May 17, 2022
Kreasi

“Bulan Menari” di Masa Pandemi

Masih ingat pentas seni bertajuk “Bulan Menari“? Setelah lama vacum akibat pandemi Covid-19, ajang seni yang digelar Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu kembali digelar dengan sajian yang lebih kreatif dalam suasana penuh semangat. Jelas saja, sebab ajang seni bulanan ini dikolaborasikan dengan perayaan Hari Tari Sedunia, sehingga pelaksanaannya lebih panjang dan pengisi acaranya pun lebih banyak.

Bulan Menari digelar pada, Rabu 28 April 2021 bertempat di Wantilan ISI Denpasar dengan mementaskan 5 karya seni pertunjukan yang sangat atraktif. Ke lima karya itu merupakan sajian dari komunitas seni dari berbagai wilayah di Bali dan diperbincangan karena kreativitasnya yang sangat tinggi. Komunitas itu, yakni Naluri Manca, Sekuni, Manubada Art, Roda, dan Ogik. “Kegiatan ini sebagai wadah kreatifias mahasiswa khususnya Mahasiswa Tari di ISI Denpasar,” kata Ketua Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Sulistyani, S.Skar., M.Si.

Suasa perhelatan seni itu menjadi lebih hidup setelah usai pementasan semua komunitas tersebut. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tari secara spontan mengisi acara iti dengan diskusi yang mengupas setiap komunitas yang tampil. Diskusi yang moderator Ida Ayu Wayan Arya Satyani, S.Sn., M.Sn itu memedah karya masing-masing yang tampil serta membicarakan proses kerativitas dari masing koreografer. Penonton yang hadir diajak mengupas dan membicarakan pesan apa yang ingin disampaikan Sang Koregrager kepada audience. Termasuk pula perasaan masing-masing koreografer selama masa pandemi ini.

Mahasiswa dan para dosen memberi semangat dan dukung terhadap diskusi itu. Para dosen yang hadir, diantaranya
I Gusti Ngurah Sudibya,SST.,M.Sn, Dr. I Kt.Suteja,SST.,M.Sn, Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati,SST.,M.Sn, Ida Ayu Wayan Arya Satyani, S.Sn.,M.Sn dan Gusti Ayu Ketut Suandewi, SST.,M.Si. “Diskusi ini untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi mahasiswa kepada dosen atau sebaliknya mengenai perkuliahan,” jelas Sulistyani ini.

Bulan Menari

Dalam pementasan Bulan Menari kali ini menampilkan Komunitas Naluri Manca dengan garapan berjudul “Nandir”. Adapun sinopsisnya, yaitu jalinan harmonisasi mencapai sebuah ketenangan jiwa yang absolut yang sering disebut inisiasi jiwa. Melalui penunggalan wiraga, wirama, wirasa dalam komponen seni, pengendalian pranayama sebagai dinamika dalam perputaran sistem. Ketika mampu dikendalikan secara sistemik, maka akan memancarkan keharmonisan jiwa. Jiwa yang harmonis penuh dengan kebebasan dan ketenangan, bagaikan cahaya dalam kegelapan pada titik nol atau titik Nandir.

Komunitas Para Yogi Danceworks menampilkan FINIBUS : “The Unseen Space” karya koreografer Ogik. Dramaturg oleh I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, M.Sn serta didukung penari Riska Ayuliana, S.Sn, Ni Komang Sri Wahyuni dan Berkish. Sementara Komposer dipercayakan pada Barga dan Emon Subandi serta Jojo Kriting sebagai penata cahaya. Adapun sinopsonya, kemampuan tubuh menyesuaikan ruang ketidakpastian menciptakan batas diantara ruang di luar tubuh dan ruang personal. Ketidakbebasan ini kadang berada diposisi yang sulit diterima meskipun batas juga memiliki ketentuannya sendiri. Kita (tubuh) akan terus bernegosiasi dengan perubahan ruang dan situasi apa yang akan terjadi didepan.

Komunitas Manubada Art menyajikan karya berjudul “Tabuan Poleng”. Karya ini mengisahkan tentang perairan subak di daerah Kesiman yang mengalami kekeringan. Mengetahui hal itu Raja Kesiman pun mengutus Patih I Gusti Ngurah Made Lod untuk pergi ke Danau Beratan meminta agar dianugerahi air suci oleh Dewi Danu, dengan dibekali sepanjang Tombak Poleng “Naga Pasa” yang dibawa oleh I Gusti Ngurah Made Lod. Setelah dianugerahi oleh Dewi Danu, kemudian I Gusti Ngurah Made Lod pun menancapkan Tombak Poleng tersebut ke tebing tanah dan terbentuklah sebuah terowongan yang mengeluarkan debit air yang cukup besar. Bila mana secara fakta atau logika tanah yang tandus atau kering jika terkena air maka akan mengeluarkan aroma yang sedap dimana aroma tersebut disukai oleh rencang-rencang Dewi Danu yang berwujud Tabuan Poleng. Aliran air yang cukup besar itu mengalir hingga ke sungai di daerah Mambal yang berakibat banjir yang menggenangi daerah Mambal.

Hal ini membuat Gusti Ngurah Mambal tidak terima dan mengira semua ini ulah dari Raja Kesiman, karena hanya Raja Kesiman yang bisa berubah wujud menjadi Tabuan Poleng. Dengan penuh rasa amarah Gusti Ngurah Mambal pun ingin menyerang Kesiman. Mengetahui Kesiman akan diserang, I Gusti Ngurah Made Lod pun menyerang balik ke derah Mambal dengan dibantu oleh Tabuan Poleng, lalu terjadilah pertempuran antara I Gusti Ngurah Made Lod dengan I Gusti Ngurah Mambal. Mendengar hal tersebut Dewi Danu pun murka atas pertempuran ini dan atas nama perdamaian Dewi Danu bersabda kepada IGusti Ngurah Mambal untuk mengabdi di Danau Beratan kurang lebih selama 3 tahun dan I Gusti Ngurah Mambal harus mengakui Raja Kesiman sebagai saudara.

Komunitas Sekuni menyajikan karya yang cukup menggelitik. Adapun sibopsisnya :

Terima kasih
Kau selalu ada
Kau selalu setia
Semua keluh ku
semua kebahagiaan ku
Beraktivitas bersama
Berjalan bersama
Kau selalu menemani ku

Koreografer I Wayan Yosindra Kesuma yang didukung komposes I Putu Swarsana menamoilkan karya “Juk kul”. Karya ini dengan sinopsis, Ciptakan rintangannya, pecahkan! Demi sebuah kepuasan naluri dan nanti akan “kunikmati”. [B/*]

Related Posts