Tan Lioe Ie, Penyair yang Menggubah Puisi-Musik

 Tan Lioe Ie, Penyair yang Menggubah Puisi-Musik

Tan Lioe Ie sebagai salah sati penyair yang menerima penghargaan Bali Jani Nugraha dari Pemerintah Provinsi Bali. Penghargaan Bali Jani Nugraha di bidang sastra dan sebagai penyair itu diberikan serangkaian dengan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV, Tahun 2022 lalu di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 23 Oktober 2022. Tan Lioe Ie, memiliki distribusi yang cukup pesat dalam pengembangkan sastra khususnya puisi lewat puisi-musik, disamping jumpa puisi lewat buku.

Tan Lioe Ie adalah seorang penyair, performer, dan pegiat puisi-musik. Sebelumnya ia kerap menggubah puisi-puisi Umbu Landu Paranggi, juga menggubah puisi ciptaannya sendiri untuk menjadi puisi-musik (di Indonesia lazim disebut musikalisasi puisi). Awalnya, ia biasa tampil sendiri dengan hanya menggunakan gitar akustik. Pengalamannya belajar gitar klasik dari Sodiq dan Arthur Sahelangi, memberi sentuhan teknik gitar klasik pada permainan gitarnya. “Saya menggubah puisi Umbu Landu Paranggi ke musik sebagai apresiasi atas kesetiaan Umbu terhadap Puisi,” katanya.

Kemudian dia menyadari cara ini bisa menjadi cara untuk mencapai segmen penikmat selain penikmat puisi yang “konvensional” melalui baca buku. Itu terbukti berbagai kalangan serta lintas usia dari anak-anak, bahkan bisa menikmati puisi yang dihadirkan dalam bentuk puisi-musik. Meski bisa dan kerap tampil secara solo, penjiwaannya saat membawakan puisi-musik begitu kuat. Maka tak aneh, ketika Tan Lioe Ie membawakan puisi-musik dan atau membaca puisi, penonton hanyut dalam menikmati vokal, bahasa tubuhnya, yang khas, juga permaianan gitarnya yang mempesona.

Menariknya, cara Tan Lioe Ie membawakan puisi itu, tidak hanya diapresiasi di dalam negeri, juga di luar negeri. Hingga dalam Tasmnia Writers’ & Readers’ Festival oleh Direktur Tasmania Writers Center, Sesi tampilnya ditambahkan dengan persetujuan Tan Lioe Ie. Saat tampil, juga pernah terjadi permintaan tambahan dari penonton, sehingga MC – nya mengatakan: “The first on call in the festival” (permintaan tambahan pertama dalam festival).

Selain diundang sebagai peserta Festival, Tan Lioe Ie juga memenangkan untuk menjadi “Writer in Residence” bersama Novelis Perancis Merrie Gaullis dan beberapa penulis Australia. Menurut Heather Curnow saat itu, mungkin Tan Lioe Ie yang pertama dari Asia yang menjadi Writer in Residence di Tasmania. Sebagai Writer in Residence, ada sesi Tan Lioe Ie memberikan workshop menulis puisi di Tasmania.

Tan Lioe Ie juga pernah terlibat dalam pembuatan “buku dengar” atas Cerpen-cerpen Belanda yang disiarkan radio Belanda seksi Indonesia. Selain menulis karya asli, Tan Lioe Ie juga melakukan terjemahan ke bahasa Indonesia atas puisi penyair dari beberapa negara, dari versi Inggrisnya. Tan Lioe Ie, pada mulanya menekuni musik, menjadi gitaris pertama pada Band Sekolahnya SLUA1 Saraswati Denpasar, dan sempat menjadi gitaris Group Band Ariesta, Denpasar. Selain band Goudeamus saat dia Kuliah Arsitektur di Universitas Jakarta.

Baca Juga:  Lomba Musikalisasi Puisi Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana VI. Pemenangnya: Sakura, Komunitas Budang Bading Badung, Teater Solagracia dan Lokatraya

Pria yang lahir di Denpasar, Bali, 1 Juni 1958 ini, merupakan seorang penyair Indonesia terkenal asal Bali. Ia, sebagai penyair pertama Indonesia yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa dalam puisi bahasa Indonesia (menurut Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah wawancara di harian Kompas). Meski karya-karyanya begitu kental dengan nuansa etnik, puisi-puisinya tetap mempunyai daya pikat untuk berbagai kalangan.

Jika ia tampil, para penggemar sastra, utamanya pecinta puisi-musik umumnya datang menyaksikan. “Saya mulai menulis puisi bukan sejak kecil, tetapi setelah diminta menjadi juri pembanding dari bidang lain oleh teman-teman Sastrawan dari Sanggar Minum Kopi (SMK) untuk lomba baca puisi SMK Tahun 1989. Penyair Frans Nadjira memberanikannya untuk menerima tawaran itu. Pada akhir tahun itu juga, saya mulai menulis puisi,” paparnya polos.

Berawal dari kesediaannya menjadi juri pembanding dari disipilin lain seperti disebutkan di atas, Tan Lioe Ie mampu merasakan pesona puisi yang semakin hari, semakin membuatnya akrab dengan puisi, yang mendorongnya menulis puisi. Pada periode awalnya ia dibimbing Penyair Frans Nadjira, dengan metode yang disebut Frans sebagai “Sparing Partner”, metode yang juga diterapkan di SMK dan dibawa ke Jogja oleh Raudal Tanjung Banua dalam Komunitas Rumah Lebah yang didirikannya.

Menurut Tan Lioe Ie, awal menggubah puisi-musik karena “dikompori” Hartanto yang menyanggupi syarat untuk mencarikan penyanyi dan musisi untuk membawakan gubahan Tan Lioe Ie, sebagai syarat tersebut. Apa yang disanggupi ternyata tidak dipenuhi Hartanto. Hikmahnya, gubahan puisi-musik yang lahir itu dibawakan Tan Lioe Ie secara tunggal. Gubahan itu, akhitnya sempat direkam TVRI Denpasar dalam rangka membuat feature tentang Umbu Landu Paranggi. “Saat itu, saya bermukim di Singaraja, dan berkat jasa Pak Sunaryono Basuki Ks yang mengenalkan dengan seorang giraris pria dan dua backing vokal perempuan, ditambah Alit Jatendra asal Denpasar, pada biola yang sebelumnya sudah saya kenal,” ceritanya.

Tan Lioe Ie menamatkan pendidikan SD hingga SMA di Kota Denpasar. Ia pernah kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Jakarta, namun tidak tamat. Ia lulus S1 dari Fakultas Ekonomi jurusan Managemen, Universitas Udayana, Bali. selaian menulis puisi, ia juga menulis Cerpen dan Esei. Kegiatannya dalam menulis, tetap berlanjut.

Tan Lioe Ie

Puisi-puisinya dimuat, dalam lebih dari 30 antologi bersama, juga di berbagai media dalam dan luar negeri, seperti Bali Post, Berita Buana, Kompas, Suara Merdeka, Media Indonesia, Horison, Jurnal CAK serta di majalah dwi bahasa (Indonesia Inggris, yang dirintis Heather Curnow dan Nurhidayat Poso) Coast Line, lalu Paradox yang dirintis Heather Curnow, di Lebanian, Perancis, Orientirungen Jerman. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Bulgaria, Mandarin, Belanda, Jerman, Perancis. Tan Lioe Ie pernah diundang ke berbagai acara sastra di berbagai daerah di Indonesia dan ke luar negeri, seperti Tasmania, Suriname, Afirka Selatan, Belanda, Perancis, Jerman, dan Belgia.

Baca Juga:  Wimbakara Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2021

Tan Lioe Ie bersama teman-temannya di Sanggar Minum Kopi (dilanjutkan Yayasan CAK) menerbitkan jurnal CAK, di mana dia juga menjadi salah seorang editornya. Keistimewaan jurnal CAK adalah, pada setiap edisi menghadirkan Local Genius, al. I Gst Nyoman Lempad, Geruh, hingga yang muda Wayan Gde Yudane. Ini memberi warna bagi Indonesia yang kerap mengabaikan “tokoh daerah” dalam liputan di masa itu.

Tan Lioe Ie juga pernah menjadi editor tamu dan editor majalah dwi bahasa Coast Line dan Paradox, Kurator UWRF dan Toya Bungkah Literary Festival. Ia juga pernah diwawancarai dan direkam baca puisinya oleh Radio ABC, Australia bekerjasama dengan radio BBC, London untuk disiarkan di negara-negara berbahasa Inggris di luar kedua negara asal radio tersebut. Saat di Suriname, Tan Lioe Ie juga diwawancarai radio setempat dan menyanyikan Puisi Umbu Landu Paranggi yang digubahnya menjadi puisi-musik, sambil bermain gitar.

Buku Puisi tunggal pertamanya, Kita Bersaudara, versi Inggrisnya We Are All One, terjemahan Dr Thomas Hunter, Buku Puisi kedua yaitu Malam Cahaya Lampion (Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2005), versi Belanda Nacht Van De Lampionnen (Uitgeverij Conserve, The Netherlands, 2008) terjemahan Linde Voute. Buku tunggal ketiga, yakni Ciam Si, Puisi-puisi Ramalan (Buku ArtI, 2015) versi Perancis Poemes divinatoires (Pustaka Ekspresi, Bali, 2017), terjemahan Elizabeth D. Inandiak.

Selain buku Puisi, Tan Lioe Ie dan kawan-kawannya juga melahirkan Album puisi-musik, yaitu album puisi-musik Kuda Putih versi Akustik yang terdiri dari 8 Puisi karya Umbu Landu Paranggi dan 2 puisi karya Tan Lioe Ie yang digubahnya menjadi Musik. Puisi-musik hasil gubannya itu, biasa dibawakan Tan Lioe Ie baik secara Tunggal dan bersama kawan dan kawan-kawannya dalam acara sastra serta acara-acara lainnya. Album puisi-musik kedua, yaitu EXORCISM yang khusus menggubah puisi-puisi Tan Lioe Ie yang dibawakan bersama kawan-kawannya dalam band Bali Puisi-musik. Sedangkan Album puisi-musik Kuda Putih Remastered terdiri dari 3 puisi Umbu Landu Paranggi dan 3 Puisi Tan Lioe Ie dibawakan juga oleh Bali PuisiMusik.

Selain media yang disebutkan diatas, Puisi Tan Lioe Ie juga dimuat di Bali The Morning After, Antologi Menagierie 4, Perjalanan, Mimbar Penyair Abad 21, Bonsai’s Morning, “Living Together”, Tafsir dalam permainan, Utan Kayu International Literary Biennale, dan banyak lagi yang lainnya. Puisi Tan Lioe Ie juga pernah dibacakan dalam program Poetica radio ABC, Australia. Menurut Mike Ladd dari radio ABC, saat itu Tan Lioe Ie adalah orang ketiga setelah Rendra dan Goenawan Mohammad dari Indonesia yang disiarkan di program Poetica radio ABC.

Baca Juga:  Tampil di PKB ke-44, Bukti Gambuh Padangaji Masih Lestari

Tan Lioe Ie banyak menghasilkan puisi berkualitas. Puisi-puisi itu dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku. Sebut saja, diantaranya, buku Malam Cahaya Lampion masuk ke dalam “long list” Katulistiwa Literary Award, buku Ciam Si masuk 10 besar dalam penghargaan buku Hari Puisi. Sementara Puisinya Tangis Musim Semi Azerbaijan memenangkan Lomba Cipta Puisi Nasional, Sanggar Minum Kopi, dan Puisinya Abad yang Luka memenangkan Taraju Award, dalam lomba nasional yang diadakan Yayasan Taraju, Sumatera Barat.

Dalam urusan sastra dan musik, Tan Lioe Ie memang serius. Meski terlihat “santai”, tetapi kreativirasnya dalam menulis sangat tinggi. Hidupnya, dekat dengan dunia sastra, sehingga dari “gesekan” dengannya ikut berperan bagi lahirnya generasi Penyair lebih muda. Termasuk dalam memotivasi lewat workshop puisi-musik. Hal itu dilakukan setiap tahun bekerjasama dengan Balai Bahasa Bali, sehingga puisi-musik dicintai dan dipahami siswa beserta guru pembinanya, di berbagai daerah di Bali. “Saya juga pernah memberi workshop puisi-musik di Banggai, Banjarbaru, Jakarta,” imbuhnya.

Tan Lioe Ie bersama kawan-kawan kelompok Akustiknya (personalnya bisa berubah jumlah dan orangnya saat “Live”), selain di Bali juga pernah pentas di Yogyakarta, Cirebon, Tasikmalaya (dalam rangka peluncuran album Kuda Putih versi Akustik), dan di Badan Bahasa (Dulu Pusat Bahasa) Jakarta. Bersama band Bali PuisiMusik, juga pernah pentas di Jakarta Convention Center, Panggung Kedai Lalang, Jakarta, Festival Seni Surabaya, Pekan Seni dan Budaya Aceh, Temu Sastrawan Indonesia (TSI) di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, TSI di Ternate, dan Maluku Utara.

Tan Lioe Ie ternasuk satu dari sekian seniman Indonesia yang cukup banyak diliput media Luar Negeri. Bahkan sebuah tulisan di Media Suriname tentangnya, berjudul De Leeuw Van Bali (Singa dari Bali), “julukan” yang membawa nama Bali ini juga disertakan pada cover buku Malam Cahaya Lampion versi Belanda Nach Van De Lampionnen. Tentu saja, pengantarnya atas permintaan penerbitnya serta disetujui Tan Lioe Ie. Tulisan itu dibuat oleh Cynthia Mc Leod, Sastrawan asal Suriname, Putri Presiden pertama Suriname. Selain pernah jumpa langsung dengan Tan Lioe Ii di Suriname, ia juga ikut dalam program penulisan cerita yang melibatkan penulis Afrika Selatan, Belanda, Curacao. Tulisan ini dimuat bersambung. [B/*]