June 30, 2022
Kreasi

“Manyelonding” Selonding Kreatif Tugek Carangsari di PKB Ke-44

Jangan kira gamelan selonding hanya bisa memainkan gending-gending yang itu-itu saja. Lihat saja, sajian Selonding kreatif persembahan Sanggar Seni Tugek Carangsari, Duta Seni Kabupaten Badung yang tampil memukau di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44. Sangar yang didukung anak-anak muda kreatif ini menyajikan Rekasadana (Pergelaran) yang penuh inovasi, namun tetap berpatokan pada pakem tradisi. Penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Selasa 21 Juni 2022, tampak sangat senang dan puas menonton sajian seni itu.

Sanggar yang didukung para seniman kreatif ini menampilkan garapan instrumental gamelan klasik. Konsep sajian sungguh unik, yakni dalam satu garapan utuh itu diperuntukan untuk menghormati tokoh maestro seniman Topeng Tugek, Alm. I Gusti Ngurah Windia. Sajian seni ini didukung 8 orang penabuh, 2 penari dan 1 sendon (nyanyian dalang). Mereka memainkan bilah-bilah selonding yang khas, hasil dari ekplorasi gamelan yang masuk katagori klasik dan sakral. Seperangkat selonding itu dipadukan dengan alat musik berupa gamelan reong, suling dan satu buah gong gede yang sungguh memikat.

Salah garapan utuh berjudul salah satu garapan itu berjudul “Manyelonding” (Manyolonte di Dalam Selonding) tampil berkesan. Manyelonding ini ditata I Kadek Putra Guna Wisnawa, dan I Gusti Ngurah Alit Supariawan, S.Sn. “Garapan ini terinspirasi dari dialog Tupeng Tugek Carangsari yang diperankan tokoh Tugek Alm. Ngurah Windia. Dialog yang disampaikan sering membahas tentang air. Tentu, kami membalutnya dengan perpaduan antara energi air di bumi dengan mengalirnya energi taksu dalam pementasan topeng, laksana lakunya air itu sendiri,’ terang Alit Supariawan.

Manyelonding

Sajian seni selonding kreatif ini berlangsung 45 menit, selain menabuh gamelan selonding, aktrasi garapan ini juga melantunkan tembang-tembang dengan lirik dari dialog Tugek. Sebagai wujud penghormatan kepada sang maestro, dalam pementasan tersebut juga dibawa tapel tugek serta foto alm. I Gusti Ngurah Windia. Penontonpun tampak larut, menikmati suguhan yang dibalut apik oleh penerus seniman Carangsari tersebut.

Selonding yang dibawa merupakan seperangkat gamelan yang dimiliki Puri Carangsari. “ Gamelan selonding ini dibeli sekitar tahun 1990-an, namun karena ‘pelawahnya’ sebagian sudah rusak, gamelan selonding ini diperbaiki kembali, bagi kami kesempatan menampilkan selonding kreatif menjadi motivasi tersendiri dalam upaya pengembangan seni –seni klasik, tanpa meninggalkan pakem tradisi yang sudah diwarisi,” ungkapnya. [B/*]

Related Posts