Ubud Writers & Readers Festival 2022. Digelar Secara Offline Hadirkan Panelis Ternama Sajikan 200 Live Events

 Ubud Writers & Readers Festival 2022. Digelar Secara Offline Hadirkan Panelis Ternama Sajikan 200 Live Events

Panelis-panelis ternama, seperti Carla Power, Tim Baker, Audrey Magee, Sequoia Nagematsu, Kylie Moore-Gilbert dan Osman Yousefzada bakal ikut meramaikan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-19. Disamping itu, penulis dan jurnalis Putu Oka Sukanta, sutradara film Kamila Andini, penulis novel Ahmad Fuadi dan musisi Rara Sekar juga hadir berbagi pengalaman. UWRF yang bertujuan untuk menyatukan talenta sastra terbaik dari segi lokal maupun internasional digelar secara offline dari 27-30 Oktober 2022.

Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati, Dr. Drs I Ketut Suardana,M.Fil.H, menjelaskan, sudah lebih dari tiga tahun sejak ia membuka festival ini di dalam suasana yang baik. Dirinya sangat bahagia, karena para komunitas penulis dan pembaca akhirnya bisa berkumpul kembali di Ubud, bersuka ria dalam buku serta cerita dan ide-ide di bawah tema Uniting Humanity, yang banyak mencerminkan semangat dari festival ini sendiri. “Festival ini merupakan acara yang mempersatukan umat manusia yang sangat beragam,” kata Suardana dalam acara press Conference di Indus Restaurant Ubud, Rabu 26 Oktober 2022.

Festival ini menawarkan berbagai panel diskusi mencermikan tema dan mengangkat suara-suara yang dipengaruhi oleh tindakan penganiayaan, konflik dan pelanggaran hak asasi manusia. Selain itu, juga akan menyorot beberapa topik, seperti The War in Ukraine, sebuah diskusi meliputi penulis asal Ukrania Oksana Maksymchwk dan Maz Rosochinsky, mengenai efek dari riak seismik yang disebabkan oleh perang terhadap dunia setelah pandemi covid, dan juga Uniting Humanity: Poetry of Peace, sebuah malam yang diisi dengan pengucapan kata-kata, dongeng dan hikmah dalam berdoa untuk kedamaian.

Janet DeNeefe, Festival Director dan Founder menjelaskan, pihkanya tidak bisa mengabaikan invasi Ukraina karena dampak globalnya yang sangat luas. Ide untuk Poetry of Peace, menggabungkan penulis dan seniman bersama, mencerminkan bagaimana festival ini selalu beroperasi,” lalu menambahkan, “Kami suka melampaui ekspektasi dengan adanya beragam program yang bertujuan untuk memberikan sarana informasi dan juga menyenangkan hati para pengunjung,” ucapnya.

Baca Juga:  Kreativitas Seni Para ASN Warnai Peringatan Hari Jadi Ke-37 Disbud Bali

Janet DeNeefe menambahkan, sebagai festival sastra terbesar di Asia Tenggara, reputasi nasional dan internasional memungkinkan untuk membawa nama-nama tersohor ke Bali. “Peran kami adalah untuk menyiapkan platform terbaik untuk talenta literasi selanjutnya. UWRF adalah sebuah festival yang penuh karakter dan kedalaman dan setelah 19 tahun, menjadi sebuah ambisi yang membuat saya percaya bahwa kami bisa sampaikan,” terangnya.

Aktivis asal Inggris dan seniman interdisipliner Osman Yousefzada, yang menceritakan isi buku pertamanya mengenai trauma yang diciptakan dari pengalaman migrasi, rasisme dan kemiskinan di Inggris selama beberapa dekade terakhir ini. “Tema uniting humanity melalui dialog dualitas dan kepemilikan adalah suatu hal yang penting untuk pekerjaan saya dan menulis dan turut berpartisipasi dalam festival ini dengan pemikir dan penulis lainnya adalah sebuah kebahagiaan,” ujar Osman.

Jurnalis dan novelis asal Papua, Aprila Wayar akan turut berperan sebagai program utama di tahun ini untuk mendiskusikan mengenai taktik kreatif yang telah ia kembangkan sebagai sarana untuk perubahan di seluruh tanah air. “Saya berharap festival tahun ini akan menjadi kunci untuk kebangkitan sastra dan menjadi dunia untuk literasi di Indonesia, juga sebagai dunia yang lebih kuat setelah pandemi covid,” ucap Wayar.

Diskusi bersama penulis asal Australia Tim Baker tentang, menulis bisa menjadi obat dan membantu kita untuk membuat hidup, hubungan dan diri sendiri lebih bermakna saat bertemu dengan trauma. Mengenai buku barunya Patting the Shark, ia berjuang melawan diagnosa kanker prostrat stadium 4. “Saya merasa Bali dan Ubud khususnya merupakan tempat yang sempurna untuk membicarakan mengenai menulis sebagai obat. Pengalaman saya di sini menyembuhkan saya. Salah satu alasan saya sangat bersemangat untuk datang ke Ubud dan mendiskusikan buka saya, karena Bali mengerti kesehatan, pemikiran, badan dan jiwa holistik. Jadi saya merasa berada di lingkungan yang sangat mendukung pembicaraan yang terkadang terasa peka dan sensitif,” paparnya.

Baca Juga:  Ini Single Terbaru Tjok Bagus

Di luar program utama, akan ada sesi-sesi puisi, literary lunches, long table dinners, jalan-jalan di persawahan dan desa, peluncuran buku, pesta cocktail, dan pertunjukan musik. Di kebun permakultur Mana Earthly Paradise, sebuah acara spesial dengan talenta musik Indonesia Rara Sekar akan menunjukkan proyek musik solonya di tengah kebun. “Berupaya untuk selalu merawat hubungan diri dengan diri, diri dengan masyarakat dan diri dengan alam dengan kesadaran yang kritis dan reflektif di manapun aku berkarya,” jelas Rara. [B/*]