“Weringin Art Klub Spirit of Bali” Wadah Seniman Seni Rupa di Tabanan

 “Weringin Art Klub Spirit of Bali” Wadah Seniman Seni Rupa di Tabanan

Para seniman seni rupa di Tabanan, khususnya di daerah Baturiti, sejatinya telah memiliki segudang pengalaman berkarya, demikian pula dalam berpameran. Namun, mereka yang lahir dari spirit yang sama ingin menyatukan diri, sehingga membentuk sebuah wadah baru dengan nama “Weringin Art Klub Spirit of Bali”. Perkumpulan ini, anggotanya didominasioleh para seniman yang bertempat, dan memiliki ruang art studio di Kecamatan, Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.

Komunitas Weringin ini dibentuk oleh beberapa perupa, seperti I Made Murtana (Pak Panji), I Wayan Sumerta, Astika Yasa, I Kadek Dedy Sumantra Yasa, I Made Subrata, I Gede Lila Kantiana dan I Made Suratha. Komunitas ini mengusung tema kebudayaan dari yang tradisional, modern, dan kontemporer sebagai ciri khas pribadi, kebudayaan mewakili cara pandang kehidupan. “Hal ini memunculkan esensi kehidupan yang luhur sesuai pesan moral yang terkandung di dalamnya,” kata Dedy Sumantra, Minggu 11 September 2022.

Karya-karya dari komunitas ini, nantinya mengacu pada issue kesenian international global, disamping Pulau Bali yang merupakan referensi jiwa spirit kesenian dalam kancah internasional. “Klub seni ini mewakili jiwa jaman saat ini, yaitu berkesenian di Bali yang memiliki akar sejarah yang jelas, seperti Yong Artis, Pita Maha dan kehadiran sejumlah komunitas seni aktif di Bali, seperti Sanggar Dewata Indonesia dan lainnya,” imbuhnya.

Komunitas Weringin ini mewadahi perwakilan dari seni lukis, seni patung, potografi dan lainnya. Perkumpulan perupa Weringin ini memplopori hadirnya komunitas perupa di Kabupaten Tabanan yang sebelumnya sudah muncul, kemudian tenggelam, lalu hilang entah kemana. Perhatian banyak pihak sangat dibutuhkan untuk tumbuh suburnya komunitas seni itu. “Bali masih beryukur yang memiliki tauladan yang baik dalam berkomunitas, yaitu hadirnya konsep bebanjaran, toleransi untuk memajukan spirit berkesenian,” sebutnya.

Baca Juga:  Puncak Piodalan di Pura Luhur Tanah Lot 16 Agustus 2023

I Made Murtana mengatakan, nama weringin itu terinpsirasi dari Pohon Beringin, sebuah tumbuhan yang dalam kehidupan dan kebudayaan nusantara memiliki makna suci dan sacral. Di dalam kebudayaan Hindu Bali umumnya, tumbuhan ini hidup di pelbagai tempat-tempat suci. “Beringin itu sama dengan weringin yang dapat bertumbuh dan berkembang menjadi besar. Itulah harapanm kepada para seniman yang ada dibawah Komunitas Weringin ini,” harapnya.

Murtana lalu menjabarkan sedikit mengenai apresiasi wayang dalam pemaknaan beringin dan weringin yang dapat bertumbuh menjadi lebih baik dan berguna, membesar dalam sebuah filosofinya masing masing. Hal ini dapat diapresiasi secara spiritual dan fungsional diantara kehidupan masing-masing bermasyarakat, berguna, bermanfaat dan memiliki filosofi kehidupan. “Hal ini juga bisa diapresiasi berkaitan dengan siklus dan proses kehidupan secara mistik, spiritual,” imbuhnnya.

Makna simbol Weringin memiliki warna dasar merah berarti semangat, Brahman, Atman, dan Dewa Brahma. Hurup T putih berarti Suci, perlambang Dewa Siwa sebagai referentasi dari tiga mandala, yaitu Nawa Sanga. Dewata Nawa Sanga yang berada di Baturiti. Bentuk bulat mewakili kesatuan simbol pohon beringin, warna hijau berarti kesejukan, Dewa Wisnu sebagai kesatuan symbol ini dan bermakna penyatuan dari Tri Khayangan yaitu Khayangan Jagat Luhur Natar Sari Apuan, Pura Luhur Puncak Padang Dawa dan Pura Puncak Kembar, Pacung. [B/*]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post