Gubernur Koster Buka Kepompong Menjadi Kupu Kupu, Pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII

 Gubernur Koster Buka Kepompong Menjadi Kupu Kupu, Pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII

Bulan Bahasa Bali VIII dibuka oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Minggu, 1 Pebruari 2026 pagi di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali. Prosesi pembukaannya dikemas dalam sebuah garapan kreatif bercerita tentang proses kelahiran kupu-kupu sebagai Mascot Bulan Bahasa Bali Tahun 2026 ini. Garapan ini pasti menarik, karena disajikan oleh puluhan seniman muda dari Sanggar Seni KOKAR Bali atau SMKN 3 Sukawati sekarang.

Ketika gender rambat dimainkan, lalu barungan gambelan tradisional ditabuh, muncul penari ulat yang mengular menebar makna. Penari, ketekung (kepompong) bergerak indah, menjadi bagian dari jiwa yang berproses. Kupu-kupu lahir, mengepakan sayap bercerita kisah biasa yang tak lumrah. Kisah, kemudian berlanjut pada sebuah Sasolahan (Pergelaran) “Japatuan ka Suargan”.

Tim Kurator, Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum mengatakan, maskot Bulan Bahasa Bali VIII adalah kupu-kupu, sehingga garapan pembukaan ini berkisah kelahiran kupu-kupu yang mengalami transformasi sempurna. Bagaimana transformasi jiwa itu menuju Maha Lepas, Maha Sempura. “Garapan ini menginformasikan, bahwa kupu-kupu itu tidak hadir dengan serta merta, tetapi berproses. Nah, kehidupan ini juga berproses,” katanya disela-sela persiapan pembukaan, Jumat 30 Januari 2026.

Jiwa untuk bisa mencapai pembebasan itu, juga memerlukan proses. Perlu banyak belajar, seperti proses kepompong menuju keheningan atau melalui sebuah pertapaan. Bertapa itu sebuah belajar, begitu dia lepas maka telah mencapai nirwana. “Ini penting bagi manusia Bali, dan manusia pada umumnya untuk selalu introspeksi diri, sesungguhnya kita lahir ke dunia ini untuk apa. Ya, gambarannya adalah kupu kupu itu,” tegasnya.

Konsep dan ide itu, kemudian ditransformasikan ke dalam sebuah garapan yang diolah oleh para seniman lokal, khususnya dari Sanggar Seni KOKAR Bali ini. Garapan yang disajikan ini telah mampu menggambarkan konsep dan ide Bulan Bahasa Bali VIII. “Garapan ini menunjukan seniman Bali sangat kreatif dalam menstransformasi ide menjadi sebuah garapan. Disitulah tantangan buat seniman,” imbuhnya.

Baca Juga:  Moon Festival: Kolaborasi Sanggar Maha Tjandra, ISI Surakarta dan SMKN 3 Sukawati

Sementara Ketua Sanggar Seni Kokar Bali, I Ketut Darya mengatakan, garapan pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII ini disiapkan serius melalui rapat-rapat dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali selaku penyelenggara. Tema dan mascot itu semua datangnya dari Disbud. “Tetapi, dalam peluncuran tema dan pengembangan dari pragmen tersebut, kami yang mengelola dan mangolah agar berbentuk garapan seni, menjadi beberapa bagian,” ucapnya.

Missal peluncuran mascot, tim penggarap Sanggar Seni KOKAR Bali berpikir matang bersama tim kurator untuk mengangkat kisah syarat pesan yang mudah dicerna masyarakat. Sebelum munculnya kupu-kupu diawali dengan berbentuk kepompong. Lalu, mulai dikembangkan menjadi tarian ulat, tari berbentuk kepongpong dan tari kupu kupu. Selain diiringi music gamelan tradisonal, garapan ini juga menampilkan teknologi (elidi) untuk memperkuat kisah tersebut. [B/puspa]

Related post