“Gema Dharma Gita” Bangkitkan Kaderisasi Kidung di Banjar Mukti

 “Gema Dharma Gita” Bangkitkan Kaderisasi Kidung di Banjar Mukti

Siapa yang tidak tahu kalau Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar sebagai gudangnya seni. Banjar-banjar yang terus kreatif melahirkan pelaku-pelaku seni yang mempuni di jamannya. Sebut saja di Banjar Mukti yang tak hanya melahirkan generasi seni tari dan tabuh, tetapi juga gudangnya seni tembang, olah vokal. Sebagain besar wanita yang ada di Banjar Mukti piawai melantunkan tembang-tembang bertuah. Tembang-tembang yang khas itu sering disajikan ketika ada piodalan atau upacara agama. Sayangnya, dalam satu setengah dekade ini, lengkingan tembang itu tidak lagi menyemarakkan kegiatan upacara keagamaan. “Karena itu, kami berupaya membangkitkan kaderisasi Kidung di Banjar Mukti,” kata Dr. I Komang Sudirga,SSn.,M.Hum,

Dosen jurusan karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu menjadi salah satu mentor sekaligus penggagas untuk membangkitkan kaderisasi kidung di banjar tersebut. Kegiatan ini dikaitkan dengan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sebagai bagian dari Tri Darma Pendidikan Tinggi ISI Denpasar. “Peserta Kidung sebelumnya kebanyakan berusia lanjut, dan beberapa tokoh telah meninggal. Maka dalam kegiatan upacara “Karya Agung Penyegjeg Jagat, Ngenteg Lingih, Mapeselang, Mupuk Pedagingan, Rsi Gana, Tawur Agung, Pedanan, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini” di Desa Adat Kebon, kami mengumpulkan ibu-ibu muda untuk tergabung dalam Seka Kidung Banjar Mukti,” paparrnya.

Gema Dharma Gita

Mulai April 2021, para wanita itu sibuk mempersiapkan diri belajar kidung-kidung ritual keagamaan. Semangat tinggi, dan modal suara yang dimiliki juga sangat mendukung, sehingga kegiatan itu berjalan sesuai jadwal. Namun, persoalan yang ada, ibu-ibu itu merasa belajar matembang terutama jenis Kidung, dirasakan sangat sulit, disamping materinya panjang, iramanya juga berliku-liku dan sulit, sehingga untuk mempelajari perlu ada hafalan. “Dari permasalahan itu, kami mencoba mencarikan solusi untuk dapat memotivasi proses pelatihan dengan menerapkan metode pembelajaran inovatif. Kami melakukan pendekatan keberbagai pihak terutama para pengambil kebijakan di tingkat Desa dan Banjar, baik Dinas dan Adat serta Ketua Penggerak PKK. Kami bersyukur, upaya kaderisasi Sekaa Kidung dengan melibatkan ibu-Ibu dari generasi muda ini gayung bersambut,” jelasnya.

Baca Juga:  I Ketut Gede Narmada, Perankan Pekak Gaul Dalam Bondres STI Bali

Dan benar, pelatihan Darmagita di Banjar Mukti Singapadu mampu menjadi momentum kebangkitan Kidung oleh generasi penerus terutama kaum ibu-ibu muda. Sudriga menerapkan metode pembelajaran inovatif berbasis Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM), dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi (media sosial) seperti: Instagram, WhatsApp Grup, dan perangkat ponsel. Termasuk menerapan konsep metode tradisi meguru kuping, nuutin, dan analisis wiraga, wirama, wirasa, dan wiguna yang hybrid dengan metode pembelajaran modern berpayung Struktur Analisis Sintesis (SAS) menjadi metode pembelajaran yang efektif. Bahkan, telah menunjukkan keberhasilan signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Gema Dharma Gita

Antusiasme peserta betul-betul terjaga dan tidak pernah merasa jenuh dalam latihan. Alokasi waktu yang ditargetkan selama dua jam setiap pelatihan dirasakan terlalu pendek. Hal ini terjadi karena atmosfir belajar menyenangkan dan spirit motivasi antar peserta juga cukup tinggi. Secara kuantitatif materi yang berhasil dikuasai meliputi Kidung Bremara Ngisepsari, (pengaksama) Bremara Sangupati, Kawitan Wargasari, Pengawak Wargasari, Kidung Jerum, Aji Kembang, dan Kidung Turun Tirta. Dalam waktu yang singkat, para peserta mampu menguasai tujuh varian kidung. Hal ini sungguh menggembirakan sekaligus membanggakan.

Komang Sudirga yang juga Wakil Rektor III ISI Denpasar itu mengatakan, secara kualitatif, baik secara kualitas teknik olah vokal, aspek musikalitas, mapun estetika penyajian para ibu-ibu ini mununjukkan keberhasilan signifikan. Bahkan, secara kesehatan jasmani para peserta merasakan manfaatnya, bahwa belajar kidung mampu meningkatkan aspek kesehatan jasmani dan rohani. Mereka belajar yoga melalui nada-nada, mengatur penafasan (pranayama), serta “melajah sambilang megending” (menghibur).

Sementara secara spiritual, belajar Kidung dapat menanamkan dan mengakumulasikan investasi simbolik berupa pahala mulia melalui tradisi ngayah (bakti marga). Penguasaan materi tersebut mampu difungsikan secara kontekstual kaitan teks dengan konteks dalam rangkaian pelaksanaan Karya Agung Ngusaba Desa Ngusaba Nini di Desa Adat Kebon Singapadu. “Kidung sebagai bagian dari pancagita memiliki makna teologis filosofis untuk meningkatkan kualitas yadnya, menginvestasikan modal simbolik, mengakumulasikan pahala mulia dan menebarkan vibrasi kesucian lingkungan agar memperoleh kesucian yang harmonis,” ujar pria enerjik ini.

Baca Juga:  Teater Selem Putih dengan “Cut Cat Cit”

Komang Sudirga mengatakan, untuk menyempurnakan hasil kegiatan PKM ini, pihaknya juga telah meakukan Forum Group Diskusi (FGD) yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, seperti Bendesa Adat Kebon, Perbekel Singapadu, Klian Dinas dan Adat, Anggota DPRD Gianyar Daerah Pemilihn (Dapil) Sukawati, Pakar Kidung seperti Nyoman Tjandri, Ketut Kodi, Putu Eka Guna Yasa dari FIB Unud, Gusti Sudarta, Ketut Sudhana, dan Anggota Seka Santi Segara Widya. Kehadiran para paker ini sekaligus memberikan evaluasi terhadap hasil kegiatan Pelatihan Dharmagita di Banjar Mukti. [B/*]

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.