May 17, 2022
Agenda

PKB XLIV Angkat Tema “Danu Kerthi – Huluning Amreta” Libatkan 16.150 Seniman

Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV tahun 2022 digelar secara langsung, bukan secara virtual seperti tahun lalu. Pelaksanaannya bisa dibilang istimewa karena berbarengan dengan Bali World Cultural Celebrations (Perayaan Kebudayaan Dunia di Bali) dan Jantra Tradisi Bali sebuah kegiatan apresiasi budaya. Tema yang diangkat “Danu Kerthi – Huluning Amreta” Memuliakan Air Sumber Kehidupan, dan digelar mulai Minggu 12 Juni – Minggu 10 Juli 2022. “Sebanyak 200 sanggar dan 16.150 seniman yang terlibat,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provisni Bali, Prof. Dr I Gede Arya Sugiartha disela-sela rapat persiapan publikasi PKB XLIV, Selasa 10 Mei 2022.

Mengawali pembicaraannya, Prof Arya Sigiartha mengatakan, PKB merupakan wahana dan ruang kreativitas seni budaya, sebagai implementasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali. PKB sebagai festival seni terbesar di Bali bersifat kolosal, merakyat, bereputasi internasional, merupakan momentum untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan seni tradisi, klasik dan kesenian rakyat. Materi pokok PKB XLIV, yaitu Peed Aya (Pawai), Rekasadana (Pergelaran), Utsawa (Parade), Wimbakara (Lomba), Kandarupa (Pameran), Kriyaloka (Lokakarya), Widyatula (Sarasehan), dan Adi Sewaka Nugraha (Penghargaan Pengabdi Seni).

Peed Aya berlangsung di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, tanggal 12 Juni 2022 pukul 14.00 – 16.30 Wita. Pawai dilepas oleh Gubernur Wayan Koster ditandai dengan pemukulan Gong Beri, lalu disambut dengan kebyar Gong Gede dan Semar Pagulingan. Antosias peserta Peed Aya tinggi yang diikuti sebanyak 25 grup dari Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten/Kota, Lembaga Pendidikan, Instansi Pusat dan Daerah, BUMN/BUMD, dan Komunitas/Yayasan seni. “Peed Aya sebelumnya dirancang secara virtual, kini berubah menjadi pawai live (langsung). Peserta pawai ini sebagai partisipasi murni, alias membiayai sendiri,” terangnya.

Pembukaan PKB yang rencananya dilakukan oleh Presiden RI Jokowi di Panggung terbuka Ardha Candra itu dimeriahkan dengan penampilan Tari Baris Anak-anak “Bandana Manggala Yudha” dan Sendratari “Catur Kumba Mahosadhi”, mengangkat kisah Ratu Ayu Mas Membah, garapan kolaborasi ISI Denpasar dengan Sanggar Seni Usadhi Langu. “Walau dilaksanakan secara langsung, tetapi masih ada pembatasan penonton. Undangan sebanyak 300 orang, sedangkan penonton maksimal 4.000 orang dari 8000 kapasitas panggung terbukan itu, tetap mengikuti protocol kesehatan, dan sudah mendapatkan vaksin 3 kali serta memiliki aplikasi PeduliLindungi,” ujarnya.

Danu Kerthi – Huluning Amreta

Rekasadana (Pergelaran), tak hanya diisi oleh p-ara seniman local, tetapi juga partisipasi luar daerah, seperti dari Daerah Yogyakarta, Papua, Batak, Lombok Sasak, dan Betawi. Para partispan ini memang datang dari daerahnya, bukan tinggal di Bali. sementara, partisipan luar negeri masih nihil, karena masih dalam suasana pandemi. “Untuk Utsawa (Parade) gong kebyar, kali ini bukan tampil mebarung seperti dulu. Missal Tabanan berhadapan dengan Gianyar, atau Badung tampil dengan Denpasar. Melainkan, masing-masing kabupaten menampilkan semua sekaanya, sehingga dalam satu malam itu bisa tampil 3 sekaa gong kebyar,” bebernya.

Prof Arya Sugiartha berharap, penampilan parade gong kebyar secara baru ini untuk menghindari penampilan yang jor-joran, bukan mementingkan teknik bermain. Dulu, penampilan yang wah dan meriah diutamakan, sehingga menomerduakan kualitas teknik. “Sekarang ini kami coba dengan yang baru, sehingga murni menyajikan teknik dan dapat merasakan angkihan gending yang dimainkan. Cara ini juga untuk meminilisasi biaya,” akunya polos.

Dalam rekasadana juga menampilkan Gong Kebyar Legendaris mebarung, yaitu Gong Kebyar Gladag (Kota Denpasar) tampil bersama Gong Kebyar Pinda (Gianyar), Gong Kebyar Perean Kangin (Tabanan) dengan Gong Kebyar Peliatan (Gianyar), dan Gong Kebyar Sibang Gede (Badung) tampil dengan ISI Denpasar. “Sayangnya, tidak banyak gong legendaris yang ikut. Sebut saja di Kabupaten Buleleng ada banyak gong kebyar legendaris, tetapi tidak mengikuti mebarung pada PKB kali ini,” ujar Pria asal Pupuan, Tabanan.

Wimbakara (Lomba) terdiri dari lomba bleganjur tingkat remaja, barong ket, taman penasar, gender wayang, desain dan peragaan busana kerja adat Bali (berpasangan), desain dan peragaan busana casual (berpasangan), desain dan peragaan busana pengantin modifikasi. Ada lomba membuat kerajinan beruk berbahan batok kelapa, mesatwa Bali tingkat dewasa pria, ngawi geguritan tingkat remaja dewasa, seni lukis wayang klasik (remaja), mewarnai (anak-anak), karya tulis berita kisah (wartawan) dan opini PKB tahun 2022 (untuk umum).

Danu Kerthi – Huluning Amreta

Kandarupa (Pameran) terdiri dari Pameran Industri Kerajinan (IKM Bali Bangkit), Pameran Seni Rupa serangkaian PKB XLIV dengan tema Danu-Hulu-Manu (Susastra Lelaku Air Cipta Rupa). Jenis karya yang disajikan Dua Dimensi (Lukisan Klasik/Tradisi Bali dan Prasi), Tiga Dimensi (Patung). Pameran karya seni rupa dari berbagai macam style, gaya meliputi: Gaya Batuan, Gaya Pengosekan, Gaya Padangtegal, Gaya Penestanan, Gaya Kerambitan, Gaya Nagasepaha, Gaya Singapadu, Gaya Nyuh Kuning, Gaya Ubud, Gaya Keliki, Gaya Kamasan, Gaya Tegallalang, Gaya Sukawati, Gaya Mas, Gaya Peliatan. Lokasinya di Museum Puri Lukisan, Museum Neka, Museum Arma, dan Gedung Kriya Taman Budaya.

Sementara untuk Kriya loka (Lokakarya) mengangkat topik joged bumbung, seni lukis wayang klasik, masatwa Bali, kain tenun tradisional Bali, dan kerajinan perak. Sedangkan Widtyatula (Serasehan) mengangkat topik tari (pertunjukan dan ritus air), karawitan (bunyi banyu dan Prakempa), seni lukis (toya dan stilistika), sastra denga topik tirtha adicitra sastra, arsitektut (perundagia tapa tirtha), desain dan media (penanda banyu bening)

Penutupan PKB dilaksanakan secara langsung (live) di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, pada Minggu (Radite Pahing, Pahang), 10 Juli 2022 pukul 19.00 Wita. Sebanyak 9 seniman menerima Adi Sewaka Nugraha (Penghargaan Pengabdi Seni) yang akan diserahkan oleh Gubernur Bali. Pada saat penutupan diserahkan hadiah Pemenang Wimbakara (Lomba) dan peluncuran PKB XLV Tahun 2023. Acara penutupan menampilkan Sendratari “Tirtha Mahottama”, mengangkat kisah keutamaan air sebagai sumber (awal) sampai akhir kehidupan, garapan kolaborasi SMKN 3 Sukawati dengan Sanggar Kokar Bali. [B/*]

Related Posts