Sanggar Nong Nong Kling Pentaskan Drama Bali Modern ‘Mlantjaran ka Sasak’

 Sanggar Nong Nong Kling Pentaskan Drama Bali Modern ‘Mlantjaran ka Sasak’

MENYAKSIKAN sasolahan Drama Bali Modern bertajuk “Mlantjaran ka Sasak” dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, Jumat 20 Pebruari 2026 seakan menawarkan sajian seni yang beda. Konsep-konsepnya baru, sehingga tak hanya menghibur, tetapi mampu menyampaikan pesan-pesan.

Drama yang disajikan Sanggar Nong Nong Kling di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali itu menyajikan musik yang bukan dimainkan secara mandiri pada panggung khusus, tetapi para pemain yang sekaligus berperan sebagai pemain gamelan.

Mereka memainkan musik melalui mulut, baik melontarkan kata-kata, melantunkan tembang atau dengan celetukan-celetukan yang bermakna. Konsepnya mirip seperti sajian kesenian kecak dan genjek yang mengandalkan suara mulut sebagai iringan.

Terkadang ngongkek atau berbicara saling sahutin, sehingga memberi warna pada kisah dari setiap adegan itu. Dalam penyajiannya, mereka tampil menguasai Panggung Gedung Ksirarnawa, panggung presenium yang tergolong besar.

Maka wajar, setiap adegannya selalu ada yang mengejutkan karena menawarkan hal baru. Itu tentu mendapat apresiasi pengunjung Bulan Bahasa Bali VIII. Sejak awal hingga akhir pertunjukan, satu penonton pun tak berkurang, bahkan justru bertambah.

Drama ini mengisahkan di daerah Denbukit/ Buleleng sekitar tahun 1936 ada orang berkasta penguasa saat itu. Beliau memiliki anak bernama Ida Ayu Priya, dan memiliki punakawan bernama Luh Sari dan I Made Sarati untuk punakawan pria.

Dayu Priya senang belajar dan bersekolah, sama dengan I Made Sarati. Keduanya kemudian belajar hingga ke Jawa, sehingga keduanya berhasil pintar. I Made Sarati adalah orang Sudra atau Jaba.

Pada suatu hari sekolahnya libur, Dayu Priya jelan-jalan ke Sasak bersama Luh Sari dan Made Sarati. Itu karena perintah dari Ajiknya Dayu Priya agar Sarati ikut anaknya Dayu Priya ke Sasak. Di Sasak, Dayu Priya dan Made Sarati sudah tumbuh benih cinta. Namun, karena perbedaan kasta mereka tidak mau menyatakan cinta.

Baca Juga:  Dari Dialog Budaya BWCC. Gamelan Bali Dikenal Dunia Sejak 1928 Direkam Perusahaan Asal Jerman

“Carita ini diangkat dari Novel berbahasa Bali merupakan karya Wayan Badra atau Gede

Srawana nama di pena, Novel ini sempat dimuat di majalah Djatadjoe sekitar 1935-1939, lalu dibukukan tahun 1978,” kata Mang Ajik bersama Mang Epo selaku sutradara dari drama itu.

Sanggar asal Buleleng ini memang identik dengan pertunjukan drama gong tradisional, namun kali ini justru menyajikan sajian seni kekinian yang berhasil memkat pengunjung festival bahasa, aksara dan sastra itu.

Novel “Mlantjaran ka Sasak” itu diangkat ke dalam sebuah garapan drama modern dengan menggunakan konsep teater rakyat, seperti Lenong. Meski tampil sederhana, tetapi dalam setiap pembabakannya penuh dengan kreativitas dan inovasi yang menuai apresiasi.

Anak-anak yang dulu, ketika pementasan drama gong berperan sebagai penabuh, kini terlibat sebagai pemain. Keterlibatan para penabuh itu menjadi solusi, agar memenuhi koita pementasan yang berjumlah 41 orang.

Mang Ajik mengaku, sajian drama modern ini mirip, seperti kesenian genggong dan kecak, hanya saja dipadu dengan narasi. Hal itu dipadu agar pesan-pesan itu sampai kepada penonton. “Pertujukan ini murni menampilkan koreografi dan alur cerita yang utuh,” ujarnya.

Karena itu, dekorasi menjadi bagian terkecil dari penyajiannya. Dekosasi dibuat minimalis, seperti menggunakan latar dari kain hitam, level, dan sepeda untuk mendukung adegan agar lebih reel dan nyata.

Level itu memiliki multi fungsi, yakni bisa menjadi kapal, menjadi kamar khusus untuk adegan di penginapan. “Itu karena kami ingin menggarap pertunjukannya. Kami ingin pertunjukan ini dinamis dan tidak bertele-tele. Artinya, mengandalkan kekuatan dari para actor, sehingga meminalisir penggunaan property yang hanya sebagai simbol-simbol saja,” ungkapnya.

Drama ini menceritakan masalah sistem kasta di Bali yang ditentang oleh orang-orang yang berkasta. Padahal, orang-orang di Bali itu menghormati hak dasar sebagai manusia yang memiliki hak asasi.

Baca Juga:  Ketut Lanus Garap Cak Perkusi Lahir dari Sebuah Tantangan

Seorang jaba cinta terhadap orang berkasta itu sah-sah saja, dan tidak ada sekat. “Dalam drama ini, kami ingin tegaskan, sekarang ini penting ada rasa keadailan. Semua orang berhak mendapat pendidikan, kesehatan, dan sama dihadapan hukum. Itu sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan dalam sasolah drama ini,” jelasnya.

Ilmu pengetahuan itu sangat berharga sekali, ketimbang berkutat pada kasta itu sendiri. Ilmu pengetahuan itu lebih penting dari memperdebatkan kasta itu sendiri. Ilmu pengatahuan itu berharga, siapapun boleh mencari ilmu pengetahuan. “Dulu saat novel ini dibuat masih kental-kentalnya kasta itu dihormati di Bali,” ceritanya.

Ketua sanggar yang juga sutradara, Nyoman Suardika alias Mang Epo mengatakan, drama ini lebih banyak menampilkan pemain-pemain muda. Karena drama ini digarap seperti kolosal yang harius 41 orang, maka mengambil sekaa tabuh drama itu.

“Kami tidak memnggunakan alat music gamelan, juga sebagai upaya meminalisir pembawaan property jauh-jauah ke Denpasar, maka membuat music dengan lirik sesederhana mungkin, namun tetap bisa menyampaika pesan,” ucapnya.

Nong Nong Kling yang identic dengan drama gong, maka kali ini meresa ada tantangan menyajikan drama modern. “Kebetulan anak-anak sanggar ini tak hanya bermain drama gong, tetapi sudah ada yang pernah ikut di teater di kampus ataupun luar kampus, sehingga sudah mempunyai bibit-bibit drama modern tersebut, maka dari itu kami tidak merasa ada tantangan yang serius. Mudah-mudahan masyarakat seniman modern bisa menikmatinya, harapnya.

Mang Epo mengatakan, dari cerita ini tentu ada manfaatnya baik untuk pemain itu sendiri ataupun penonton. Pertama jelas pelestarian Bahasa Bali, karena di puri atau geria sekarang ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, sehingga ini ajang untuk pelestarian budaya.

Baca Juga:  Ida Nyoman Sugata Dalang dan Penulis Sastra dari Abang

Kedua ini suatau agak kritikan dimana cerita ini kesetaraan. Artinya tidak memperdebatkan kasta itu. Ketiga karena ini ajang Bulan Bahasa Bali, maka secara otomatis anak-anak dipakasakan untuk belajar Bahasa Bali, Sastra dan termasuk aksara. [B/darma]

Related post