Jantra Tradisi Bali Digelar 11 Juni – 9 Juli 2022

 Jantra Tradisi Bali Digelar 11 Juni – 9 Juli 2022

Bersamaan dengan perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV tahun 2022, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali juga mengelar Jantra Tradisional Bali, disamping juga Bali World Cultural Celebrations yang digelar seminggu. Jantra Tradisi Bali merupakan sebuah kegiatan apresiasi budaya dengan memberi kesempatan profesi pengobatan dan permainnan tradisional untuk tampil dalam mengekpresikan kamampuannya. Tema yang diangkat untuk tahun 2022 ini, yakni “Danu Kerthi: Huluning Amerta, (Danu Kerthi: Air Sumber Kehidupan). Dalam pelaksanaannya, hampir sebulan 11 Juni – 9 Juli 2022.

Berdasarkan Perda No. 4 Tahun 2020, Jantra Tradisi Bali merupakan kegiatan apresiasi budaya tradisi untuk penguatan dan pemajuan kearifan lokal, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, pengobatan tradisional, permainan rakyat serta olahraga tradisional. “Jantra Tradisional Bali ini untuk memperkenalkan budaya membuat loloh, membuat boreh dan permainan tardisional. Ajang ini digelar secara Luar Jaringan (Luring) dan Dalam Jaringan (Daring),” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provisni Bali, Prof Dr I Gede Arya Sugiartha saat rapat persiapan publikasi PKB XLIV di kantornya, Selasa (10/5) lalu.

Jantra Tradisi Bali menampilkan materis pokok, yaitu Murtirupa (Demonstrasi), Pacentokan (Lomba) Permainan Tradisional, Pacentokan (Lomba) Konten Budaya, dan Temu Wirasa (Sarasehan). Perencanaan program, yaitu Kompetisi Olah Raga Tradisional, Kompetisi Budaya Berbasis Daring, Pergelaran Mini dan Sarasehan. “Untuk pergelaran mini atau eksibisi menampilkan Gangsing (Permainan Rakyat) dari Komunitas Gangsing Desa Gesing, Buleleng dan Eksebisi Gebug Ende (Kearifan Lokal) dari Komunitas Gebug Ende Desa Seraya, Karangasem,” papar Prof Arya Sugiartha.

Untuk kompetisi budaya berbasis daring ada 4 jenis lomba, yaitu membuat inovasi boreh/parem (pengobatan tradisional), membuat layangan janggan ( pengetahuan tradisional, permainan rakyat), membuat ulat-ulatan (pengetahuan tradisional) dan membuat inovasi loloh (pengobatan tradisional). Untuk kompetisi budaya berbasis daring ini melibatkan masyarakat umum. Sementara untuk kompetisi olahraga tradisional, yaitu tajog (engrang) berkelompok bolak balik balok berkelompok, megala-gala (hadang), dan deduplak (lari batok kelapa) berkelompok. Sebagai pesertanya, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten dan Kota di Bali.

Baca Juga:  Festival Ke Uma 3 Digelar di Areal Subak Kekeran Tampilkan Tiga Lomba Aktivitas Tempo Dulu

Sarasehan Pengobatan Tradisional dengan Tema: “Minuman Sebagai Sumber Pengobatan Tradisional” yang terdiri dari dua topik, yaitu Arak/Tuak Sebagai Sarana Pengobatan Tradisional dan Loloh sebagai Sarana Pengobatan Tradisional. Serasehan ini mengundang masyarakat umum sebagai peserta. Sementara untuk serasehan Pengetahuan Tradisional dengan Tema : “Pengetahuan Tradisional Sebagai Ekonomi Kreatif” juga menyajikan 2 topik yaitu Teknologi Pewarnaan Kain Tradisional Bali dan Teknologi Pemintalan Benang Tradisional. Sebagai peserta juga masyarakat umum. [B/*]