I Ketut Manggi Meniup Suling ke Berbagai Belahan Dunia

 I Ketut Manggi Meniup Suling ke Berbagai Belahan Dunia

I Ketut Manggi | Koleksi Satriya Lelana-Batuan. Ca. 1971

Bali, selain terkenal dengan julukan Pulau Dewata juga terkenal dengan masyarakatnya yang berdarah seni. Karena hampir semua orang Bali memiliki talenta sebagai seniman, baik sebagai seniman seni pertunjukan, seperti tari atau dramatari, dalang, karawitan, maupun seniman seni rupa seperti lukis, patung, topeng, ukir, dan lain sebagainya. Kegiatan masyarakatnya yang unik dibalut nuansa ritual magis keagamaan berdampak semakin dikenalnya Bali dikancah internasional, hal ini berdasarkan tonggak promosi pariwisata Anjungan Bali Paris Expo tahun 1931, dan inilah pertama kali seni ritual disajikan secara profan.

Aura kemasyuran Pulau Dewata membuat geliat seni pertunjukan Bali semakin beragam karena mulai terdapat sentuhan pariwisata. Namun, beberapa tokoh yang fanatik tradisi-klasik berusaha menepis pengaruh global dengan tetap melestarikan seni klasik. Salah satu tokoh seniman Batuan yang masih eksis melestarikan Dramatari Gambuh adalah I Ketut Manggi. Sosok pria yang lahir di Banjar Pekandelan, Batuan pada tahun 1941 itu, kesenimanannya sudah diakui baik dari tingkat lokal, nasional dan internasional. Pergulatan dalam menapak kehidupan sebagai seniman dilaluinya dengan sabar, tekun, dan ulet.

I Ketut Manggi
I Ketut Manggi | Koleksi Satriya Lelana-Batuan. Ca. 1971

Berkat keuletannya, akhirnya Pak Duh, demikian sapaan akrabnya mampu menguasai gending-gending (lagu) pagambuhan gaya Batuan secara keseluruhan melalui tiupan sulingnya. Kemampuannya tidak terlepas dari peran guru-gurunya yang mumpuni pula dibidang Gambuh, seperti Jro Mangku Madya (Alm. I Made Budi), dan Alm. Dewa Kompiang Pasek. Bahkan, tak hanya itu, Pak Duh juga seorang pelukis, pemain alat musik genggong. Saat senggang, jika berkunjung ke rumahnya, pasti kita menemuinya yang sedang melukis atau memainkan suling atau alat musik genggong lainnya. Hal itu dilakukannya, untuk melatih nafasnya.

Kini diusianya yang telah menginjak 81 tahun, Pak Duh masih dapat bernafas lega. Ia secara intens menurunkan keahliannya yang dapat diwariskan kepada anaknya, yakni I Made Wandika. Meniup suling melanglang bhuana dalam promosi seni budaya Bali ke luar negeri dilakoni pada misi kesenian di Ancol 1981 menyajikan Dramatari Gambuh, di tahun 1982 sebagai pemain suling Gambuh bersama rombongan Dharma Santi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar bergabung dengan Sekaa Gambuh Mayasari Batuan Gianyar melawat ke Jepang. Pada tahun 1993 dengan materi Gambuh melakukan tour Eropa; Swis, Austria, Jerman, dan Francis bersama sanggar tari I Nyoman Kakul Batuan pimpinan Alm. I Ketut Kantor, serta mengikuti beberapa acara pameran lukisan bersama pelukis-pelukis Batuan lainnya.

Baca Juga:  I Nyoman Sujena, Sang Bima Favorit Pengunjung PKB Ditahun 80-an

Jaman boleh berubah, tetapi “Pak Duh” tetap semangat mengajar generasi muda Batuan, melakoni dunia seninya dengan penuh keiklasan. Baginya berolah seni sebagai bagian dari Yadnya, yakni jika dilakoni dengan tulus iklas niscaya melalui seni akan memperoleh pahala yang baik pula. Keahliannya dalam meniup suling gambuh, seperti sekarang tiada lain untuk kepentingan Ngayah, baik di lingkungan Kahyangan Tiga Desa Batuan maupun di desa lainnya. [B]

I Wayan Budiarsa
I Wayan Budiarsa

Dosen dan Koordinator Prodi PSP FSP ISI Denpasar, dilahirkan di Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, 6 September 1973.

Artikel Terkait