I Putu Raksa Sulaksana, Sang Liku Buleleng Biasa Tampil di Luar Negeri

 I Putu Raksa Sulaksana, Sang Liku Buleleng Biasa Tampil di Luar Negeri

Di dalam dunia panggung, I Putu Raksa Sulaksana lebih dikenal sebagai Liku yang lihat menari, dan kocak. Walau memerankan tokoh liku, ia memiliki eksistensi yang cukup tinggi, sehingga selalu diminati para penonton. Seniman kelahiran 27 September 1961 itu merupakan pragina Dramatari Arja yang terkenal dengan julukan “Liku Buleleng”. Jika pentas, ia piawai menari, lihai matembang (olah vocal), bahkan pasih dalam memerankan lakon, (drama).

Dikutif dari Profil Penerima Adi Sewaka Nugraha Pemerintah Provinsi Bali Dinas Kebudayaan 2022, Putu Raksa mulai menari sejak tahun 70-an. Setelah mengenal dunia seni, ia langsung menambatkan pilihannya pada seni dramatari aja itu. Meski terbilang sulit, kegemarannya kesenian klasik ini sudah tumbuh sejak kecil. Apalagi, mendapat dukungan dari orang tuanya, terutama sang ibu yang juga merupakan seorang seniman dramatari arja. Keiningannya untuk menjadi seorang penari dramatari arja tak terbendung, sehingga sempat belajari hingga ke Desa Keramas, Kabupaten Gianyar guna berguru dengan seorang seniman tari bernama Guru Togong.

Seniman asal Banjar Delod Margi, Desa Sari Mekar, Kecamatan Buleleng ini memiliki prinsip, pengalaman sangat berharga, sehingga ia juga berguru ke beberapa tokoh dramatari arja di Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Bahkan, sempat menimba ilmu seni peran itu hingga Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar. Bukan hanya karena sekedar menyukai kesenian dramatari arja tersebut, tetapi lebih dari itu. Putu Raksa ingin konsisten mendalami peran Liku dalam dramatari arja itu. Menurutnya, memerankan Liku memiliki peluang sebagai penari terkenal cukup besar.

Apa yang menjadi pikiran Putu Raksa memang benar. Pada periode 2000-an, sangat langka menemukan Liku Muani (Liku yang diperankan oleh penari pria) dalam seni dramatari arja di daerah Bali Utara. Putu Raksa hadir ditengah-tengah minimnya penari Liku yang diperankan penari laki, sehingga ia hadir dalam kesenian dramatari arja berperan sebagai Liku dengan ciri khas aksen Buleleng-nya.

Perlahan namun pasti, Putu Raksa yang hadir disambut positif masyarakat, khususnya penggemar kesenian dramatari arja. Kehadirannya dalam dunia panggung memiliki sisi positif padanya, ia kemudian dilirik banyak sekaa-sekaa dramatari arja di berbagai daerah untuk ikut tampil sebagai penari bon (penari yang mendukung sekaa lain). Sebut saja, salah satunya ikut mendukung sekaa dramatari yang popular, seperti Sekaa Dramatari Arja RRI Denpasar.

Pria ramah dan murah senyum ini lebih dari 10 tahun menggeluti peran Liku dalam kesenian dramatari arja. Suka duka sudah dirasakan Putu Raksa selama ini. Pengalaman pentas diberbagai tempat membuatnya semakin memiliki pengalaman dalam dunia berkesenian. Namun, tak sedikit pula pengalaman duka yang ia rasakan, seperti permintaan pentas yang tiba-tiba dibatalkan, bahkan tidak dibayar usai pentas pernah pula dirasakannya. Namun, semua hal pahit tersebut sirna ketika melihat para penonton yang terhibur dengan leluconnya tatkala diatas panggung.

Pria baik hati ini, tak ingin menyimpan sendiri apa yang telah ia gapai sebagai seniman tari. Ia kemudian membentuk sebuah Sekaa Arja yang berlokasi di kediamannya. Sekaa yang ia bangun di tahun 2005 itu diberi nama Sekaa Arja Manik Sari. Sekaa ini tak hanya memiliki jadwal pentas yang padat, tetapi juga berhasil melahirkan tunas-tunas seniman arja di beberapa generasi, baik dilingkungan desanya atau di desa lain.

Sekaa Arja Manik Sari bentukannya itu, kini menjadi satu-satunya sekaa arja yang masih bertahan di Kabupaten Buleleng. Namun kini, Putu Raksa mengakui bahwa pertumbuhan sekaa-sekaa dramatari arja di Kabupaten Buleleng kian hari semakin hilang. Regenerasi di Buleleng semakin menipis. Walau Putu Raksa telah melakukan berbagai upaya dalam melestarikanyang memang murni karena kecintaannya terhadap kesenian dramatari arja dan tak mau kesenian tersebut hilang di Buleleng.

Putu Raksa memiliki pengalaman berkesenian diberbagai level yang tentunya tak lagi bisa dihitung. Dalam kurun waktu 2013-2017 Putu Raksa selalu konsisten mewakili Kabupaten Buleleng pada hajatan Pesta Kesenian Bali (PKB). Ia juga telah berkolaborasi dengan banyak seniman di berbagai wilayah di Bali. Walau hanya seorang seniman tradisi, Putu Raksa juga telah banyak berkunjung ke berbagai negara untuk tampil membawa misi kesenian. Ia tercatat pernah tampil untuk pentas di Jepang (1994), Rusia (1997), Perancis (1998), Jerman (2010), Thailand (2015) dan Korea Utara (2016).

Baca Juga:  “Rejang Danu Kerthi” dan “Baris Bala Samar” Dua Karya Tari Komunitas Manubada Merespon dan Mengeksplorasi Alam

Atas pengabdian, kegigihan, dan keteguhan I Putu Raksa Sulaksana dalam membina, melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali tanpa mengenal lelah dan putus asa, Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dengan memberikan tanda Penghargaan Adi Sewaka Nugraha serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tahun 2022. [B/*]

Artikel Terkait