Cancel Preloader

Lomba “Nyurat Aksara” Pacu Anak-anak Belajar Bahasa Bali

 Lomba “Nyurat Aksara” Pacu Anak-anak Belajar Bahasa Bali

Wimbakara (Lomba) Nyurat Aksara Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali IV berlangsung di Gedung Mahosadi Mandara Giri Bhuana (MMGB), Taman Budaya Art Center, Propinsi Bali, Rabu 16 Pebruari 2022. Pesertanya merupakan anak-anak setingkat SD sebagai perwakilan dari kabupaten dan kota di Bali. Meski tergolong masih belia, namun peserta Wimbakara (Lomba) Nyurat Aksara Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali IV itu mampu menyelesaikan tulisan sebelum waktu yang ditentukan. Mereka nyurat aksara sesuai dengan uger-uger yang berlaku.

Mereka tampak ahli, yang dibarengi dengan ekpresi jiwa dalam setiap menulis aksara Bali, sehingga tampak menawan. Maklum, mereka merupakan para juara nyurat aksara Bali yang ada di masing-masing kabupaten dan kota di Bali, yang kini kembali mengadu ketangkasan untuk menjadi yang terbaik. Seluruh peserta mengenakan busana adat madya, lalu duduk rapi berderet ke belakang dengan jumlah 9 orang. Posisi meja kecil di depannya diatur, sehingga jaraknya lebih bebas sebagai bentuk penerapan protocol kesehatan dalam menjaga jarak. Sebelum memasuki areal lomba, para peserta juga telah melakukan cek suhu, dan mencuci tangan.

Para peserta diwajibkan melakukan alih aksara (menulis) teks berbahasa Bali dengan huruf latin ke dalam aksara Bali di atas kertas. Naskah ditentukan dan disusun oleh panitia. Dengan waktu 2 jam, para peserta yang hanya membawa perlengkapan alat tulis sudah mampu menyelesaikan tugasnya. Bahkan, beberapa peserta sudah menyelesaikan lebih awal, sehingga lebih panjang bisa melakukan kopreksi sebelum disetor. Dalam lomba ini, yang menjadi kreteria dewan juri adalah bentuk dan komposisi tulisan (wangun, tetuek, kakuub), ketepatan ejaan (pasang aksara), kerapian dan kebersihan tulisan, dan ketuntasan.

Nyurat Aksara

Salah satu dewan juri, Drs. Ketut Sudarsana merupakan praktisi bahasa, aksara, dan sastra Bali memberikan apresiasi terhadap semangat dan antosias peserta. Kegiatan penulisan aksara Bali dalam bentuk lomba ini sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan bahasa Bali kedepan. Adanya ajang ini, maka anak-anak akan terpacu untuk belajar. “Kegiatan ini akan berdampak dalam kehidupan sosial, baik dalam adat, budaya dan agama. Sebab, sadar atau tidak, kehidupan kita dalam adat, budaya maupun agama itu sangat berpengaruh karena semua esensi terkandung dalam lontar itu menggunakan aksara Bali,” ungkapnya.

Baca Juga:  “Basur: Tresnasih Kembang Sokasti” Sanggar Mahasaba Ungkap Kebenaran Diri

Naskah-naskah kuno yang ada kaitannya dengan adat dan budaya itu ditulis dalam bentuk aksara Bali, sehingga dengan ajang ini masyarakat utamanya anak-anaknya akan bisa mempelajarinya warisan para leluhur. Penulisan sastra dan aksara Bali yang dibangkitkan kembali melalui ajang Bulan Bahasa Bali, memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan memperdalam aksara Bali. “Keinginan anak-anak sangat besar, sehingga setiap ada lomba berkaitan dengan aksara Bali, generasi sangat antosias. Buktinya, dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi pesertanya sangat antosias. Peserta membludak utama di tingkat kabupaten,” imbuhnya.

Kegiatan untuk mengajegkan akasara Bali yang merupakan warisan leluhur mendapat respon positif dari masyarakat dan anak-anak. “Anak yang giat dan tekun belajar aksara Bali akan memiliki mental spiritual yang sangat bagus. Dengan tumbuh mental spiritual yang bagus, setidak-tidaknya masyarakat kita bisa terhindar dari hal-hal negatif. Karena itu, saya juga membina nyurat aksara Bali di rumah. Anak-anak yang ikut menulis itu semua mentalnya baik dan tumbuh menjadi baik, bukan liar,” sebutnya.

Wimbakara (Lomba) Nyurat Aksara Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali IV ini melibatkan tiga dewan juri. Selain, Drs. Ketut Sudarsana, juri lainnya yaitu I Wayan Gede Wisnu, S.S., M.Si., Dosen Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja dan Made Bayu Ananta Wijaya N, S.S., M.Hum., Praktisi Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Ketiga dewan juri akhirnya menetapkan duta Kabupaten Klungkung sebagai juara I, serta Kabupaten Gianyar dan Badung masing-masing meraih juara II dan III. [B/*]