Parade Monolog “Kisah Tanah Air”. 6 Aktor Gambarkan Fenomena Masyarakat dan Alam.

 Parade Monolog “Kisah Tanah Air”. 6 Aktor Gambarkan Fenomena Masyarakat dan Alam.

Menyaksikan Parade Monolog dalam gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV sungguh menginspirasi. Aktor-aktor monolog lintas generasi dan lintas daerah itu menyajikan sebuah pergelaran yang sangat kreatif. Apalagi, masing-masing memiliki prestasi bereputasi nasional, pasti beda. Mereka menyajikan kisah-kisah yang menggambarkan fenomena masyarakat dan alam, merespons tema FSBJ IV Tahun 2022 yakni “Jaladhara Sasmita Danu Kerthi” (Air Sebagai Sumber Peradaban), lalu membentuk jalinan kisah yang bertajuk “Kisah Tanah Air”.

Parade Monolog yang dikomandani Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan berkolaborasi dengan Wawan Sofwan (Bandung), Maudy Koesnaedi (Jakarta), Muda Wijaya (Denpasar), Cok Sawitri (Denpasar), April Artison (Klungkung) dan I Kadek Rama Kharuniadeva (Tabanan) itu berlangsung di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu 19 Oktober 2022. Para penyaji lebih banyak mengangkat interaksi manusia dengan manusia dan kebudayaan serta usahanya untuk tetap setia dan cinta pada tanah air, bangsa dan negaranya.

Masing-masing penyaji memiliki kelebihan dalam berteater. Mereka menyajikan untaian peristiwa dalam rangkaian kisah seakan meneror pikiran dan nurani, sehingga menggiring penonton untuk menyusuri dan mengarungi aliran mata air kehidupan dalam lika-liku sungai kisah tanah air. Dengan penguasaan teknik berteater, serta penjiwaan yang kuat, mereka menyajikan kisah seakan mengajak setiap orang untuk merenung dan berkontemplasi tentang apa-apa yang terjadi sekitar kita, dan yang tidak kita sadari kitapun menjadi pelaku di dalamnya.

Wawan Sofwan, seorang sutradara, aktor teater dengan segudang prestasi di dalam dan luar negeri menyajikan monolog “Besok atau Tidak Sama Sekali”. Monolog ini mengisahkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh presiden pertama, Bung Karno pada tahun 1945 merupakan tonggak penting dalam sejarah terbentuknya Republik Indonesia. Di dalamnya, terkandung banyak peristiwa yang menggambarkan situasi perjuangan rakyat Indonesia dalam melepaskan diri dari kungkungan penjajahan.

Baca Juga:  Parade Gong Kebyar Wanita PKB XLIII Duta Kabupaten Buleleng Tampilkan “Kebyar Susun” dan Bangli Sajikan “Serdah”

Perjuangan Indonesia tidak lepas dari tokoh-tokoh yang berjasa dan berperan aktif untuk mendeklarasikan berdaulatnya bangsa Indonesia di dunia. Pertunjukan monolog “Besok, atau Tidak Sama Sekali” ialah sebuah pertunjukan yang berdasarkan sejarah Indonesia, tokoh proklamator bangsa, dan situasi detik-detik kemerdekaan Indonesia. Di dalamnya, berkisah Bung Karno, mengingat kembali kejadian-kejadian beruntun selama tiga hari sampai pada proses menyusun naskah proklamasi. Situasi Bung Karno ketika menunggu Bung Hatta untuk membacakan teks proklamasi tidak banyak diketahui Melbourne.oleh sebagian besar masyarakat.

Dalam hal ini, monolog “Besok, atau Tidak Sama Sekali” bagian dari memperlihatkan apa saja yang terjadi dalam diri Bung Kano ketika menghadapi masa kejatuhan penjajahan Jepang. Selama tiga hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno melewati masa-masa paling berpengaruh untuk bisa berdiri sebagai Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Gesekan-gesekan dengan orang-orang terdekat. Bung Karno, yang akhirnya mempengaruhi pengambilan keputusan penting tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga kelangsungan Bangsa Indonesia.

Maudy Koesnaedi, artis senior yang telah menekuni bidang akting, sastra dan teater dari dahulu hingga saat ini menyajikan monolog “Kelopak Bunga Jatuh Di Sungai”. Monolog ini, soal cerita Perempuan Rimba yang mengibaratkan air sebagai bagian penyokong kehidupan (hutan) yang dijaga sebagaimana perempuan bagi Orang Rimba. Dalam hakikat keberlangsungan hidupnya, air yang sebagaimana memiliki arti penanda wilayah di hutan, semakin menyempit dengan berjalannya waktu. Air yang banyak didapat dari sungai, seharusnya bisa dijaga untuk diwariskan pada generasi berikutnya. Sayangnya, dalam pengisahan perempuan Rimba, air yang juga semakin langka harus tercemari oleh pikiran-pikiran dan stigma negatif orang luar terhadap orang Rimba.

Kisah Tanah Air

Maudy Kusnaedi membawakan monolog “Kelopak Bunga Jatuh di Sungai”.

Baca Juga:  Bulan Bahasa Bali, Gubernur Koster Nyurat Lontar Bersama 2020 Peserta

Muda Wijaya penyair asal Karangasem dan berdomisili di Denpasar memainkan “Pa’Mong” karya Matahari Muda. Mong bukan siapa-siapa, ia hanya tokoh rekayasa. Mong hanya belajar banyak dari lakunya sendiri dan juga belajar dari pergaulannya dengan banyak orang dengan banyak anak-anak yang sempat dekat dan diakrabinya. Ilmu yang didapatkan itu semua secara otodidak. Pergaulan demi pergaulan disebutnya sebagai lintasan. Sampai sampai seorang yang begitu dekat dan akrab memanggilnya guru.

Ia (Mong) merasa bahwa orang yang sudah dekat dan lekat lebih dari siapa-siapa. Tapi ia tak ingin disebut guru tak juga mau menyebut seorang yang belajar disebut murid. Meski setelah bertahun-tahun orang yang dekat datang dan pergi. Tapi ia selalu setia menjaga memberikan contoh dan merawat jika suatu waktu siapa saja yang dekat akan datang menemuinya. Disadari atau tidak Mong telah mengambil jalan pilihannya menjadi seorang yang menjaga (Momong), pemberi contoh (Among), juga merawat (Ngemong).

Cokorda Sawitri, penyair multi talenta ini menyajikan Karya “Ing TayDream” yang simbol sebagai pedoman menjalankan kehidupan. Setelah bosan menjadi kupu kupu, Ing Tay menjelma kembali menjadi manusia. Ini yang tentu dengan keajaiban kejadiannya kembali menjadi manusia. Sebab sebelumnya Ing Tay itu, alami kejadian dari manusia menjadi kupu kupu akibat dari cinta abadi dengan Sampik.

Kini, kembali menjadi manusia dan berada di zaman yang beda dari masa lalunya di pungut di kebon di sebuah desa wisata. Ing tay tanpa mengenalkan diri kemudian dianggap balian sakti, dan menghadapi segala macam orang yang datang menemuinya. Mimpi Ing Tay yang bosan menjadi kupu kupu tercapai. Tetapi saat menjadi manusia, dia perlu tidur dan bermimpi lagi sebagai kupu-kupu.

Baca Juga:  Gambuh Berpadu Berbondresan dari Komunitas Seni Baturenggong Mengwi

April Artison, aktor muda kelahiran di Tuban, dan tinggal di Banjarangkan Klungkung ini menyajikan monolog “Pelacur” karya Putu Wijaya. Seorang gadis desa yang mengalami pelecehan seksual oleh oknum donatur di sebuah pengungsian saat desanya terkena musibah banjir bandang, kemudian pelecehan seksual juga didapatkan dari ayah kandungnya. Kemudian ia kabur dari rumah, selain rumah tak lagi membuatnya aman dan nyaman, juga karena perekonomian keluarganya moratmarit. Sampai dia dan keluarganya tak bisa makan.

Pada akhirnya ia menjadi pelacur sebab baginya yang tak tamat sekolah SMA, hanya itu pekerjaan yang mampu membantunya menghidupi diri dan keluarganya di kampung. Namun, sayang ironisnya ketika dia jadi pelacurpun masih mengalami pelecehan seksual bahkan dari oknum polisi. Ia yang menjadi sumber “air” bagi keluarganya nyatanya hatinya hampir keruh dan penuh sayatan luka, sehingga ia melaporkan kasus pemerkosaannya ke kantor polisi. Namun, yang terjadi selanjutnya sangat jauh dari kesan keadilan. Dia, virgin malah mendapatkan perlakuan yang tak jauh dari sebelumnya.

I Kadek Rama Kharuniadeva, siswa berprestasi di tingkat daerah dan nasional ini menyajikan monolog “Cingcowong” karya Ratna Ayu Budhiarti yang disutradarai I Gede Arum Gunawan ini mengetengahkan isu sosial tentang kearifan lokal masyarakat Nusantara dalam memuliakan air dan menjaga kelestarian alam. Kearifan lokal yang terwujud dalam berbagai ritual adat kini mungkin dipandang remeh oleh generasi muda, namun semangat cinta budaya dan pelestarian air yang terefleksi dalam berbagai ritual dan tradisi Budaya perlu terus disuarakan, digaungkan dan diutamakan dalam kehidupan kita kini dan nanti. [B/*]