitu seterusnya.

Meski sudah menjadi tradisi bagi anak-anak di desa, Permainan Megandu ini untuk perkembangan pada anak. Mulai dari perkembangan fisik dan emosi sehingga mempengaruhi pertumbuhannya. Dan apabila permainan modern dikombinasikan dengan permainan tradisional maka akan memberikan manfaat yang saling melengkapi bagi perkembangan anak, karena dalam permainan modern anak mendapat manfaat yang bersifat fisik, psikologis, dan aspek sosial.

Meski tampak sangat sederhana, Permaianan Megandu sesungguhnya mengandung nilai pendidikan etika dan sopan santun. Sebab, dalam melakukan permainan itu mereka saling menghormati teman sepermainnya. Mereka tidak arogan meski terbilang anak yamg umurnya paling tua atau badannya yamg lebih besar. Demikiam sebaliknya, anak yang umurnya kecil atau badanya krempeng mendapatkan perlakuan yang sama. Hak dan kewajiban selalu seimbang dan sama-sama dijalankan. Mahalh, anak yang terlalu ego, akan menurunkan egonya karena harus berhadapan dengan teman lain yang tunduk pada aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan itu.

festival ke uma

Mengandung nilai pendidikan estetika, karena mengedepankan keindahan, seni, rasa halus baik pikiran atau dalam prilakunya. Hal tersebut tampak dalam membuat bola dengan bahan jerami, mereka membuat tidak sembarangan, melainkan dibuat dengan rasa seni yang halus, sehingga bisa bernentuk bola indah. Keindahan rasa juga dilakukan ketika mereka menyanyi bersama-sama, baik dalam melakukan jamprit atapun dalam permainan megandu. Anak.anak yang ikut bermain tidak perlu belajar menyanyi secara khusus, melainkan belajar menyanyi sambil bermain.

Mengandung nilai pendidikan budaya, sebab di jaman sekarang ini anak-anak cendrung mengatakan budaya tempo dulu itu kuno. Padahal, budaya masa lalu itu menjadi pijakan, dasar untuk melangkah ke masa depan. Dengan menggali permainan tradisional yang hampir punah dapat menjadi tauladan, disamping sebagai sebagai bentuk pelestarian budaya. Hal tersebut secara langsung sebagai pendidikan budaya bagi generasi sekarang.

Mengandung nilai pendidikan social, permainan sebagai ajang untuk belajar tentang kehidupan sosial. Mereka yang sebelumnya tidak saling kenal, namun setelah melakukan permainan itu mereka menjadi saling kenal, bahkan menjadikan persabatan sejati. Sebab itu tak hanya terjadi di dalam permainan atau pertunjukam tari saja, tetapi berlanjut terhadap kehidupan mereka sehari hari. Mereka saling mengunjungi yang pada akhrinya melakukan sebuah kerjasama.

Mengandung nilai pendidikan karakter, permainan tradisional dapat menciptakan karakter anak yang lebih unggul. Bisa dibayangkan, mereka sendiri yang dapat sikap menentukan dirinya sendiri. Mereka bermain bersama sesuai dengan keinginannya sendiri, bukan atas dorongan irang lain, mereka memainkan dengan kesepakan sendiri mulai dari mentukan aturan permainan, sangsi kalu ada anak yang melanggarnya. Mereka sendiri yang mentukan waktu atau lamanya bermain. Di sana mereka juga bebas mengeluarkan pendapat, namun tetap mengacu pada aturan yang dibuat bersama berdasarkan kesepakatan.

Nilai pendidikan karakter religius, anak anak yang ikut bermain itu secara langsung sebagai bentuk pendidikan budaya pertanian yamg terkait pula dengan segala upacara yang dilakukan. Bagaimana orang menghargai tanaman secara nyata memberikannya air dan pupuk dan secara tak nyata tanan diupacarai karena memiliki roh yang dipercaya dapat memberikan kesejahteraan. Dengan melakukan permainan ini secara otomatis mereka akan mengenal sawah, padi, petani dan segala upcara yang dilakukan.

Nilai pendidikan karakter disiplin dan tanggung jawab, permainan ini sebaga cara untuk belajar desiplin yang harus taat pada aturan yang mereka sepakati. Mereka mau melaksankan sangksi ketika melakukan kesalahan atau pelanggaran. [B/*]

Related Posts