October 27, 2020
Ulasan

Ekspresi 10 Komunitas Seni Dalam Pentas Virtual Bertajuk “Bung Karno dan Bali”

Meski disajikan dalam sebuah tayangan video, pentas seni virtual bertajuk “Bung Karno dan Bali” dalam rangkaian penyelenggaraan Bulan Bung Karno tahun 2020 ini berlangsung sangat atraktif. Pentas seni yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Kebudayaan (Disbud), Minggu 21 Juni 2020 itu disambut meriah, baik dari kalangan seniman, penghobi seni juga masyarakat umum. Para netizen yang sejak wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) itu dihimbau untuk tinggal di rumah saja, menyambut pentas seni itu dengan penuh semangat. Dengan memanfaatkan kanal media social youtube Pemprov Bali dan Disbud Provinsi Bali, masyaraklat mendapat hiburan sekaligus pendidikan.

Pagelaran ini didukung oleh 10 komunitas seni yang selalu kreatif dengan melahirkan karya-karya baru. Para pendukung pentas seni virtual itu, tampil dengan memadukan pentas teater, musikalisasi puisi, kesenian tadisional dan teknik sinematografi. Pageralan virtual bertajuk “Bung Karno dan Bali” ini sekaligus memperingati 50 tahun wafatnya proklamastor Kemerdejaan RI. “Saya berharap dengan pageralan virtual ini seluruh krama Bali, khususnya generasi penerus akan semakin menjiwai ajaran Bung Karno Bapak Proklamator Bangsa Kita,” kata Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutan serangkaian Pergelaran Virtual Seni tersebut.

Apresiasi atas partisipasi seluruh komunitas yang terlibat juga datang dari Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan ‘Kun’ Adnyana. Mereka sepenuhnya tampil dengan sukarela dan penuh suka cita untuk merayakan semangat Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Bung Karno dengan tanpa biaya. “Ini kerja gotong royong kita dalam mengaktualisasikan ajaran Trisakti Bung Karno untuk menyongsong Bali Era Baru, “kata Kun Adnyana, Senin (22/6).



Pentas berawal dari “Ode Bagi Bung Karno”. Puisi itulah yang mengawali pentas seni virtual dalam rangkaian penyelenggaraan Bulan Bung Karno tahun 2020 yang digelar Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Minggu 21 Juni 2020. Lantunan puisi yang dibaca oleh penyair Warih Wisatsana diiringi dentingan nada gangsa yang lirih. Dibalik kata yang jelas dan lugas itu, terdengar sayup-sayup nyanyia sejenis kidung yang terkadang menindih dentingan suara gangsa. Lantunan puisi itu menebar semangat sang Proklamator bagai cahaya yang menerangi setiap jiwa lintas generasi.

Komunitas Mahima memulai dengan petikan gitar dipadu dengan puisi yang dinyanyikan seperti pupuh dalam gending Bali. Hanya beberapa “pada” (bait), penyair wanita kemudian membeber kisah dari Bali utara. Sair puisi itu tak dibaca tuntas, karena memberikan lagu yang juga dibawakan oleh sastrawati itu berkisah. Menariknya, antara pembacaan puisi dan lantunan lagu itu saling bergantian, namun tetap padu. Puisi berjudul “Nyoman Rai Srimben” itu didukung empat penekun seni yang mampu menyajikan pementasan seni yang komunikatif, walau pentas secara virtual. Apalagi, lokasi tempat pementasan itu asli dari sang matahari, sehingga penamapilan kumunitas dari Bali utara itu menjadi lebih hidup.



Kelompok seni dari Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Badung juga menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Aku Melihat Indonesia”. Dua lelaki pendungkung pentas seni itu menggunakan berbusana putih berdasi merah dan menggunakan peci hitam. Mereka memekikan Bung Karno, serta mengaku ketika melihat gunung, laut, awan dan lainnya mereka sesungguhnya melihat suara dan wajah Indonesia. Keduanya menyanyi sambil mendentumkan drum, memainkan serta menjalin melodi puisi dengan nada piano. Saat syuting, mereka memanfaatkan Aula SLBN 1 Badung, sekolah tempat mereka belajar.

Pentas Teater SMAN 3 Denpasar menampilkan karya seni berjudul “Pelecut Baja” yang mengambil lokasi pentas di Aula sekolah setempat. Garapan ini lebih pada pertunjukan teater, yang mamadukan puisi dengan tari modern. Para penari menari bebas mengeskplorasi lagu yang hanya diiringi gitar akustrik. Dekornya yang ditata sederhana, namun sangat mendukung pementasan itu.



Penampilan SMKN 5 Denpasar lebih mendekati pada penyajian seni tradsional yang dikemas dengan model baru. Para penari bergerak, seakan lepas dari pakem tari tradisional yang ada, namun tetap memperhatikan unsure-unsur dari seni pertunjukan. Demikian dengan husana, dan property yang dimainkan. Iringannya juga lengkap, sebuah barungan gamelan tradisional yang dimainkan dengan bersama-sama, namun memperhatikan ptotokol kesehatan, seperti jaga jarak dan memakai marker. Garapan tari berjudul “Minum Seni dan Kultur” itu menampilak garapan virtual dengan mengambil lokasi di Aula sekolah setempat.

Sanggar Gumiart menampilkan garapan berjudul “Merajut Adab Nusantara” yang menampilkan 5 penari wanita dengan gerak tari yang bebas, namun ditatat. Penari lebih banyak memainkan kipas dengan memadukan ringan kendang, suling yang dipadu dengan music modern. Demikian pula SMKN 3 Sukawati mengangkat garapan seni berjudul “Spirit Bung Karno” dengan memadukan semua unsur seni tradisional, seperti tari, tembang, karawitan, vocal dan teater serta puisi. Walau demikian, unsure seni pedalangan menjadi lebih dominan, disamping puisi. Sebab, ditengah pertunjukannya ada permainan kayonan, serta munculnya seorang pemain yang melantunkan gending-gending seperti seorang dalang.

Berbeda halnya penampilan Teater Selem Putih. Dengan mengangkat judul “Sarinah” kelompok teater asal Bali Utara ini cendrung menampilkan seni yang sarat kritik, pesan dan harapan. Tokoh Sarinah yang terkesan lugu, namun cerdas berhasil menumbangkan ego seorang tokoh yang mengaku mirip dengan Soekarno. Walau hanya didukung oleh tiga pemain, namun dengan kemampuan para pemain teater ini membuat pertunjukan itu cukup berhasil. Pentas Seni Virtual Bertajuk “Bung Karno dan Bali itu kemudian ditutup dengan penampilan Grup Band Mr. Botax yang berjudul “Bung Karno Bapak Bangsa”. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *